PROFESI-UNM.COM – Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Psikologi (BEM KEMA FPsi) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar diskusi Santai Ngobrol Perkara (SANGAR 1) yang bertajuk “PPKM (Pelan-Pelan Kita Mati)” via Zoom Meeting, Selasa (3/8).

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang diterapkan pemerintah Indonesia sebagai salah satu solusi untuk mengendalikan laju penyebaran covid-19. Namun kebijakan baru ini justru dinilai berdampak negatif pada masyarakat khususnya menengah kebawah.

Kelompok Amnesty UNM, Muhammad Ahnan Suwitri memaparkan dalam Undang-Undang Kekarantinaan Kesehatan yaitu Karantina wilayah. Untuk sejumlah kasus ketika wabah semakin kronis seharusnya seluruh keperluan ditanggung oleh Negara. Namun pada kenyataannya pemerintah tidak bertekad menerapkan karantina wilayah.

“Dalam UU kekarantinaan kesehatan ada namanya karantina wilayah. Dalam beberapa kasus ketika pandemi memarah segala kebutuhan masyarakat itu ditanggung oleh negara. Tapi selama ini kita menyaksikan tidak ada niatan pemerintah menggunakan karantina wilayah,” katanya.

Lanjut, Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Rahmat Ariyadi mengatakan bahwa saat pandemi, kuliah Dalam jaringan (Daring) hanyalah formalitas. Hanya mengisi absen namun diskusi, ruang ilmiah, dan forum demokrasi dilaksanakan terbatas.

“Kuliah Online pun hanya formalitas, seperti mengisi absen sementara diskusi, ruang ilmiah, dan forum demokrasi terbatas,” tuturnya.

Ditengah polemik kebijakan yang terus berganti, mahasiswa tetap dipaksa untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) setiap semester sementara fasilitas kampus tidak terpakai.

Terakhir, Presiden Mahasiswa Fakultas Matematika dan IPA, Renaldi menambahkan bahwa ia setuju dengan PPKM tetapi tidak pada penerapannya karena dinilai tidak berimbang dengan apa yang didambakan.

“Saya sepakat dengan PPKM namun tidak pada implementasinya karena tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, PPKM itu membatasi mobilitas namun subsidi tidak terealisasi,” tuturnya. (*)

*Reporter: Nur Arrum Suci Katili/Editor: Sumaya Nursyahidah