Enal, Mahasiswa  Angkatan 2016 Jurusan Administrasi Bisnis FIS-H UNM. Foto: Ist

PROFESI-UNM.COM – Di tengah hantaman gelombang memudarnya partisipasi berlembaga. Badan Eksekutif Mahasiswa seyogianya tampil  cantik nan menggoda untuk dijajaki oleh mahasiswa. Kesadaran berlembaga berada difase kritis,  antusias mahasiswa milenial lebih condong mengarah ke komunitas dengan orientasi penyaluran hobi, pengembangan soft skill, club belajar atau jalan jalan ke mall, gunung dan pantai.  Hal yang demikian sepertinya tidak mereka temukan dalam BEM sehingga kurang partisipatif.

            Mungkin banyak yang beranggapan bahwa orientasi dari BEM memang bukan seperti demikian. Namun yang harus digaris bawahi bahwa BEM juga harus mampu menjawab peluang sekaligus tantangan. Menjadi lembaga yang milenial tanpa mengurangi sedikitpun marwah kaderasi dan pergerakan tentu bukan hal yang mudah,  memerlukan pergulatan extra dan pembaharuan yang besar baik dalam tubuhnya sendiri. Bertransformasi atau perlahan-lahan hilang dan ditinggalkan.

BEM Harus tampil fresh, egaliter dan mampu dijangkau untuk semua kalangan. Di beberapa kampus Negeri dan Swasta masih menggunakan metode pendelegasain dalam forum bermusyawarah. Jika menggunakan kacamata yang berbeda dan dikontekskan dengan kondisi saat ini sepertinya kurang relevan lagi. Kondisi tersebut akan memicu narasi bahwa adanya keterbatasan ruang bagi mahasiswa untuk bercengkrama dan berpartisipasi langsung kepada kawan-kawan mereka di lembaga Eksekutif atau Legislatif.

Semisal dalam kontestasi pemilihan nahkoda baru, tingkat kepuasan penyaluran hak suara mereka tidak begitu sreg dikarenakan tidak terlalu refresentatif dengan sistem delegasi dan rentan akan politisasi. Sebab kecakapan mereka tentang calon nahkoda baru tentunya minim, eloknya ketika kampanye visi misi, pemaparan orientasi pengawalan serta tawaran konsep program kerja masif disosialisasikan di ruang-ruang kelas, kedai kopi, foodcourt, kantin kampus dan perpustakaan sehingga akan memacu adrenalin mahasiswa.

Pun nantinya prosesi pemilihan menjadi pemilu  raya (pemira). Yang nantinya bilik suara akan dipadati oleh seluruh mahasiswa ataupun E-Voot. Hal ini bisa dijadikan Salah satu rujukan untuk mendongkrak partisipasi mahasiswa untuk ngeBEM. Meskipun hal ini tentunya memiliki nilai plus minus dan perspektif yang beraneka ragam.

Dalam hal penyusunan struktural yang dalam hal ini merupakan hak prerogatif sang nahkoda, kiranya dibuka open reqruitment secara besar-beasaran kepada seluruh mahasiswa dengan standarisasi dan mekanisme tertentu. Nantinya akan memudahkan Ketua/Presiden dalam memilih dan menyiapkan SDM dalam merealisasikan visi misinya. Penyelenggaraan suksesi program kerja pun menggunakan skema yang sama, dalam hal open reqruitment kepanitiaan.

Menilik kondisi post posisi struktural lalu-lalu yang didominasi oleh jenis kelamin tertentu,  tentunya harus dipertimbangkan kembali, apakah 50.50/50.30. Semisal untuk posisi Mentri Advokasi dan kemahasiswaan  diisi oleh perempuan, Keuangan dan Ekonomi Kreatif diisi oleh laki-laki adalah bukan hal yang aneh jika semuanya didasarkan pada kapasitas, kapabilitas, rekam jejak dan faktor-faktor penunjang lainnya.

Transformasi culture berlembaga pun harus terus diperbaharui dan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Tidak lagi terjebak dalam culture yang kaku yang menghambat Kerja-kerja kelembagaan. Semisal dalam hal penyusunan nomenklatur kabinet sepenuhnya diberikan hak prerogratif kepada Formatur terpilih  dalam merumuskan formulasi yang selaras dengan Visi dan Misi.

Dalam perumusan tawaran program kerja pun harus menjadikan pertimbangan melalui reses  berlandaskan kebutuhan seluruh elemen mahasiswa (organisatoris, Akademis, dan jenis lainnya). Program kerja yang bisa menunjang intensitas kaderasi pendidikan massa dan pengawalan isu internal Kampus, Lokal dan isu  Nasional. Pastinya akan sangat menguras fikiran, waktu dan tenaga.

Tak kalah penting untuk menunjang aktivitas kelembagaan adalah sekretariat. Agar aktivitas produktif dan eksplorasi ide dan kreativitas, sekretariat harus tentu senyaman mungkin serta mengusung konsep yang kekinian. Semisal sekret menyediakan, karambol, catur, podcast, dapur mini, full music, fasilitas berselancar Internet dan lainnya.  Usai konsolidasi dan bosan beraktivitas maka sekretariat tidak hanya melulu untuk (working)  tapi juga untuk tempat (playing) dan memaknai kehidupan. Sekretariat harus friendly dan homy, playful, merangsang imajinasi dan kreativitas, dan mendorong komunikasi terbuka dan kolaborasi.

Pendekatan mahasiswa genarasi disruptif tentunya berbeda dengan generasi lawas sebelumnya. Relasi yang dibangun harus bersifat personal. Lembaga harus memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mereka untuk berkembang dan melibatkan mereka untuk bersama-sama memajukan lembaga.  Semua pengalaman berlembaga yang positif akan menciptakan makna yang spesial bagi mahasiswa jaman sekarang. Ketika mereka merasa menemukan makna tersebut, besar kemungkinan meraka akan lebih puas,  loyal dan akhirnya menjadi advokator handal dalam hal kaderasi, gerakan dan dimensi yang lebih luas.(*)

*Penulis adalah Enal, Mahasiswa  Angkatan 2016 Jurusan Administrasi Bisnis FIS-H UNM