Olden, Penulis adalah guru SMAN 3 Polewali dan CGP Angkatan 1 Kabupaten Polewali Mandar

PROFESI-UNM.COM – Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik. Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best. Artinya, bahwa memahamkan anak tentang konsekuensi dari sebuah pilihan merupakan hal yang benar, namun membakali mereka dengan pengetahuan tentang hal baik dan buruk adalah sesuatu yang substansi. Bahwa pengetahuan/knowledge saja tidak cukup, murid juga harus dibekali dengan pendidikan karakter.

“Menuju Manusia Merdeka”, kalimat ini merupakan muara dari semua pengetahuan dan pengalaman belajar yang saya dapatkan dalam modul Pendidikan Guru Penggerak. Sebuah tujuan yang memiliki hierarki yang sangat kuat dan pemaknaan yang mendalam di mana seorang guru harus kembali ke titik awal untuk memahami hakekat atau filosofi Pendidikan Nasional dari Bapak Pendidikan, Ki Hajar Dewantara.

Tujuannya adalah untuk merefleksi kembali konsep pemikiran filosofi Beliau guna melakukan transformasi pendidikan di sekolah. Diantaranya; konsep kodrat alam dan kodrat zaman, Asas Trikon (kontinyu, konvergen, dan konsentris), konsep ‘Budi Pekerti’, dan Patrap Triloka yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha – di depan memberikan contoh, Ing Madya Mangun Karsa – di tengah membangkitkan/membangun kemauan, Tut Wuri Handayani – mengikuti dibelakang menyokong kekuatan.

Patrap Triloka atau tiga prinsip pembelajaran ini banyak diterapkan untuk kepemimpinan. Bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu di depan atau pun terdepan. Di mana pun dia berdiri memiliki peran dan fungsi yang berbeda. Seorang guru dituntut untuk bisa memposisikan dirinya sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah, menjalankan fungsinya secara professional dan proporsional.

Memahami tugas dan fungsi seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran tentunya bukanlah perkara yang mudah, karena secara kontekstual guru harus memiliki pengetahuan dan wawasan luas berkaitan dengan fungsinya sebagai pemimpin pembelajaran dan mampu mengimplemetasikan/menerapkan pengetahuan tersebut pada ranah kongkret. Ketika berada pada ranah kongkrit, seorang guru akan menghadapi berbagai persoalan, baik yang mengandung unsur dilema etika mapun yang bersifat bujukan moral.

Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam pengimplementasian konsep Merdeka Belajar dalam konteks pembelajaran di sekolah. salah satunya yakni penerapan Patap Triloka. Penerapan Patrap Triloka atau tiga prinsip pembelajaran menuntut seorang guru harus mampu memposisikan dirinya sebagai pemimpin yang selalu berada di depan memberikan contoh (ing ngarsa sung tuladha) jika dikontekskan dalam proses pembelajaran, maka seorang guru berperan sebagai mentor, yang mentransfer pengetahuan kepada anak didik.

Berada di tengah membangkitkan/membangun kemauan (Ing madya mangun karsa) dalam konteks ini guru berperan sebagai coach yakni mitra murid dalam membantu mengembangkan potensi akalnya guna menemukan solusi mandiri dari permasalahan yang dihadapi. Guru menerapkan komunikasi asertif kepada murid dan menjadi pendengar yang baik. Pada moment lainnya, guru juga harus mampu memberi dorongan dan membangkitkan motivasi intrinsik murid dengan mengikuti dan memberi dorongan moril serta kekuatan dari belakang (Tut Wuri Handayani).

Arah dari ketiga prinsip tersebut akan bermuara pada satu tujuan yakni menjadikan murid sebagai ‘pembelajar merdeka’ yakni pembelajar yang mampu mengenal dan mengembangkan potensinya yang disokong dengan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, sebagaimana tujuan pendidikan Ki Hajar Dewantara yakni agar setiap pelajar Indonesia memiliki kompetensi global serta laku atau perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Pancasila diyakini mampu menjadi filter atau perisai bagi pelajar Indonesia untuk melindungi mereka dari pengaruh buruk atau dampak negatif perkembangan jaman. Pancasila diyakini mampu membawa para pelajar Indonesia menjadi pelajar yang mampu menempatkan diri mereka menjadi pemimpin yang bertindak dan memutuskan segala sesuatunya dengan berpegang nilai-nilai luhur, yaitu nilai-nilai kemanusiaan. Sebab nilai-nilai kemanusiaan merupakan nilai-nilai universal yang dimiliki oleh setiap manusia ciptaan Tuhan YME.

Untuk mengimplementasikan konsep ‘Merdeka Belajar’ dalam ruang-ruang kelas, maka perubahan merupakan sebuah keniscayaan. Dimana melalui program pendidikan guru penggerak, para guru yang terjaring didalamnya dibekali dengan berbagai pengetahuan dalam penerapannya di sekolah.
Guru penggerak adalah guru yang mampu mengaktualkan nilai dan perannya di sekolah yakni guru yang inovatif, kreatif, mandiri, kolaboratif, dan berpihak pada murid, demi terwujudnya profil pelajar pancasila, yakni pelajar yang berakhlak mulia, bernalar kritis, gotong royong, kreatif, mandiri, dan berkebhinekaan global. Perubahan dapat dilakukan melalui internalisasi visi guru penggerak.

Dalam proses perjalanan melakukan perubahan, seorang guru penggerak harus bisa mengenal dan memahami cara kerja atau manajemen yang tepat dalam penerapannya di komunitas sekolah. Salah satunya yang dinilai paling efektif yakni manajemen perubahan yang berbasis pada kekuatan atau yang dikenal dengan istilah Inkuiri Apresiatif atau IA.
Pembelajaran yang berpihak kepada murid, adalah pembelajaran yang mampu mengakomodir serta memetakan kebutuhan belajar murid, yakni berdasarkan kesiapan belajar (readiness), minat, dan profil pelajar. Dimana ketiga kebutuhan belajar murid tersebut diterapkan kedalam 3 diferensiasi atau yang dikenal dengan pembelajaran berdiferensiasi, yakni diferensiasi konten (isi/materi), diferensiasi proses, dan diferensiasi produk.

Dalam diri setiap manusia telah tertanam nilai-nilai kebaikan, dimana nilai-nilai tersebut juga merupakan nilai-nilai yang bersifat universal, karena kebaikan merupakan sesuatu yang fitrah dalam diri setiap manusia. Nilia-nilai kebaikan juga dikaitkan dengan prinsip-prinsip dalam keyakinan/religi, karena setiap agama juga mengajarkan kebaikan sebagai kebenaran yang absolut.

Nilai-nilai kebaikan dapat juga diartikan sebagai nilai- nilai kemanusiaan atau menjunjung tinggi moralitas, sehingga pondasi atau dasar ini pula yang dijadikan prinsip seseorang khususnya seorang guru dalam menentukan keputusan akhir.. Menentukan apakah keputusan yang kita buat itu sudah benar atau tidak, atau sejauh mana efektivitas pengambilan keputusan yang sudah kita lakukan.

Dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, telah diurai 3 teori yang bersifat urgensi yang mampu menuntun seorang guru dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Dimana ketiganya mampu mengembangkan proses berpikir kita dalam menentukan keputusan akhir. Hal ini tentunya sejalan dengan kegiatan pembimbingan atau ‘coaching’. Ketiga teori tersebut diantaranya mengenal 4 paradigma dilemma, prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan keputusan. Teori-teori inilah yang nantinya dikembangkan oleh seorang guru melalui proses coaching bersama pendamping dan fasilitator.

Ketika seorang guru/pendidik dihadapkan pada sebuah persoalan yang mengandung unsur dilemma etika atau bujukan moral, maka hampir sebagian besar hasil keputusan akhir mengarah pada prinsip berpikir berbasis rasa peduli. Mengapa? karena dalam menentukan hasil akhir dari sebuah keputusan, seorang guru harus melalui 9 langkah pengambilan keputusan, dimana salah satunya yakni uji intuisi. Uji intuisi menuntut seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran untuk melihat permasalahan atau kasus dilemma etika dalam perspektif moralitas.

Bagaimana nilai-nilai kebaikan atau kemanusiaan dalam diri kita melihat persoalan tersebut dan mengambil andil dalam menentukan keputusan akhir. Atau dengan kata lain, uji untuisi ini menuntut kita untuk memberikan ruang bagi rasa peduli kita terhdap permasalahan yang dihadapi. Tertunya juga dengan mempertimbangkan uji lainnya, yakni uji legal (adakah pelanggaran peraturan), uji regulasi (adakah pelanggaran kode etik), uji halaman depan Koran, dan uji panutan/idola.
Saya maupun anda pastinya meyakini bahwa melakukan perubahan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Namun saya pun meyakini bahwa perubahan sangat mungkin terjadi jika dimulai dari hal-hal terkecil lalu perlahan-lahan menulari orang-orang di sekitar kita. Sehingga keberadaan dari perubahan itu sendiri adalah sebuah keniscayaan.

Pada konteks pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran khususnya pada dilemma etika yang kerap terjadi di lingkungan sekolah, seorang guru penggerak dituntut untuk mampu menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan. Butuh sebuah kerja keras untuk bisa mentranfer pengetahuan dan informasi ini kepada rekan sejawat di sekolah. Maka dalam kondisi ini, seorang guru penggerak dapat menerapkan pengetahuan dalam membentuk sebuah komunitas praktisi melalui penerapan Inkuiri Apreasitif. Inkuiri Apresiatif (IA) merupakan pendekatan manajemen perubahan kolaboratif yang berbasis pada kekuatan.

Dalam implementasinya, IA diterapkan melalui metode B-A-G-J-A, (Buat pertanyaan – Ambil pelajaran – Gali mimpi – Jabarkan rencana – Atur eksekusi). Upaya ini sebaiknya dikomunikasikan dengan para pemangku kepentingan khususnya kepala sekolah dan pengawas dalam satuan pendidikan.

Lingkungan sekolah yang kondusif akan membuat murid merasa aman dan nyaman dalam belajar, sebagai salah satu cerminan dari sekolah yang berpihak pada murid serta berorientasi pada konsep ‘Merdeka Belajar’.
Saya meyakini bahwa ketika pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang guru sudah melalui tahapan dalam 9 langkah pengambilan keputusan, maka sejatinya keputusan tersebut adalah keputusan yang berpihak pada murid. Esensi pendidikan KHD adalah ‘menghamba pada murid’, ini dapat dijadikan pijakan bagi seorang guru dalam menganalisa setiap permasalahan yang timbul dalam proses pembelajaran.

Tidak semua kesalahan yang dilakukan oleh murid apalagi jika itu mengandung pelanggaran peraturan adalah murni kesengajaan. Dalam uji intuisi, naluri kemanusiaan kita yang akan membuka ruang untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga apapun itu pelanggarannya, selalu ada kebijakan di atasnya. Inilah yang menjadi esensi dari kepemimpinan itu sendiri. Bahwa di atas peraturan, masih ada kebijakan, dan kebijakan lahir dari olah pikir atau prinsip berpikir seorang pemimpin.

Selain melalui tahapan uji sebelum sampai pada keputusan akhir, kita juga masih bisa mengubah keputusan tersebut jika ternyata ada opsi pilihan lainnya yang kita temukan tanpa sengaja atau dari hasil berpikir kreatif, yang disebut investigasi opsi trilema. Sehingga seorang guru, jika dihadapkan pada dilemma mengambil keputusan sekalipun, masih dapat memilih opsi ketiga.

Semakin banyak opsi pilihan pada sebuah kasus maka akan semakin memudahkan kita dalam menentukan keputusan akhir, yang peluangnya besar mampu memberi dampak yang baik, serta mampu mendukung efektivitas proses pembelajaran di sekolah. Pada akhirnya juga akan berpengaruh terhadap hasil akhir atau capaian murid di sekolah. (*)

*Olden, Penulis adalah guru SMAN 3 Polewali dan CGP Angkatan 1 Kabupaten Polewali Mandar