PROFESI-UNM.COM – Manfaaatkan jerami menjadi produk wirausaha merupakan inovasi Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) yang beranggotakan lima orang. Mereka berasal dari tiga fakultas, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), serta Fakultas Teknik (FT), Universitas Negeri Makassar (UNM).

PKM-K diketuai oleh Akan Usman, mahasiswa FEB, dan anggota Ichtiar Gunawan, Rayana dari fakultas yang sama, Ainun Chamila dari FMIPA, dan Nurfadillah dari FT. Tim ini memanfaatkan jerami menjadi produk wirausaha. Mereka mengubah jerami menjadi dua buah produk, yaitu bantal sofa dan bantal tidur orthopedic, serta kedua produk dilengkapi aromaterapi daun mint.

Arman menuturkan, latar belakang ide pemanfaatan jerami ini didasari kebiasaan setiap pasca panen, sisa batang padi atau jerami hanya dibakar oleh masyarakat, hal ini dikarenakan mereka beranggapan abu sisa pembakaran dapat menyuburkan tansh. Namun, anggapan ini salah menurut balai besar besar penelitian tanaman padi, kementerian pertanian.

Sejalan dengan Arman, Ichtiar juga menambahkan, pembakaran jerami dapat menyebabkan berbagai macam dampak yang serius terhadap lingkungan. “Perlu ide dan gagasan yang dapat menghentikan pencemaran lingkungan dari hasil pembakaran jerami yang sering dilakukan oleh masyaraka,” tambahnya.

Untuk produk bantal yang dihasilkan tim ini, Ainun menjelaskan, penambahan aromaterapi daun mint dikarenakan manfaat yang mampu melegakan saluran pernapasan menjadi normal kembali.

“Daun mint memiliki khasiat inflamasi, yang bisa melegakan saluran pernapasan dan menambah rileksasi karena mengandung ester yang dapat memudahkan tidur sehingga menurunkan insomnia ketika dikolaborasikan pada bantal tidur orthopedic,” jelasnya.

Fadillah juga menambahkan, produk bantal sofa menggunakan kain motif khas Sulawesi Selatan sehingga hal ini sekaligus dapat memperkenalkan motif kain khas Sulawesi Selatan.

“Produk bantal sofa ini dihiasi oleh berbagai macam motif kain khas Sulsel, dengan tujuan agar para anak muda tetap mampu melestarikan kearifan lokal,” tambah Fadillah.

Waktu pelaksanaan kegiatan mulai dari proses pembuatan produknya memakan waktu kurung waktu tiga bulan, Juni hingga Agustus dan dilaksanakan di Rumah Produksi Allonangku, Jalam Toddopuli 6, Makassar. (*)

*Reporter: Annisa Asy Syam. A