Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, (Foto: Nisyam-Profesi).

PROFESI-UNM.COM – Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo menyentil kampus yang masih mengajarkan hal monoton seperi ilmu 20 tahun lalu. Menurut Joko Widodo kemampuan adaptasi belajar itu penting bukan hanya untuk mahasiswa tetapi juga rektor dan dosen.

Menurutnya, Perguruan Tinggi memiliki kemampuan beradaptasi terhadap hal-hal baru seperti Teknologi. Jangan biarkan mahasiswa belajar yang rutinitas tetapi mahasiswa harus siap dengan era disrupsi.

“Jangan sampai kita masih ajarkan mahasiswa hal 20 tahun lalu, jangan biarkan kita untuk belajar yang rutinitas, hal-hal yang monoton,” kata Jokowi dalam Pertemuan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia yang tayang di kanal Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (14/9).

Jokowi menyebut mahasiswa perlu difasilitasi, bebaskan mahasiswa mengambil mata kuliah sesuai talentanya karena mahasiswa harus paham semua.

“Mahasiswa harus paham semuanya, paham matematik, statistik, ilmu komputer, dan bahasa bukan cuma bahasa inggris tapi juga bahasa coding. Solusinya berikan mahasiswa kemerdekaan untuk belajar. Perbanyak mata kuliah pilihan baik di dalam maupun di luar kampus,” ujar Jokowi.

Hal serupa juga disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Sulistyowati Irianto. Menurut Sulis, dosen harusnya sudah tidak mengajarkan mahasiswa hal yang sudah ada di mesin pencari Google seperti definisi, tetapi mahasiswa harusnya dibentuk menjadi problem solver.

“Dosen tidak bisa seperti dulu, ngajari hafalan dan definisi. Bikin ujian minta mahasiswa ulang-ulang definisi itu sudah tidak zaman, mahasiswa harusnya jadi problem solver,” ujarnya di Ruang Belajar Bersama Advokat, Organisasi Bantuan Hukum, Aparat Penegak Hukum, dan Masyarakat yang diadakan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Senin (13/9). (*)

*Reporter: Annisa Puteri Iriani