Sampul buku Filsafat Ilmu oleh Jujum S. Suriasumantri, (Foto-Int).

PROFESI-UNM.COM – Banyak pastinya diantara kita yang masih asing mendengar kata penalaran. Biasanya kata ini identik dengan berpikir. Yuk pahami lebih jauh terkait penalaran lewat penjelasan dibawah ini.

Penalaran adalah aktivitas berpikir secara teratur dengan mempergunakan pola berpikir tertentu. Jadi aktivitas berpikir tidak selalu bersifat nalar misalnya saja melamun. Melamun adalah aktivitas berpikir yang tidak mempunyai pola tertentu. Berdusta adalah justru adalah aktivitas berpikir yang secara sadar sangat nalar.

Seseorang yang berdusta harus berpikir keras agar dustanya tidak ketahuan. Seorang mahasiswa yang sedang diuji malahan mungkin aktivitas berpikirnya tidak nalar. Itulah sebabnya maka tidak semua mahasiswa lulus dalam ujian. Seorang calon llmuwan dituntut untuk berpikir rasional dan nalar. Namun seorang pendusta, meminjam pemikiran Sigmund Freud, akan menggabungkan sifat rasional dan nalar ini menjadi “rasionalisasi” yakni aktivitas berpikir untuk menyembunyikan kebenaran.

Penalaran dalam kegiatan keilmuan ditujukan untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Untuk itu maka penalaran harus mempergunakan pola berpikir tertentu yang membawa dia kepada kebenaran. Jadi, aktivitas berpikir manusia memerlukan “alat” yang membantu dia menemukan kebenaran. Alat itu adalah /og/ka yang mencakup logika deduktif dan logika induktif.

Logika adalah alat yang membantu manusia untuk menarik kesimpulan secara sahih (valid). Jadi belum tentu seorang calon doktor yang telah mengumpulkan berbagai teori untuk disertasinya telah menalar secara logis. Sebab semua teori yang telah dikumpulkan itu harus disimpulkan sesuai dengan kegunaan tertentu.

Dalam sebuah ujian disertasi, penulis pernah meminta seorang promovendus untuk menjelaskan masalah penelitiannya dalam dua menit. Ternyata dia tidak mampu melakukannya bukan disebabkan kekurangan materi untuk menjelaskan namun dia tidak membunyai kemampuan untuk menarik kesimpulan. Seorang yang Mempunyai penalaran yang baik akan mampu menyimpulkan Seluruh disertasinya dalam waktu lima menit.

Kesimpulannya adalah kemampuan manusia yang diperoleh lewat proses belajar, tanpa belajar maka kita tidak secara otomatis mempunyai kemampuan menalar. Sistem pendidikan kita terlalu banyak memberi prioritas kepada materi pengetahuan namun kurang member) perhatian kepada pengajaran penalaran.

Hal ini diperburuk dengan cara pembelajaran yang menjadikan peserta didik untuk menghafal. Itulah sebabnya maka kita kadang menemukan calon doktor yang hafal bermacam teori tetapi gagal untuk untuk mengkomunikasikannya secara nalar. Fungsi yang lain dari penalaran adalah bahwa bukan saja dia membantu kita menarik kesimpulan yang sahih namun juga mampu mengkomunikasikannya kepada orang lain. Kita bisa berkomunikasi dengan orang lain lewat media verbal atau tulisan.

Dari pembicaraan orang atau tulisan seseorang kita mampu menilai apakah aktivitas berpikirnya nalar atau tidak. Fungsi penalaran yang lain lagi adalah dia mampu memper banyak pengetahuan kita.

Katakanlah umpamanya, kita mengetahui bahwa a = b dan a =c maka melalui penalaran dua buah persamaan itu bertambah menjadi tiga yakni bahwa b = c. Demikian seterusnya dan lewat penalaran pengetahuan kita berkembang seperti piramida terbalik.

llmu berkembang dengan cepat karena sifat yang multiplikatif dari penalaran. Penemuan iimiah yang satu akan menyebabkan penemuan-penemuan ilmiah lainnya. Manusia biasanya memikirkan sesuatu tentang apa yang telah diketahuinya terutama lewat pancainderanya Anak kecil memikikan boneka dan botol susu sedangkan kakaknya yang berangkat remaja memikirkan kekasihnya.

Penalaran mampu mengetahui yang belum pernah kita ketahui dan tidak terjangkau Oleh pancaindera. Filsafat biasa membagi objek pemikiran menjadi dua wilayah yakni wilayah fisika yang dapat dijangkau Oleh pancaindera dan wilayah metafisika yang dapat dijangkau oleh penalaran. Seorang iimuwan menalar bahwa keabadian itu, terjadi bila waktu tidak menjadi lagi faktor penentu. Seperti diketahui kehidupan fana kita ini terkungkung dalam ruang dan waktu.

Bila waktu sama dengan nol maka ruang di mana kita hidup akan abadi. Menurut teori relativitas Einstein waktu akan diperlambat bila gerak sesuatu dipercepat. Surga dipostulasikan sebagaj ruang yang bergerak sangat cepat sehingga waktu menjadi nol. Menurut perkiraan maka kecepatan ruang tersebut akan jauh melebihi kecepatan suara. Dan manusia, menurut teori relativitas, tidak dapat melampaui kecepatan cahaya sebab dia akan hancur berantakan. Jadi bagaimana manusia akan bisa masuk surga kalau begitu? Jawabnya mudah saja: tinggalkan tubuh kasar yang bisa beranikan jiwa agar bisa masuk surga. “Oh, jadi ada gunanya juga kita mati,” gumam seseorang yang percaya pada penalaran ilmuwan itu, “kita mengucapkan selamat tinggal kepada jasad kita di bumi dan roh kita selamat sampai kesurga,”.

Semua itu omong kosong, kata orang lain di sebelahnya, semua itu hanya ada dalam pikiranmu saja. Memang itulah penalaran, dia mempermasalahkan semua yang ada di benak kita, namun mengenai percaya atau tidak itu adalah soal lain lagi.

Tulisan ini dikutip dari buku karya Jujun S. Suriasumantri berjudul Filsafat Ilmu cetakan ke 25 tahun 2015, halaman 92-94. (*)

*Reporter: Annisa Puteri Iriani