Buku Prosedur Penelitian, Jumat(23/07). (Foto: irsan-profesi)
Buku Prosedur Penelitian, Jumat(23/07). (Foto: irsan-profesi)

PROFESI-UNM.COM – Memahami variabel dan kemampuan menganalisis atau mengidentifikasikan setiap variabel menjadi variabel yang lebih kecil (sub variabel) merupakan syarat mutlak bagi setiap peneliti. Memang
mengidentifikasikan variabel dan sub-variabel ini tidak mudah, karenanya membutuhkan kejelian dan kelincahan berpikir pelakunya.

Memecah-mecah variabel menjadi sub-variabel ini juga disebut kategorisasi, yakni memecah variabel menjadi kategori-kategori data yang harus dikumpulkan oleh peneliti. Kategori-kategori ini dapat diartikan sebagai indikator variabel.

Dalam contoh kesadaran bermasyarakat, jika akan mengukur apakah seseorang cukup besar atau tidak kesadaran bermasyarakatnya, maka perlu dicari tanda-tandanya, indikatornya, bukti-buktinya.

Kategori, indikator, sub-variabel ini akan dijadikan pedoman dalam
merumuskan hipotesis minor, menyusun instrumen, mengumpul-kan data dan kelanjutan langkah penelitian yang lain.

Sedikitnya sub-variabel atau kategori, akan menghasilkan kesimpulan yang besar (jika variabelnya terlalu luas) dan sempit (jika variabelnya sedikit tetapi kecil-kecil).

Ada kalanya, peneliti memilih sedikit variabel tetapi besar-besar. Ini berarti bahwa peneliti hanya menghendaki data kasar. Tentu saja semakin terperinci cara pengkategorisasian variabel, datanya semakin luas dan
gambaran hasil penelitian semakin menjadi teliti.

Berhubung pentingnya kategorisasi variabel penelitian, maka berikut ini disajikan contoh penjabaran variabel dan dilengkapi dengan cara memperoleh datanya.

Kesalahan yang sering terjadi pada waktu mengidentifikasikan sub-variabel adalah disebutnya sub-variabel akibat dari variabel terikat, misalnya naik kelas; disebutnya penyebab variabel bebas. Misalnya cita-cita orang tua, sang guru (yang berpengaruh terhadap minat si guru menjadi guru).

Ada lagi kesalahan, yaitu variabel lain yang juga merupakan penyebab terpengaruhinya variabel terikat. Misalnya IQ siswa, lingkungan belajar, dan sebagainya. Variabel ini bukan variabel bagian dari guru tetapi mempengaruhi timbulnya kejadian pada variabel terikat.

Variabel-variabel semacam ini disebut intervening variable, atau lebih gampangnya dipahami disebut variabel pengganggu, karena mengotori pengaruh guru terhadap prestasi belajar.

Tujuan kategorisasi variabel ini adalah agar peneliti memahami
dengan jelas permasalahan yang sedang diteliti. Kerlingert dalam hal ini menjelaskan pendapatnya sebagai berikut:


The must define the variables they use in hyphothesis so that the hyphotesis can be tested. Thay do this by using are as known as operasional definition.

Sudah disebutkan dalam bab terdahulu bahwa makin terperinci kita memahami permasalahan kita, maka makin bermutu pemecahannya. Oleh karena itu, hipotesis mayor dapat dipecah menjadi hipotesis minor sesuai
dengan penjabaran variabelnya.

Tulisan ini bersumber dari buku “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik” oleh Prof. Dr. Suharsimi Arikunto yang diterbitkan oleh Rineka Cipta pada tahun 2013. (*)

*Reporter: Irsan Juliani