Diskusi Publik September Hitam BEM FIS-H di Gedung Flamboyan UNM, Selasa (13/9). Foto-Hasnul.

PROFESI-UNM.COM – Ketua Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Makassar, Supianto (Ijul mengajak mahasiswa untuk terus mendorong pemerintah atau terlibat aktif agar segera menyelesaikan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang terjadi di Indonesia. Hal ini Ia sampaikan saat menjadi pemateri dalam diskusi publik bertajuk “September Hitam: Bulan Kelam Rangkaian Sejarah HAM di Indonesia” yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H) bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa (HIMA) Pendidikan Sejarah di Gedung Flamboyan BE 105, Selasa (13/9).

Kata Ijul, hampir setengah abad kasus-kasus pelanggaran HAM tidak selesai. Ia mengajak peserta diskusi agar terus peduli terhadap pelanggaran HAM walaupun bukan kita yang menjadi korbannya.

“Yang harus kita lakukan, salah satu langkah kecil, yah, bisa seperti ini, saling berdiskusi untuk mengingat itu, supaya teman-teman yang belum pernah mendengar tentang pelanggaran HAM bisa saling berdiskusi disini, paling tidak teman-teman yang ikut berdiskusi di sini bisa melakukan propaganda diluar sana untuk terus membesarkan gerakannya,” tuturnya.

Menurutnya, September Hitam adalah suatu momentum untuk merefleksikan kembali berbagai peristiwa kelam di masa lalu yang hingga kini belum juga menemukan titik terangnya. September Hitam juga untuk mengingat, memperjuangkan, dan menegakkan keadilan atas hak-hak korban pelanggaran HAM, mengingat banyak peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi selama bulan September.

Di sela-sela diskusinya, Ijul menceritakan salah satu peristiwa populer pada tahun 2019 yang masih hangat di ingatan yaitu gerakan tolak Omnibus Law. Peristiwa tersebut dilatar belakangi banyaknya undang-undang yang di sahkan tidak sesuai dengan amanah reformasi dan berbagai undang-undang yang tidak pro terhadap rakyat. Ada lima orang yang meninggal dunia akibat sikap represif dari aparat dalam tragedi tersebut.

“Peristiwa September yang populer itu, di tahun 2019 gerakan tolak Ombinus Lwa, itu di latar belakangi banyaknya rancangan undang-undang, adanya undang-undang-undang atau revisi undang-undang yang sudah disahkan dan tidak sesuai dengan ammanah reformasi dan berbagai rancangan undang-unndang yang tidak pro rakyat pada saat itu,” katanya.

Presiden BEM FIS-H, Fahmi Amiruddin selaku penyelenggara diskusi publik mejelaskan tujuan mengadakan diskusi publik yaitu mengenang luka sederet kejadian pada bulan September yang meninggalkan tanda tanya besar. Ia juga menjelaskan tindaklanjut dari diskusi ini yaitu, akan menawarkan ke Aliansi Mahasiswa UNM terkait Program September Hitam baik secara konvensional atau dengan menyediakan forum diskusi.

“Di BEM FIS-H sendiri khususnya Aliansi Mahasiswa UNM akan menawarkan program September Hitam baik secara konvensional ataupun diskusi seperti yang kita lakukan ini,” terangnya.(*)

*Reporter: Hasnul/ Editor: Sumaya Nursyahidah