Pemaparan materi oleh Fachri Hasanuddin pada Webinar HANI 2021 UKM Maphan UNM, Rabu (30/6). Foto: Azisa-Profesi

PROFESI-UNM.COM – Dalam rangka memperingati Hari Anti Narkotika Nasional (HANI) 2021, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Peduli HIV AIDS dan Napza (Maphan) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan Webinar HANI 2021 dengan menghadirkan beberapa pemateri yang mumpuni di bidangnya, Rabu (30/6).

Salah satu pemateri dalam webinar tersebut, yakni Fachri Hasanuddin selaku pekerja sosial L-PKNM Ballatta dan Pekerja Sosial Adiksi Kementerian Sosial (Kemensos RI). Ia memaparkan terkait apa itu Napza dan bagaimana tahapan rehabilitasinya.

Napza merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya. Seseorang yang menjadi Korban Penyalahgunaan Napza (KPN), perlu mendapatkan tindakan refungsionalisasi dan pengembangan untuk memungkinkan seseorang mampu melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar dalam kehidupan masyarakat.

“Orang-orang yang tidak berfungsi secara sosial bisa kembali lagi sebagaimana peran yang semestinya. Kalau dia mahasiswa, bisa menjadi fokus lagi belajar”, tutur Fachri Hasanuddin dalam Zoom Meeting.

Hal tersebut didasari oleh KPN yang merupakan seseorang dengan ketidaksengajaan menggunakan Napza karena dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa, dan atau diancam untuk menggunakan Napza.

Adapun program rehabilitasi sosial yang dapat diterapkan, diantaranya program yang bersifat holistik, sistematik dan terstandar untuk mencapai keberfungsian sosial individu, keluarga, kelompok, dan atau masyarakat.

Di samping itu, terkait seseorang yang sedang dalam program rehabilitasi akan didampingi oleh konselor adiksi dan pekerja sosial.

Konselor adiksi adalah pendamping sosial yang memiliki kompetensi dalam melakukan konseling dan intervensi klinis terhadap pencandu dan KPN yang diperoleh melalui pelatihan dan atau pengalaman praktik.

“Pelaksana dalam hal ini didampingi oleh konselor adiksi, mereka telah melalui berbagai pelatihan dan bahkan ujian kompetensi dan praktik”, jelasnya.

Lain halnya dengan pekerja sosial yang merupakan seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai praktik pekerjaan sosial serta telah mendapatkan sertifikat kompetensi. (*)

*Reporter: Nur Azisa