Ilustrasi terkait. (Foto: Int.)

PROFESI-UNM.COM – Menurut banyak penelitian, kita membentuk dan memiliki sikap tertentu pada suatu objek sikap bukan tanpa motivasi. Smith dkk. (1956), Katz (1960), Herek (1986), ataupun Shavitt (1990) menyebutkan beberapa fungsi dari sikap. Smith dkk. mengatakan bahwa sikap berfungsi di dalam memenuhi kebutuhan psikologis di dalam memahami apa pun yang ada di lingkungannya, positif ataupun negatif (objectappraisal function), mengidentifikasi orang-orang yang disukai ataupun tidak disukai (social-adjustment function), dan mempertahankan diri dari konflik-konflik internal (externalization function). Berbeda dengan Smith, dkk., Katz (dalam Maio & Haddock, 2004) membagi fungsi sikap menjadi empat, yaitu:

  1. The knowledge function. Sikap sebagai skema yang memfasilitasi pengelolaan dan penyederhanaan pemrosesan informasi dengan mengintegrasikan antara informasi yang ada dengan informasi baru.

Dalam hal ini, sikap mempermudah kita di dalam memahami objek sikap dan dalam mengorganisasikan informasi-informasi yang berhubungan dengannya. Ketika dihadapkan pada suatu objek sikap yang tidak dikenal, kita bisa memahaminya dengan menggunakan skema.

  1. The utilitarian atau instrumental function. Sikap membantu kita mencapai tujuan yang diinginkan dan menghindari hasil yang tidak diinginkan. Kita akan cenderung menunjukkan sikap positif terhadap suatu objek sikap tertentu jika dianggap dapat mendatangkan keuntungan, sebaliknya kita akan menunjukkan sikap negatif terhadap suatu objek sikap tertentu jika dianggap dapat mendatangkan kerugian.

Kita mungkin memilih berafiliasi dengan partai politik tertentu, misalnya, karena partai tersebut dianggap dapat mewujudkan tujuan-tujuan pribadi kita.

  1. The ego-defensive function. Sikap berfungsi memelihap dan meningkatkan harga diri. Rogers (2003) menyeby fungsi ini dengan fungsi pemeliharaan harga diri Sikap positif kita terhadap barang-barang mewah misalnya, boleh jadi dikarenakan adanya keingina untuk meningkatkan harga diri kita di hadapan orang lain.
  2. The value-expressive function. Sikap digunakan sebagi alat untuk mengekspresikan nilai-nilai dan konsep diri, Dalam hal ini, sikap berfungsi untuk memperkenalkan nilai-nilai ataupun keyakinan kita terhadap orang lain. Orang yang menentang pornografi dan pornoaksi, misalnya, boleh jadi merupakan ekspresi dari niliinilai yang diyakininya.

Dua puluh tahun kemudian, Herex melakukan reformulasi dan reoperasionalisasi pendekatan fungsi sikap. Analisis isi terhadap 110 tulisan tentang sikap terhadap kaum gay dan lesbian diperoleh skema yang dapat menghubungkan antara fungsi sikap menurut Smith dan Katz.

Menurut skemanya, terdapat tiga fungsi sikap yang paling utama, yaitu: experiential-semantic, defensive, dan self expressive. Experiential-semantic function meliputi pengalaman dan pengetahuan mengenai objek sikap, sama dengan object appraisal dari Smith, Defensive function memproyeksikan unacceptable motives kepada orang lain, sama dengan externalization function dari Smith dan egodefensive dari Katz, dan self expressive function adalah fungsi sikap yang melayani kebutuhan untuk mengekspresikan identitas diri dan nilai-nilai yang dimiliki (Watt, Haddock, & Johson, 2008).

Pada tahun 1989, dengan melakukan analisis isi terhadap gambaran alasan dari sikap responden yang ditelitinya, Shavitt menyatakan bahwa objek sikap tertentu hanya cocok untuk fungsi sikap tertentu. Shavitt mengidentifikasi tiga fungsi sikap, yaitu utilitarian, social identity, dan self esteem maintenance. Menurutnya, sikap terhadap benda-benda akan lebih merefleksikan motif utilitarian daripada yang lainnya, sedangkan sikap terhadap simbol-simbol identitas atau nilai-nilai akan lebih merefleksikan motif social identity daripada yang lainnya (Watt, Haddock, & Johson, 2008).

Tulisan ini dikutip dari Buku Psikologi Sosial Integrasi Pengetahuan Wahyu dan Pengetahuan Empirik karya Dr. Agus Abdul Rahman, M.Psi. Diterbitkan oleh Rajawali Pers pada tahun 2013.(*)

*Reporter: Annisa Puteri Iriani