Buku Psikologi Agama oleh Ahmad Razak dkk, (Foto: Ema Humaera-Profesi).

PROFESI-UNM.COM – Spiritual memang bukan agama demikian juga sebaliknya, namun diantara keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Dalam perspektif islam disebutkan bahwa manusia lahir telah membawa potensi spiritual (baca fitrah) dan potensi inilah yang kerap muncul dalam jiwa manusia untuk mencari arti dan makna sebuah kehidupan.

Bahwa setiap manusia sadar akan adanya satu super power yang melebihi dari segala yang ada. Super power inilah yang dianggap sebagai asal segala yang ada sampai akhirnya manusia beragama (bertuhan) kepada yang dianggap kuasa, dan hakikat dari beragama adalah ketundukan, ikatan, dan kepasrahan, keterkaitan kepada yang absolute. Jadi agama dan spiritual adalah hal yang terintegrasi dalam diri manusia dan tidak dapat terpisah diantara keduanya (Razak,2014).

Agama mengajarkan dan memberikan petunjuk bagi pemeluknya dalam menjalankan prosesi atau ritual keagamaan, khususnya berkaitan dengan mengasah jiwa dan hati manusia untuk mengenal Tuhannya dan proses tersebut sering kali dikaitkan dengan spiritual (Muslimin, 2013).

Menurut E. B. Taylor agama sebagai kepercayaan sebagai wujud spiritual, sedangkan George Galloway merumuskannya agama sebagai keyakinan manusia pada sebuah kekuatan yang melampaui dirinya, kemana ia mencari pemuasan kebutuhan emosional dan mendapatkan ketenangan hidup yang diekspresikan dalam bentuk penyembahan dan pengabdian (Gazali, 2004).

William Irwin Thomson, menyebutkan bahwa spiritual bukan agama. Namun demikian ia tidax dapat dilepaskan dengan nilainilai keagamaan oleh karena ada titik singgung antara spiritual dan agama (Rakhmat, 330). Menurut lan G. Barbour (Asy’arie, 1999) menyebutkan bahwa spiritualitas dapat diartikan sebagai Suatu pengalaman keagamaan. Menurutnya ada enam langkah pangalaman keagamaan yang terjadi di berbagai tradisi agama dunia, antara lain:

  1. Pengalaman diri terhadap yang suci;
  2. Pengalaman mistis tentang adanya kesatuan, yaitu Tuhan dan Individu;
  3. Pengalaman reorientasi transformative, contoh dari perpisahan menjadi pertemuan;
  4. Keberanian menanggung derita;
  5. Pengalaman kewajiban moral;
  6. Pengalaman adanya keteraturan dan kreativitas terhadap alam.

Menurut Pargament (2009) Spiritualitas adalah jantung dan jiwanya agama. Spiritualitas merupakan unsur pencarian yang sangat sacral dan paling sentral dalam agama. Sedangkan agama adalah konstruksi dalam penelusuran spiritual untuk mencari objek tertentu yang sangat penting. Menurutnya dalam ilmu psikologi fenomena sakral spiritual cenderung terabaikan dan lebih ke motif dan dorongan psikologis, sosial, biologis dan evolusi lainnya. Padahal pencarian yang sakral ini tidak dapat direduksi oleh proses lainnya. la ada dan terus bereaksi serta beraksi dalam mencari objek, makna dan nilai.

Pandangan Paragment tersebut dapat dapat dicontohkan jejak-jejak spiritual Ibrahim saat mencari siapa Tuhannya. “Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam. Dia berkata: Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: Inilah Tuhanku.

Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”. (QS. 6:76-78).

Jejak-jejak spiritual Ibrahim tersebut merupekan satu bukti nyata bahwa spiritual merupakan satu potensi tersendiri dalam diri setiap individu manusia, intrinsik dan akan terus mencari sumber kebenaran, kedamaian, ketenangan, kebahagiaan atau apapun namanya.

Menurut Rossiter (2010a) spiritualitas secara tradisional terkait erat dengan agama dan religiusitas. Religiositas adalah spiritualitas yang secara jelas merujuk pada agama”, dan juga religiositas dapat dipahami sebagai ukuran perilaku keagamaan seperti: kehadiran di masjid, di gereja, frekuensi doa, keterlibatan dalam komunitas iman ataupun kegiatan keagamaan lainnya (Rossiter, 2010b).

Bradford (1999) mencoba membangun sebuah titik temu antara pemahaman sekuler dengan kaum agama dengan menambahkan aspek ketiga dari spiritualitas yang ia namakan spiritualitas praktis (practical spirituality).

Ketiga aspek tersebut meliputi:
a. spiritualitas manusia (human spirituality) yaitu, aspek-aspek yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan manusiawi, yaitu untuk cinta, keamanan, refleksi, pujian dan tanggung jawab;
b. spiritualitas renungan (devotional Spirituality) yaitu, kecenderungan manusia untuk respons sesuatu dengan keterlibatan agama; dan
c. spiritualitas praktis (practical spirituality) yaitu, perpaduan antara spiritualitas manusia dan renungan yang mewakili keterlibatan spiritualitas gabungan dengan kehidupan dan keberadaan sehari-hari, termasuk kontribusi manusia pada masyarakat dan lingkun di mana ia hidup.

Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa keterkaitan agama dan spiritual tidak dapat dinafikkan, keduanya menyatu dalam nilai-nilai moral yang menjadi inti ajaran setiap agama. Kepercayaan pada sesuatu yang lebih besar dari dalam diri manusia adalah kekuatan yang menyatukan agama dan spiritualitas.

Kekuatan yang lebih besar ini bisa menjadi Tuhan, Allah, dewa, atau kepercayaan pada kekuatan prima di alam semesta. Kekuatan yang lebih besar telah menempatkan manusia di alam semesta ini. Tugas manusia adalah untuk menemukan tujuan hidup atau untuk menjalani tujuan hidup sebagaimana yang telah didefinisikan.

Meski diakui bahwa pada sisi lain sekuler beranggapan bahwa orang dapat menjadi spiritualis tanpa beragama, namun semua dapat setuju bahwa dimensi ‘spiritual’ berasal dari kemanusiaan yang terdalam. Kaum atheis dan_ sekuler menemukan adanya ekspresi dalam aspirasi, kepekaan moral, kreativitas, cinta, persahabatan, respons terhadap keindahan alam dan manusia, upaya ilmiah dan artistik, penghargaan akan keindahan alam, pencapaian intelektual dan aktivitas fisik, mengatasi penderitaan dan penganiayaan, cinta tanpa pamrih, pencarian makna dan nilai-nilai yang digunakan untuk hidup.

Spiritual kaum sekuler ‘berusaha menemukan makna dan tujuan dalam pengalaman manusia secara universalJuga dan juga dipahami berkaitan dengan keutuhan, keterhubungan atau hubungan dengan diri sendiri, dengan orang lain, dengan alam atau dunia, tetapi tidak harus dengan Tuhan.

Tulisan ini dikutip dari buku “Psikologi Agama” oleh Ahmad Razak, dkk. halaman 19-22, diterbitkan oleh Badan Penerbit UNM. (*)

*Reporter: Ema Humaera