Buku Filsafat Administrasi Pendidikan oleh Suparlan Suhartono, (Foto: Nur Qoriah Syafitri).

PROFESI-UNM.COM – Secara filosofis pendidikan adalah persoalan pencerdasan yang mencakup aspek-aspek spiritual, intelektual dan moral secara padu. Sedangkan pencerdasan adalah seluruh tahapan proses belajar yang memerlukan sistem tata kelola secara terencana dan terjadwal. Hal itu berarti pendidikan adalah masalah persekolahan. Di sekolah, kegiatan utamanya adalah pembelajaran secara terencana, terprogram, terjadwal, metodis dan sistematis. Oleh karena itu, dapat ditegaskan bahwa pendidikan adalah persoalan pembelajaran di sekolah.

Sebagai gambaran dalam hubungannya dengan penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran di sekolah, beberapa pokok pikiran tentang arti, posisi dan fungsi administrasi pendidikan berikut ini nilai penting dan perlu dipahami.

  1. Administrasi pendidikan adalah suatu sistem tata pengaturan untuk mengintegrasikan semua jenis dan bentuk sumber daya yang terkait dengan efektivitas pembelajaran menuju pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. Secara yuridis (Pembukaan UUD `45), ditegaskan bahwa tujuan pendidikan nasional NKRI adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”.
  2. Berdasarkan tujuan tersebut, perlu ditentukan suatu bentuk sistem pendidikan nasional berspirit “otonomi pendidikan”. Mengapa? karena realitas sosial bangsa Indonesia bersifat multikultural. Berbasis sistem otonomi pendidikan nasional, diharapkan proses manajerial pembelajaran di setiap sekolah bisa berjalan secara intensif, efektif, dan efisien.
  3. Berbasis otonomi pendidikan untuk mendorong efektivitas pendidikan multikultural, selanjutnya diperlukan perencanaan pendidikan nasional yang jelas sebagai penjabaran tujuan pendidikan nasional. Perencanaan pendidikan tersebut, perlu dijabarkan dalam bentuk program-program yang konkrit dan terstruktur. Untuk pelaksanaannya perlu didukung sistem pengorganisasian, koordinasi yang akurat berbasis “right man on the right place”. Hal itu pun perlu ditopang sistem kepengawasan yang intensif agar pembelajaran di sekolah bisa berjalan efektif dan efisien dalam mencapai sasaran multikompetensi sumber daya manusia, sebagai kebutuhan nasional yang mendesak.
  4. Sebagai konsekuensinya pendidikan sekolah perlu diperkuat fungsi dan perannya sebagai pembaharuan kehidupan sosial (sosial innovator) menuju pencapaian tujuan nasional di masa depan.

Keempat pokok pikiran administrasi pendidikan tersebut, perlu difungsikan sebagai landasan pengembangan manajemen pendidikan dan pembelajaran efektif di sekolah. Di samping itu, masih juga perlu mempertimbangkan latar belakang baik psikologis, antropologis dan sosiologis masyarakat lingkungan sekolah. Karena, pada hakikatnyanya, substansi baik pencerdasan spiritual, intelektual dan moral sebagai tujuan pendidikan pada akhirnya adalah proses pembinaan perilaku yang mengakar pada kearifan lokal menurut aspek sosial psikologis, antropologis dan sosiologis.

Agar proses itu bisa berjalan, diperlukan perencanaan pendidikan dan pembelajaran yang jelas dan bersifat menyeluruh. Selanjutnya, agar perencanaan itu dapat dikerjakan, maka diperlukan sistem manajemen pelaksanaan efektif dan efisien. Keseluruhan sistem mulai dari penyusunan, perencanaan pengaturan seluruh langkah proses pelaksanaan sampai membuahkan hasil itulah “administrasi pendidikan”.

Jadi, terkait dengan tujuan pendidikan bisa dipahami bahwa administrasi pendidikan berfungsi sebagai “jalan poros” menuju pencapaian tujuan itu. Jika demikian halnya, maka ruang lingkup administrasi pendidikan jelas mencakup seluruh bidang ilmu kependidikan yang mengakar pada realitas sosial baik psikologis, antropologis maupun sosiologis.

Oleh karena itu, terkait pendidikan sekolah administrasi pendidikan berfungsi menentukan: a) bentuk susunan dan isi perencanaan, b) penyusunan program, pengaturan dan pengelolaan pelaksanaannya, c) penyusunan pengorganisasian dan koordinasi yang tepat, agar supaya d) sistem kontrol terhadap pelaksanaan berjalan efektif kearah evaluasi setiap langkah proses pembelajaran menuju tujuan pendidikan.

Jika fungsi administrasi pendidikan itu dilaksanakan secara efektif, maka niscaya proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah mampu membuahkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dalam arti ahli, kreatif, dan produktif berkeadilan. SDM demikian, disebut manusia terdidik.

Kemudian, apa yang menjadi persoalan selanjutnya adalah seberapa akurat pemberdayaan fungsi unsur fungsi administrasi pendidikan di sekolah. Sebagai jalan pencerdasan, tata kelola efektif pembinaan peserta didik adalah agar di kemudian hari menjadi generasi cerdas yang berwawasan hidup bersikap kreatif dan bermoral produktif berkeadilan.

Aspek wawasan hidup, menunjuk pada kecerdasan yang komponen berupa pandangan hidup yang mencakup pengetahuan tentang asal mula hidup dan tujuan kehidupan ini. Sedangkan asal mula dan tujuan hidup ini, pada hakekatnya adalah satu substansi. Dari mana asalnya, itulah tujuannya. Aspek sikap, kecerdasan yang kompeten berupa penguasaan bidang kehidupan, tercermin dalam keahlian bidang keilmuan tertentu. Kompetensi ini berfungsi sebagai sumber kreativitas yang bisa membentuk sikap hidup, mengerti apa yang harus dilakukan di sepanjang kehidupan ini.

Setiap kreativitas dikembangkan sesuai dengan tuntutan hidup, menurut dasar tujuan hidup. Sedangkan aspek perilaku, lingkup kompetensi menunjuk pada kecakapan dan keterampilan berproduksi secara adil kehidupan ini. Jadi, generasi dimaksud adalah generasi emas dengan kompetensi dalam berbagai kecakapan dan keterampilan berproduksi yang bermanfaat bagi pencapaian tujuan hidup.

Tulisan ini dikutip dari buku “Filsafat Administrasi Pendidikan” oleh Prof. Suparlan Suhartono, M.Ed., Ph. D. halaman 14-16. Diterbitkan Badan Penerbit UNM tahun 2015. (*)

*Reporter: Nur Qodriah Syafitri/ Editor: Sumaya Nursyahidah