Ilustrasi gaya belajar sesuai kerja otak - Foto- Int.

PROFESI-UNM.COM – Bagaimana belajar yang sesuai dengan cara kerja otak? Dalam belajar, kadang kita tidak memerhatikan dan memahami bagaimanakah mekanisme kerja otak kita dalam berpikir atau mengolah informasi yang kita pelajari, sehingga sering kali kita memaksakan otak kita untuk bekerja ekstra. Alhasil, kita mudah lelah atau pusing dan apa yang dipelajari tidak ada yang tersimpan dalam memori otak kita.

-Gaya Belajar

Setiap orang unik, dan memiliki gaya belajar masing-masing. Sudahkah kamu mengenali gaya belajarmu? Meskipun duduk di kelas yang sama dan bersekolah di sekolah yang sama, gaya belajar ternyata tidak pernah sama. Bahkan anak kembar sekalipun, gaya belajarnya bisa berbeda. Ada yang lebih mudah menangkap isi pelajaran jika disertai
praktik. Tipe seperti ini lebih suka berada di laboratorium untuk mempelajari dan mengamati ada juga yang harus berada di ruangan yang sunyi dan menutup pintu kamar rapat-rapat agar bisa berkonsentrasi belajar. Akan tetapi, cukup banyak juga yang mengaku pikiran mereka akan terbuka, justru, bila belajar sambil mendengarkan musik, entah yang mengalun merdu atau yang mengalun keras. Sementara sebagian lainnya merasa perlu untuk mencorat-coret kertas dengan coretan yang mudah dipahami sendiri.

Ada 3 tipe gaya belajar yang biasa dijumpai:

1. Gaya Belajar Visual
Untuk mendukung gaya belajar ini, gunakan beragam bentuk grafis yang dapat mengoptimalkan penglihatan dalam menyerap informasi/materi pelajaran. Perangkat grafis tersebut bisa berupa coretan, slide, kartu-kartu bergambar, ilustrasi, atau film.
Ciri-ciri gaya belajar visual:
• Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya anak akan melihat teman-teman lainnya terlebih dahulu baru kemudian dia bertindak.
• Senantiasa berusaha melihat bibir guru yang sedang mengajar.
• Cenderung menggunakan gerakan tubuh (untuk mengekspresikan dan menggantikan kata-kata) saat mengungkapkan sesuatu.
• Tak suka bicara di depan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain.
• Biasanya dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut dan ramai tanpa merasa terganggu.
• Biasanya kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan.
• Lebih suka peragaan dari pada penjelasan lisan.

  1. Gaya Belajar Auditori
    Gaya belajar ini menempatkan pendengaran sebagai alat utama untuk bisa memahami sekaligus mengingat informasi/materi pelajaran. Artinya, untuk bisa mudah mengingat dan memahami informasi tertentu, orang tersebut haruslah mendengarnya lebih dulu, di antaranya dengan cara membaca materi pelajaran dengan keras atau merekam materi pelajaran yang disampaikan di sekolah.

Ciri-ciri gaya belajar auditori:
• Dapat mengingat banyak sekali lagu atau iklan TV, bahkan dapat menirukannya secara tepat dan komplet.
• Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok atau kelas.
• Kurang cakap dalam mengerjakan tugas mengarang atau menulis.
• Cenderung banyak bicara.
• Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya.
• Kurang tertarik memerhatikan hal-hal baru di lingkungan sekitarnya, seperti hadirnya anak baru dan adanya papan pengumuman baru di pojok kelas.

  1. Gaya Belajar Kinestetik
    Gaya belajar ini mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh, bergerak, atau melakukan sesuatu untuk dapat mengingat atau memahami informasi/materi pelajaran. Ada dua karakteristik orang dengan model belajar seperti ini.

Karakteristik pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penyerap utama untuk bisa memahami atau mengingat informasi/materi pelajaran. Hanya dengan memegang sesuatu, seorang anak yang memiliki gaya belajar ini bisa memahami informasi terkait tanpa harus membaca penjelasannya.

Karakteristik berikutnya merupakan anak yang tak tahan duduk manis berlama-lama mendengarkan penyampaian materi pelajaran. Tak heran kalau individu yang memiliki gaya belajar ini merasa bisa belajar lebih baik kalau prosesnya disertai kegiatan fisik atau gerakan.

Tak jarang, individu yang cenderung memiliki karakteristik seperti ini lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata untuk kemudian belajar mengucapkannya atau memahami fakta yang terkandung. Nah, bagi kalian yang memiliki gaya belajar ini, dianjurkan untuk belajar melalu pengalaman dengan menggunakan berbagai model peraga Namun, jangan lupa mengalokasikan waktu untuk beristirahat sejenak di tengah waktu belajar.

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik:
• Memiliki koordinasi tubuh yang baik. Gemar menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya.
• Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar.
• Amat sulit untuk berdiam diri/duduk manis.
• Suka mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya tetap aktif.
• Kesulitan mempelajari hal-hal yang abstrak (simbol matematika, peta, dan sebagainya).
• Cenderung terlihat “agak tertinggal” dibanding teman sebayanya. Padahal, ini disebabkan oleh tidak cocoknya gaya belajar anak dengan metode pengajaran yang selama ini umum diterapkan di sekolah.

-Belajar dari yang Paling Mudah Terlebih Dahulu

Dalam belajar/ujian sering kali kita mengerjakan soal-soal yang paling sulit dulu. Jika belajar yang sulit terlebih dahulu, yang aktif adalah otak kiri. Akibatnya, otak kiri akan “kelebihan beban”. Belajar menjadi sulit dan membosankan. Jika belajar yang mudah dahulu, rasa optimis akan timbul dan memicu emosi positif (imajinasi keberhasilan). Selain itu, keseimbangan kedua belah otak akan mencapai gelombang alpha, yaitu kondisi yang paling ideal untuk belajar dan berkonsentrasi.

-Membaca Buku Tidak Harus dari Halaman Awal

Saat membaca buku, kita bisa langsung masuk ke tengah-tengah buku, atau bagian khusus yang dicari dari buku tersebut. Jika kita membaca dari awal, bisa jadi hal-hal penting baru akan ditemukan di saat otak sedang mengalami “kebosanan” dalam belajar.

-Variasi pada Materi yang Dipelajari

Dalam belajar, kita memerlukan variasi pada metode belajar, termasuk materi yang dipelajari. Karena hati memiliki masa semangat, tapi juga ada saatnya dihinggapi rasa bosan. Variasi itu akan mengobati kebosanan, dan mencegah pelampiasan kejenuhan ke arah yang tidak bermanfaat. Jika sedang bosan membaca, misalnya, cobalah menyelanya dengan menulis. Dan, jika menulis mulai terasa menjenuhkan, mengaktifkan pendengaran untuk mendengar kaset/CD bisa meringankan beban pikiran serta mengurangi kebosanan.

Begitupun dengan materi, jika membaca buku mencapai titik bosan lantaran dahi harus selalu mengerut, kita bisa mengambil jeda dengan bacaan-bacaan ringan, atau menggunakan materi selain buku yang kita suka. Ketika semangat mulai turun, aturlah stamina dan aktivitas sesuai dengan kemampuan. Terlampau memaksakan diri di luar kemampuan, umumnya, akan berujung pada kelelahan dan kebosanan.

-Batasan Waktu dan Sesi Belajar

Menciptakan batasan waktu dan sesi dalam belajar akan memudahkan kita mengatur materi yang akan dipelajari. Selain itu, kita juga bisa menjadi lebih fokus atau berkonsentrasi dalam belajar.

-Tidur yang Cukup

Tidur adalah bagian dari proses belajar dan stimulasi daya ingat. Otak kiri dan otak kanan akan menyeimbangkan diri saat kita tidur, otak akan memilih informasi yang telah diingatnya dengan cara menahan informasi yang dianggap penting dan melunturkan informasi yang kurang penting. Otak akan mengait-kaitkan informasi baru dengan informasi lama yang sudah tersimpan sebelumnya, sehingga pemahaman dan daya ingat akan menjadi optimal.

-Minum Air Putih yang Cukup

Saat kita mengingat, terdapat jutaan reaksi kimia dan elektris yang terjadi di dalam otak, dan ini membutuhkan energi yang besar, yaitu air. Bila tubuh kita kekurangan cairan, yang paling dahulu menderita adalah “otak”, karena kerja otak akan terganggu. Saat belajar, ambillah waktu jeda, dan sediakan air putih yang banyak.

Tulisan ini dikutip dari buku yang berjudul “Belajar Dengan Otak Kanan, Cara Belajar Asyik dan Keren” oleh Aris Setiawan dan Irwan SGM yang diterbitkan oleh Esensi Erlangga Group.

*Reporter: Mustika Fitri