Penyuluhan bahaya penyalahgunaan NAPZA dan penularan HIV/AIDS kepada pelajar SMA di Kab. Takalar. (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Salah satu program kerja Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Peduli HIV/AIDS & NAPZA (MAPHAN) Universitas Negeri Makassar (UNM) yang sedang berlangsung, yaitu Maphan Peduli 2021.

Kegiatan ini dilaksanakan mulai 29 Juli hingga 05 Agustus mendatang, tepatnya di Kabupaten Takalar.

Ada beberapa rangkaian kegiatan yang dilaksanakan guna menunjang berlangsungnya kegiatan ini.

Muh. Reinaldi Mustari, selaku Ketua Panitia kegiatan mengatakan bahwa item kegiatan berupa kegiatan sosial dan akan akan diselingi dengan perlombaan untuk memeriahkan acara.

“Adapun item atau rangkaian kegiatan tersebut, di antaranya dalam bentuk penyuluhan, lomba, kelas peduli, Social Project, aksi bersih, hingga kegiatan seminar”, jelas mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Mesin angkatan 2019 tersebut.

Agenda penyuluhan telah dilaksanakan, berlangsung di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Takalar dan di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Takalar pada 29 Juli lalu.

Dalam aksi penyuluhan secara virtual ini, membahas mengenai dampak bagi orang yang terinfeksi oleh HIV/AIDS hingga efek dari penyalahgunaan NAPZA.

Di sisi lain, dalam gelaran Aksi Maphan Peduli kali ini berbeda dari sebelumnya dengan menghadirkan rangkaian kelas peduli bagi siswa-siswi.

“Ada salah satu kegiatan baru kami dalam aksi ini, yaitu kelas peduli yang dimana kami memberikan 3 materi terkait NAPZA, HIV/AIDS, dan teknik penyuluhan”, tutur Reinaldi.

Dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, kegiatan kelas peduli berlangsung di Gedung Islamic Center.

Aksi bersih dilakukan di sekitar Kecamatan Pattalassang, Kabupaten Takalar. Aksi Bersih dilakukan guna untuk mempererat tali silaturahmi dengan masyarakat di Takalar.

“Untuk sosial project, lokasinya itu ada yang dinamakan alun-alun di belakang Kantor Dinas Pariwisata Pemuda, dan Olahraga”, katanya.

Hingga saat ini terdapat 14 sekolah di Kabupaten Takalar yang menjadi target dari kegiatan ini. 13 diantaranya merupakan tingkatan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan salah satunya adalah tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan saat ini telah dilakukan penyuluhan di tiga sekolah.

Penyuluhan lebih dominan kepada siswa/i SMA dikarenakan pemikiran mereka yang lebih terbuka dan mampu memahami maksud yang diberikan dan memilah mana yang baik.

“Takutnya, kalau kita lakukan penyuluhan di tingkat SMP ke bawah, nanti siswa yang di suluh kurang bisa menangkap materi yang kami berikan dan jadi salah paham atas materi yang nanti di berikan”, ungkapnya. (*)

*Reporter: Mujahidah/Editor: Nur Azisa