Ilustrasi Diskusi Mahasiswa. Foto-Ahmad Husen

PROFESI-UNM.COM– Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengatakan ada yang mendidik mahasiswa menjadi radikalis dan ekstremis di luar kampus. Hal itu disampaikan dalam pertemuan dengan MRPTNI di Solo, Senin (13/9), disiarkan kanal Youtube Sekretariat Presiden pada Selasa (14/9).

Jokowi memberikan wejangan kepada para rektor untuk memperhatikan mahasiswa bukan hanya di dalam kampus tetapi juga ketika berada di luar.

“Di dalam kampus dididik mengenai Pancasila kebangsaan, di luar kampus ada yang didik mahasiswa kita jadi ekstremis garis keras, jadi radikalis garis keras,” ungkap Jokowi.

Sejalan dengan hal itu, Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda menyetujui imbauan dari orang nomor satu di Indonesia itu. Kata Syaiful banyak kasus menunjukkan jika para mahasiswa sangat rentan terpapar pemikiran radikal, intoleran, dan suka mengkafirkan orang yang berbeda paham.

“Saya menilai apa yang disampaikan Presiden Jokowi di hadapan forum rektor masih menemukan relevansinya karena ancaman penyebaran paham radikal di kalangan mahasiswa memang ada buktinya. Kami berharap warning tersebut benar-benar menjadi atensi para rektor dan civitas akademika di masing-masing perguruan tinggi,” ujar Ketua Komisi X Syaiful Huda, Rabu (15/9).

Mengenai penyebaran paham radikal di kampus, Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Kajian Ilmiah Mahasiswa Bertakwa (LKIMB) Universitas Negeri Makassar (UNM), Syahrul Gunawan turut angkat bicara mengenai paham radikalisme di kampus. Menurut Syahrul penyebaran paham radikalisme di lingkup UNM hingga kini belum pernah Ia dapati tetapi tidak menutup kemungkinan ada namun masih dalam skala perorangan.

“Sejauh ini, yang kuliat tidak ada dan semoga saja ini sesuai dengan fakta di lapangan. Karena kalau secara terang-terangan memang belum ada, mungkin saja ada tapi masih dalam skala perorangan belum menjadi organisasi,” ujarnya saat diwawancara via Whatsapp, Selasa (28/9).

Syahrul juga mengatakan untuk mendeteksi paham radikalisme di kampus, birokrasi perlu memperhatikan isu radikalisme di kampus walaupun belum nampak. Perlu juga kerja sama antara mahasiswa dan birokrasi.

“Sebenarnya disini diperlukan juga sinergitas antara mahasiswa dengan birokrasi. Semisal bekerja sama dengan lembaga terkait untuk mengadakan seminar ataupun sosialisasi,” tuturnya. (*)

*Reporter: Annisa Puteri Iriani