Ilustrasi proses konseling. Foto-Int

PROFESI-UNM.COM – Berangkat dari pengertian yang dikemukakan Stefflre dan Grant ini maka setidaknya ada empat hal yang ditekankan sebagai berikut.

1.Konseling sebagai Proses
Konseling sebagai proses konseling tidak dapat dilakukan sesaat. Proses berarti ada selang waktu tertentu yang diperlukan dalam hubungan konseling dan dalam menyelesaikan masalah yang dialami klien. Dalam beberapa hal, konseling tidak hanya dilakukan sekali pertemuan. Untuk membantu klien yang memiliki masalah yang cukup berat dan kompleks, konseling dapat dilakukan beberapa kali pertemuan secara berkelanjutan.

2.Konseling sebagai Hubungan Spesifik
Hubungan antara konselor dengan klien merupakan unsur penting dalam konseling. Hubungan yang dibangun oleh konselor selama konseling dapat meningkatkan keberhasilan konseling dan dapat pula membuat konseling gagal. Dalam kehidupan sosial sebenarnya “hubungan” satu dengan yang lain selalu ada. Ada hubungan guru-murid, hubungan dokter pasien, hubungan orang tua-anak, dan dalam konseling hubungan konselor dengan (beberapa) klien. Namun demikian, hubungan konseling harus dibangun secara spesifik dengan pola hubungan sosial yang berbeda, karena konseling membutuhkan hubungan yang di antaranya perlu adanya keterbukaan, pemahaman, penghargaan secara positif tanpa syarat, dan empati.

3.Konseling adalah Membantu Klien
Hubungan dalam konseling Itu bersifat membantu (helping). Hubungan membantu itu berbeda dengan memberi (giving) atau mengambil alih pekerjaan orang lain. Membantu tetap memberi kepercayaan kepada klien untuk bertanggung jawab dan menyelesaikan segala masalah yang dihadapinya. Hubungan konseling tidak bermaksud mengalihkan pekerjaan klien kepada konselor, tetapi memotivasi klien untuk lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri mengatasi masalahnya.

4.Konseling untuk Mencapai Tujuan Hidup
Konseling diselenggarakan untuk mencapai pemahaman dan penerimaan diri, proses belajar dari berperilaku tidak adaptif menjadi adaptif, dan belajar melakukan pemahaman yang lebih luas tentang dirinya yang tidak hanya membuat know about tetapi juga how to sejalan dengan kualitas dan kapasitasnya. Tujuan akhir konseling pada dasarnya sejalan dengan tujuan hidupnya yang oleh Maslow (1968) disebut aktualisasi diri.

Tulisan ini dikutip dari buku “Psikologi Konseling” oleh Latipun. Diterbitkan oleh UMM PRESS, tahun 2017. (*)

*Reporter: Muh. Ilham Raihan Y.