Peserta pelatihan PKM-PM UNM membuat Sofa dengan produk Ecobrick, Minggu (5/9). Foto-Ist.

PROFESI-UNM.COM – Permasalahan sampah plastik masih menjadi polemik di dunia, kebanyakan kemasan produk menggunakan plastik cukup murah dan kuat. Situasi itu juga terjadi di Indonesia.

Masih banyak pemulung yang belum tahu mendaur ulang sampah plastik, hal ini membuat para pemulung sampah hanya mendapatkan upah per-hari sekitar 20 hingga 30 ribu sekali timbang.

Maka dari itu, tim Program Kreativitas Mahasiswa Pemberdayaan Manusia (PKM-PM) Universitas Negeri Makassar (UNM) memberikan solusi kepada para pemulung di TPA Antang Kota Makassar agar lebih produktif, mengurangi sampah plastik serta meningkatkan penghasilan dalam pembuatan Ecobrick.

Gian Fikriansyah. B yang merupakan salah satu anggota tim PKM-PM UNM mengatakan bahwa pelatihan Ecobrick juga bisa berpenghasilan dan dapat dijadikan penemuan terbaru bagi pemulung.

“Tim PKM-PM Ecobrick mengajarkan mitra untuk memanfaatkan sampah plastik yang ada di TPA, selain mengajarkan sampah plastik memiliki potensi menjadi barang yang berguna dan bernilai jual, kami langsung memberikan praktik langsung cara membuat Ecobrick. Dari Ecobrick inilah dapat dijadikan sebagai inovasi baru yang dapat berpenghasilan bagi istri pemulung,” ujarnya.

Masyarakat di kawasan ini didominasi oleh istri pemulung yang kurang produktif di rumah dan hanya menerima penghasilan dari hasil memulung suami mereka.

Sebelumnya, tim PKM-PM UNM telah melakukan pelatihan Ecobrick kepada para pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang, Kota Makassar. Selain mengurangi sampah, pemulung juga diajarkan cara membuat produk Ecobrick yang bisa berpenghasilan. (*)

*Reporter: Dewan Ghiyats Yan Galistan A.N