Alat Pendeteksi Tanah Longsor Berbasis Multisensor - (Foto-Int)
Alat Pendeteksi Tanah Longsor Berbasis Multisensor - (Foto-Int)

PROFESI-UNM.COM – Salah satu mahasiswa Jurusan Teknik Informatika dan Komputer (JTIK) Program Studi (Prodi) Teknik Komputer (Tekom) berhasil lolos ke babak final pada kegiatan Pagelaran Mahasiswa Nasional Bidang TIK (Gemastik), kegiatan ini diselenggarakan langsung oleh Pusat Prestasi Nasional (Pusprenas) Kemendikbudristek, Jumat (20/8).

Haslina salah satu mahasiswa Prodi Tekom bersama tim membuat sebuah alat pendeteksi tanah longsor berbasis multisensor yang dinamai Landslide Early Warning System. Alat tersebut berhasil membawanya lolos hingga kebabak final Gemastik.

Mahasiswa angkatan 2018 ini membeberkan bahwa dasar pemikiran Ia membuat alat tersebut dikarenakan seringnya terjadi bencana tanah longsor sehingga sangat dibutuhkan suatu sistem yang dapat mengakuisisi data-data dilapangan agar dapat memprediksi terjadinya bencana tersebut.

“Karena Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kasus bencana geologi cukup tinggi salah satunya bencana tanah longsor, sehingga perlu alat untuk mendeteksi,” bebernya.

Alat pendeteksi tanah longsor berbasis multisensor tersebut terbuat dari sensor inertial meansurement unit (IMU), sensor kelembapan tanah, sensor suhu DHT 22, sensor load cell, telemetri, serta modul arduno uno.

Haslina mengatakan cara kerja alat pendeteksi ini menggunakan media transmisi, melalui gelombang radio atau wireless yang dapat mengirimkan data kepada operator. Kemudian memberikan informasi kepada warga yang tinggal dilereng gunung melalui sirene mesjid secara realtime tentang ketidakstabilan tanah. Alat tersebut masih dalam tahap pengerjaan 50% dan belum dilakukan uji coba langsung ke lereng Gunung.

“Alat ini baru selesai di tahap pembacaan data dari multisensor dan pembuatan sistem monitoringnya berbasis GUI di Matlab,” katanya.

Terakhir Haslina berharap agar kedepannya alat yang Ia ciptakan dapat membawa manfaat bagi para masyarakat terutama yang bermukim dilereng gunung yang mempunyai keterbatasan koneksi Internet.

“Harapan saya untuk alat ini kedepannya dapat menjadi pertimbangan untuk diterapkan di Indonesia serta dapat bermanfaat bagi masyarakat,” harapnya. (*)

*Reporter: Ema Humaera