Sampul e-book "Pembangunan Desa Terintegrasi" oleh Andi Samsir. (Foto: Int.)

PROFESI-UNM.COM – Pengalaman pada dekade 1950-an dan dekade 1960-an, ketika banyak di antara negara-negara dunia ketiga berhasil mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sesuai dengan target mereka. Namun, gagal memperbaiki taraf hidup sebagian besar penduduknya, menunjukan bahwa ada sesuatu yang salah dalam definisi pembangunan yang dianut selama itu.

Banyak ekonom dan perumus kebijakan mulai mempertimbangkan untuk mengubah strategi pembangunan, guna mengatasi secara langsung berbagai masalah mendesak, seperti tingkat kemiskinan absolut yang semakin parah, ketimpangan distribusi pendapatannya makin mencolok, dan tingkat pengangguran yang terus melonjak.
Pada dekade tahun 1970-an, pembangunan ekonomi mengalami redefinisi, penghapusan atau pengurangan tingkat kemiskinan, penanggulangan tingkat ketimpangan pendapatan. Bahkan, sampai pada penyediaan lapangan kerja dalam konteks perekonomian yang terus berkembang.
Penggantian atau penyesuaian definisi pembangunan ekonomi yang kini lebih didasarkan pada konsep “redistribusi hasil pertumbuhan” merupakan slogan yang popular pada masa itu. Selama dekade tahun 1960-an dan dekade 1970-an, sejumlah negara berkembang berhasil mencapai pertumbuhan pendapatan perkapita yang cukup tinggi.

Namun masalah-masalah pengangguran, kesenjangan pendapatan, dan pendapatan rill dari 40 persen penduduknya paling miskin tidak banyak mengalami perbaikan. Bahkan, dalam banyak kasus justru semakin buruk (Todaro & Smith, 2006).
Fenomena pembangunan atau adanya situasi keterbelakangan yang kronis, sesungguhnya bukan semata-mata merupakan persoalan ekonomi atau sekedar soal pengukuran tingkat pendapatan, masalah ketenagakerjaan, atau penaksiran tingkat ketimpangan penghasilan secara kuantitiatif.

Keterbelakangan merupakan sebuah kenyataan rill dalam kehidupan sehari-hari. Bank dunia dalam sebuah publikasi resminya World Development Report (Todaro & Smith, 2006) mengatakan bahwa tantangan utama dalam pembangunan adalah bagaimana memperbaiki kualitas kehidupan. Meskipun syarat untuk mencapai kehidupan yang lebih baik diukur dari tingkat pendapatan yang lebih tinggi.

Namun, hal itu hanya merupakan salah satu syarat dari sekian banyak syarat yang ada, antara lain: pendidikan yang lebih baik; peningkatan standar kesehatan dan nutrisi; pemberantasan kemiskinan; perbaikan kondisi lingkungan hidup; pemeratan kesempatan; peningkatan kebebasan individu; dan pelestarian ragam kehidupan budaya.

Dengan demikian, pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi- institusi nasional, di samping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan, serta pengetasan kemiskinan.

Pemenang Hadiah Nobel untuk bidang ekonomi tahun 1998, Amartya Sen (Todaro & Smith, 2012), berpendapat bahwa untuk dapat memahami konsep kesejahtraan manusia secara umum, dan kemiskinan secara khusus, kita harus berfikir lebih dari sekedar ketersediaan komoditi-komoditi dan memperhatikan kegunaannya. Hal ini membantu memperjelas apa yang disebut oleh Sen sebagai fungsi, yaitu apa yang dapat dilakukan seseorang terhadap suatu komoditi dengan karatersitik-karateristik tertentu yang dimiliki atau dikendalikan oleh orang tersebut.

Kebebasan memilih atau kontrol yang dimiliki seseorang terhadap hidupnya sendiri adalah aspek utama dalam memahami kesejahtraan secara mendalam. Aspek sosial digunakan untuk mengukur pembangunan sosial negara (Perkin, Radelet, Snodgrass, Gill, & Romer,2001), diperkenalkan oleh United Nation Development Program (UNDP) pada tahun 1990, yang mengukur tingkat harapan hidup, tingkat pendidikan dan pendapatan perkapita.
Studi pembangunan ekonomi menurut Jhingan (2010) merupakan suatu cabang dari disiplin ilmu yang lebih luas, yaitu ilmu ekonomi (economic) dan Ilmu Ekonomi Politik (political economic), studi ini dikembangkan sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri, yang mengkaji secara lebih sistematis permasalahan-permasalahan yang dihadapi negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, yang umumnya merupakan negara-negara yang baru merdeka.

Istilah pembangunan ekonomi digunakan secara bergantian dengan istilah pertumbuhan ekonomi, kesejahtraan ekonomi, kemajuan ekonomi dan perubahan jangka panjang. Akan tetapi beberapa ahli ekonomi tentunya, seperti Schumpeter dan Nyonya Ursula Hicks, telah menarik perbedaan yang lebih lazim antara istilah pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi.

Tulisan ini dikutip dari buku yang berjudul “Pembangunan Desa Terintegritasi Konsep Dan Pengalaman Membangun Desa” oleh Andi Samsir yang diterbitkan oleh Capiya Publishing.

*Reporter: Tito Koes Herdianto