Mahasiswa FIK UNM Wakili Sulsel di PON XX Papua 2021, Ria Hasyriani Hasyim. Foto: Ist.

PROFESI-UNM.COM – Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK), Ria Hasyriani Hasyim lolos wakili Sulawesi Selatan di perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021. Dara cantik kelahiran Larompong Selatan Kabupaten Luwu ini mengaku sudah tertarik olahraga sejak kecil.

Ria bercerita dahulu semasa kecil, Ia sering ikut ayahnya main bulu tangkis. Awalnya Ia hanya menonton tapi kemudian Ria kecil mulai ikut berlatih.

“Dari kecil saya dibawa terus sama bapak ku ke tempat main bulu tangkisnya, jadi biasa saya dilatih maka juga main bulutangkis,” ujar Ria.

Menginjak Sekolah Dasar (SD), Ria mulai tertarik dengan pencak silat karena melihat kakaknya yang menekuni bidang tersebut. Di tahun 2015, Ria yang kala itu duduk di kelas tiga Sekolah Menengah Pertama (SMP) ikut Kejurda Pelajar di Makassar. Kejuaraan ini menjadi pertandingan pertama Ria selama menjadi pesilat.

“Kejurda Pelajar di Makassar, itu adalah pertandingan pertamaku selama jadi pesilat, dan Alhamdulillah dapat juara dua se-Sulsel,” katanya.

Kemenangannya di Kejurda, membuka jalan bagi karir Ria di bidang olahraga. Ria mendapat tawaran masuk Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP).

“Pelatih PPLP yang pantauka waktu tanding, menurut dia saya layak masuk di PPLP. Kemudian saya di masukkan ke sekolah di SMA Keberkatan Olahraga, sekolah khusus atlet memang yang asrama ditanggung makan dan uang sakunya,” jelasnya.

Kemudian, 2018 Ria ikut Porda di Pinrang mewakili Kabupaten Luwu dan menyabet juara pertama. Berkat prestasinya ini Ria sampai di tahap ini yaitu mewakili Sulsel di PON XX Papua 2021.

“Awalnya saya ikut Porda 2018 di pinrang mewakili Luwu, dan Alhamdulillah juara satu. Lanjut ada seleksi untuk menuju Pra PON antara juara satu dan dua Porda sama juara satu dan dua Kejurda dewasa. Dan Alhamdulillah saya lolos ke Pra PON. Lanjut lagi di Pra PON saya juara dua dan yang lolos ke PON itu juara satu, dua, dan tiga. Jadi saya salah satunya yang lolos ke PON di kelas ku (D putri 60-65kg),” jelasnya.

Ria mengaku untuk sampai di tahap ini, tidaklah mudah banyak suka duka yang Ia lalui. Ia juga membeberkan keluarganya sangat mendukung dengan pilihan karirnya.

“Suka dukanya banyak, sukanya karena saya bisa buat bangga orang tuaku, banyak kenalan dan punya penghasilan sendiri. Untuk dukanya kadang diremehkan, cedera bahkan sering menangis karena capek latihan atau pelatih pakai suara tinggi kalau kasih instruksi,” kata Ria.

Terakhir, Ria berpesan untuk mahasiswa agar tak mudah menyerah karena Allah maha melihat.

“Tetap ki semangat, jangan pernah bosan dan jenuh untuk latihan, bangkit kembali kalau jatuh, Allah tidak pernah buta, Allah liat selalu perjuangan ta,” tuturnya.(*)

*Reporter: Annisa Puteri Iriani