Onci Luliboli saat membacakan puisi karyanya - Foto. Tini-Profesi

PROFESI-UNM.COM – Bengkel Sastra (Bestra) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) meriahkan hari puisi lewat kegiatan Panggung Aku Jilid 2, Rabu (28/4) kemarin.

Kegiatan ini berlangsung di Panggung Daeng Pamatte FBS UNM, disiarkan langsung di akun Instagram Bestra. Karya yang dipentaskan merupakan karya anggota Bestra.

Salah satu anggota Bestra, Once, mengatakan, puisi yang Ia bawakan adalah karya yang Ia tulis saat sedang merindukan orang tuanya.

“Saya akan membawakan puisi yang saya tulis 2018 lalu, saat saya sedang merindukan Ibu saya,” ujarnya sebelum membaca puisi.

Berikut teks puisi Once Luliboli :

N(M)Mama adalah Ingatan Untuk Pulang

Di sudut kampung
Ada nama yang lelah mengakar
Menjadi penopang bagi doa-doa yang gugur dari ruas-ruas tubuh mu

Ia bersemadi dalam kesepian yang panjang
Tak pernah bersembunyi pada rindu
Setia merindu perahumu pulang

Tatkala luka-luka menjalar di kepalanya
Melelehkan pula iga-iga yang menua
Tetapi ia adalah nama yang kekal dengan sisa kekuatan menenun asa

Ia berjanji pada darah dan jantungnya
Tidak akan remuk dan henti di batas mimpi
Diatas perkara rindu yang merajalela

Di depan tiga mata tunggu
Ia menunggu dengan anggunnya
Bersumpah tanah pijakannya tidak akan runtuh sebelum tiba

Tidak akan ada yang menjadi abu
Meski laut dimata perahu mu adalah bara
Sekalipun lara telah menguasai cinta

Jika nama adalah ingatan
Perahu untuk kembali padanya kini telah menepi
Meski kosong dan sepi senggaja berhenti dikepala mu

Jika nama adalah ingatan untuk pulang
Kekuatan untuk mendulang rembulan
Maka ingatlah tidak berhak sedikit pun melupa

Perihal menanak rindu
Menenun kehangatan
Sungguh tak ada lagi kesetiaan lain yang sematkan untukmu

Hingga tiba pada pertemuan antara badai dan perahumu
Disudut kampung yang ditenun dengan air mata
Bersemayamlah ingatan itu

Segalanya berhenti
Segalanya remuk
Segalanya runtuh
Sampai pada kesetiaan yang paling hakiki
Dibawah rindang kersen
Ia berseru “dekaplah pada tubuh yang tak bernama ini”

Makassar, 2018 (*)

*Reporter: Kristiani Tandi Rani