Foto Ollan Saat Mendaki. (Foto: Ist).
Foto Ollan Saat Mendaki. (Foto: Ist).

PROFESI-UNM.COM – Dengan semangat membara tanpa peduli keterbatasan yang Ia miliki. Tangannya yang tak sempurna namun memiliki tenaga menggenggam harapan yang kuat terus membuat langkahnya tak henti untuk menapaki tebing demi tebing yang Ia panjat di sela-sela kecintaannya pada alam.

Meski terlahir dengan tangan kurang sempurna, dengan keterbatasan fisiknya Ia terus maju melawan keadaan. Baginya jiwa yang menggelora menapaki jejak langkah alam telah membuatnya menjadi petarung sejati, dewasa bersama jejak langkah pendakiannya.

Ia adalah Ollan mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) angkatan 2017 jurusan Pendidikan Khusus (PK) Universitas Negeri Makassar (UNM). Seperti kebanyakan mahasiswa Ia juga adalah salah satu mahasiswa organisatoris yang aktif di berbagai lembaga, mulai dari Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK), hingga Mapala universitas menjadi lembaga kecintaannya.

Kebiasaannya menjadi pendaki dimulai dari pertemuan sosialisasi singkat Mapala Sinai KMK UNM yang dikenalnya dari zaman Maba. Didukung dengan rasa penasaran menggeluti alam dari sebuah tayangan TV di masa kecilnya. Hingga akhirnya keputusan menjadi Mapala hingga detik ini membuatnya kuat.

“Saat itu pas saya Maba ada kegiatannya Mapala Sinai KMK UNM waktu itu di FIS. Saya ikut dan tertarik dengan perekrutan Mapala KMK UNM akhirnya saya mencoba ikut, belajar sedikit demi sedikit lalu nyaman. Dulu sewaktu kecil suka juga lihat film begitu, kayak si bolang, bocah petualang,” ucapnya.

Larangan untuk masuk Mapala pernah mahasiswa FIP ini rasakan, tapi baginya larangan dari orangtua bukan sebuah penghalang besar bagi Ollan untuk terus mengasah kecintaannya pada alam. “Kalau dilarang ya bagi saya itu hal biasa, karena saya merasa saya bisa toh. Kenapa yang lain bisa saya tidak bisa,” ucap pengurus KMK ini.

Bukan hal baru jika Ollan gagal dalam mempersiapkan garis awal pendakiannya, bukan hal baru pula jika ditengah jalan Ia harus kelelahan. Namun, bukan berarti lelah menjadi alasan kuat untuk tidak sampai di puncak.

“Pernah gagal, pernah pas mendaki pas sampai di posko 4 itu drop, tapi untungnya semangat saya membuat saya bisa bangkit lagi sampai mencapai puncak,” katanya dengan semangat.

Baginya kekurangan bukan untuk dijadikan alasan menerima belas kasihan tapi sebuah pacuan untuk bangkit menjadi penakluk senja. Seorang pendaki sejati adalah Ia yang tau di depannya ada bahaya tapi terus maju dengan harapan menemui keindahan di balik bahaya.

“Kalau saya bergabung sama orang yang memiliki fisik sempurna, saya bangga. Karena itu artinya saya bisa seperti mereka, kekurangan bukan untuk menjadi alasan untuk mendapat belas kasihan,” tegasnya.(*)

*Reporter: Kristiani Tandi Rani