Buku "Logika Seni Berfikir Lurus" ditulis oleh Dr. Agustinus W. Dewantara, S.S., M.Hum yang diterbitkan oleh Wina Press pada tahun 2019, Jumat (21/10) - Foto:int.

PROFESI-UNM.COM – Logika adalah bagian dari Filsafat. Logika diperlukan supaya akal budi tidak mengalami kesesatan dalam berfilsafat. Segala sesuatu harus dipikirkan secara lurus dan logis. Sebagai ilmu tertua, filsafat amat membutuhkan keruntutan berpikir, dan logika adalah prasyaratnya.

Tradisi berfilsafat pertama kali dijumpai dalam tradisi Yunani. Pada awal kehadirannya, filsafat Yunani ditandai dengan campur-baur mentalitas berpikir. Pada perjalanan berikutnya, mitos tidak sepenuhnya ditinggalkan, tetapi gerakan intelektual
yang berusaha menarik garis tegas antara penjelasan mitologis dan ilmiah juga makin menghebat.

Apa yang disebut sebagai “ilmiah” dalam periode Yunani jelas berbeda dengan periode dewasa ini. Ilmiah dalam periode Yunani awali berkaitan dengan argumentasi dan refleksi, sedangkan pada periode modern kelimiahan menunjuk kepada metodologi.

Elaborasi relasi manusia dengan dunia dalam sejarah perkembangan filsafat akan dijumpai dalam suatu alur yang mengalir. Mula-mula pada zaman Yunani kuno, manusia memahami dunianya dengan segala peristiwanya dalam mitos.

Hujan misalnya, merupakan tangisan para dewa/dewi. Penjelasan semcam itu tentu aneh di dunia modern, karena menurut pemikiran modern, hujan tidak lain merupakan jatuhnya uap air dari udara setelah mencapai titik suhu kenisbian tertentu.

Di titik ini harus segera ditambahkan bahwa mitos bukan hendak mengatakan salah atau benar, bahkan mitos sebenarnya bukan dimaksudkan untuk menjelaskan halnya (hujan misalnya) atau prosesnya (turunnya air dari langit), melainkan hendak menggambarkan relasi manusia dengan alam (dunianya) sejauh bisa ditangkap akal budi para pemikir waktu itu.

Banjir misalnya, dahulu dimengerti sebagai
ungkapan kemarahan dewa-dewi atas hidup manusia yang tidak memenuhi ketentuan yang digariskan penyelenggara kehidupan. Jadi mitos bukan penjelasan hal atau peristiwanya, melainkan elaborasi relasi manusia dengan dunianya.

Tulisan ini dikutip dari buku “Logika Seni Berfikir Lurus” ditulis oleh Dr. Agustinus W. Dewantara, S.S., M.Hum yang diterbitkan oleh Wina Press pada tahun 2019.(*)

*Reporter: Irsan Juliani