Survei Psikologi Ormrod (Foto: Ist)
Survei Psikologi Ormrod (Foto: Ist)

PROFESI-UNM.COM – Survei Psikologi oleh Ormrod yang dilakukan sendiri, yaitu Ormrod’s Own Psychological Survey/OOPS.

Berikut jawaban untuk delapan point OOPS:

  1. Beberapa anak lebih dominan sebagai pemikir otak kiri, sedangkan yang lain pemikir otak kanan. SALAH.

Dengan perkembangan teknologi medis baru dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti telah banyak mempelajari cara kerja otak manusia dan bagian mana yang memiliki spesialisasi pada aspek tertentu dari pemikiran manusia. Dua belahan, atau hemisphere, memiliki spesialisasi yang agak berbeda, tetapi keduanya terus berkomunikasi dan berkolaborasi dalam menangani bahkan tugas sehari-hari yang paling sederhana. Untuk semua maksud dan tujuan, tidak ada sebutan pemikiran otak kiri atau otak kanan.

  1. Kepribadian anak sebagian besar merupakan hasil dari lingkungan rumah mereka. SALAH.

Tentunya lingkungan rumah anak-anak membentuk perilaku mereka sampai batas tertentu, namun guru dan orang lain di luar keluarga memiliki pengaruh yang cukup besar pada cara berperilaku khas anak. Selain itu, karakteristik yang diwariskan memiliki dampak signifikan pada kepribadian anak-anak. Sejak hari pertama, bayi sangat berbeda satu sama lain. Ada yang tenang atau cerewet, pemalu atau suka bergaul, takut atau suka berpetualang, dan penuh perhatian atau mudah teralihkan. Perbedaan temperamen seperti itu tampaknya berakar pada biologi dan genetika, yang bertahan sepanjang masa kanak-kanak hingga dewasa.

  1. Pengajaran paling efektif adalah yang disesuaikan dengan gaya belajar individu siswa. SALAH.

Berlawanan dengan kepercayaan umum, sebagian besar perilaku yang hanya dimaksudkan sebagai “gaya belajar” hanya mencerminkan preferensi laporan-diri siswa, dan menyesuaikan pengajaran dengan preferensi tersebut tidak secara nyata meningkatkan pembelajaran atau prestasi akademik siswa. Hal yang jauh lebih penting bagi guru adalah melakukan praktik pengajaran berdasarkan pada pengetahuan tentang proses kognitif yang mendasari cara berpikir dan belajar semua siswa.

  1. Cara terbaik untuk mempelajari dan mengingat fakta baru adalah dengan terus-menerus berulang-ulang. SALAH.

Meskipun pengulangan informasi beberapa kali lebih baik dari pada tidak melakukan apa-apa sama sekali, pengulangan fakta tersebut merupakan cara yang relatif tidak efektif untuk belajar. Siswa mempelajari informasi lebih mudah dan mengingatnya lebih lama ketika mereka menghubungkannya dengan hal-hal yang sudah mereka ketahui. Salah satu strategi yang efektif adalah elaborasi: menggunakan pengetahuan sebelumnya untuk memperluas atau memperkaya ide baru dalam beberapa cara, mungkin dengan menarik kesimpulan dari fakta sejarah tertentu, mengidentifikasi konsep baru dari ilmiah, atau memikirkan situasi dengan menggunakan prosedur matematika yang dapat membantu.

  1. Siswa sering salah menilai seberapa banyak yang mereka ketahui tentang suatu topik. BENAR.

Sebagian besar orang dewasa dan anak-anak bukanlah hakim terbaik tentang hal yang mereka ketahui atau tidak. Sebagai contoh, banyak siswa berpikir bahwa jika mereka menghabiskan waktu lama mempelajari satu bab di buku pelajaran, mereka akan mengetahui isinya dengan baik. Kenyataannya, jika mereka telah menghabiskan secara tidak efektif-mungkin dengan “membaca” sambil memikirkan hal lain atau dengan menyalin definisi tanpa berpikir-tidak seperti yang mereka duga, hanya sedikit pengetahuan yang mereka dapatkan.

  1. Kecemasan terkadang membantu siswa belajar dan memiliki kinerja lebih baik di kelas. BENAR.

Banyak orang berpikir bahwa kecemasan merupakan hal yang buruk. Kenyataannya, sedikit kecemasan sebenarnya dapat meningkatkan pembelajaran dan kinerja, terutama ketika siswa menganggap tugas sebagai sesuatu yang dapat mereka capai dengan upaya yang sewajarnya. Sebagai contoh, sejumlah kecil kecemasan yang terkelola dapat memacu siswa untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dengan cermat dan belajar menghadapi ujian.

  1. Bermain video game dapat meningkatkan perkembangan kognitif anak. BENAR atau lebih tepatnya, TERKADANG BENAR.

Terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk bermain video game daripada membaca, mengerjakan pekerjaan rumah, dan terlibat dalam kegiatan lain yang berkaitan dengan sekolah, pasti dapat mengganggu keberhasilan akademis jangka panjang anak. Namun, beberapa video game bisa menjadi alat ampuh untuk mengembangkan kemampuan kognitif yang penting.

Sebagai contoh, terutama dalam dua dekade terakhir, beberapa teknologi pendidikan telah merancang video game yang sangat memotivasi, mensimulasikan masalah dunia nyata, dan menumbuhkan keterampilan pemecahan masalah kompleks.

  1. Cara guru melakukan asesmen terhadap belajar siswa memengaruhi apa yang dipelajari dan bagaimana sebenarnya siswa belajar. BENAR.

Asesmen yang baik mendorong proses kognitif yang penting untuk pembelajaran berkualitas tinggi. Sebagai contoh, siswa lebih cenderung menjadikan materi kelas sebagai satu kesatuan utuh dan bermakna, apabila mereka mengharapkan kegiatan asesmen membutuhkan sintesis seperti itu, dan mereka lebih cenderung fokus pada penerapan apa yang mereka pelajari ke situasi baru apabila mereka berpikir bahwa asesmen meliputi tugas pengajuan.

Mudah untuk dipengaruhi oleh “akal sehat” dan menganggap bahwa apa yang tampaknya logis pasti benar. Namun, akal sehat dan logika tidak selalu memberi kita gambaran nyata tentang bagaimana sesungguhnya orang belajar dan berkembang.

Akal sehat juga tidak selalu memberi kita panduan yang tepat tentang cara terbaik untuk membantu siswa berhasil di kelas. Dengan demikian, banyak dari pengetahuan kita tentang pembelajaran dan pengajaran seharusnya berasal dari temuan penelitian yang kredibel dan direplikasi secara konsisten dan dari prinsip serta teori umum yang didukung oleh temuan tersebut.

Tulisan ini dikutip dari buku “Psikologi Pendidikan Pembelajaran yang Berkembang” oleh Jeanne Ellis Ormrod, Eric M. Andreman & Lynley Anderman. Diterbitkan oleh penerbit Erlangga, tahun 2019. (*)

*Reporter: Annisa Asy Syam. A