Kenali Pendekatan Resource-based View untuk Analisis Organisasi dalam Buku Manajemen Strategik

0
147
Ilustrasi terkait: Foto-Int.

PROFESI-UNM.COM – Organisasi pada dasarnya merupakan sekumpulan kombinasi sumber daya. Organisasi memanfaatkan semua peluang yang dimilikinya, atau mengatasi segala ancaman yang dihadapinya dengan pemanfaatan sumber daya yang dimilikinya. Atas dasar itulah ia akhirnya bisa tumbuh dan berkembang.

Dalam manajemen strategik, pandangan bahwa sumber daya pada akhirnya menentukan keberlangsungan organisasi, seperti menang bersaing dan berkembang di sebuah industri disebut dengan Resources-based View (RBV). Perusahaan selalu memiliki berbagai aset, mulai dari aset fisik seperti pabrik, gedung, peralatan, lokasi, teknologi, dan lain-lain, aset manusia, yakni jumlah dan kecakapan karyawan, aset organisasi, yakni budaya, reputasi dan sistem kerja. Kesemua aset ini kita sebut dengan Sumber Daya.

Sumber daya ini dapat dieksploitasi oleh perusahaan, tergantung kemampuannya. Kemampuan mengeksploitasi secara baik sumber daya ini disebut sebagai Kapabilitas. Ibarat individu, belum tentu seorang yang memiliki bakat, misalnya pemain piano bisa bermain piano dengan baik. Ini sangat ditentukan dengan bagaimana ia mengembangkannya, dengan latihan, memerhatikan pemain piano kawakan, dan belajar. Di organisasi, berbagai cara bekerja, proses, interaksi dilakukan agar semua sumber daya ini dapat menghasilkan sesuatu yang optimal untuk organisasi menjadi sebuah kapabilitas. Oleh karena itu, bila kita berbicara kapasitas maka di organisasi ada kapabilitas pemasaran, kapabilitas manufaktur, kapabilitas pengembangan SDM, kapabilitas manajemen sistem informasi, kapabilitas riset & pengembangan, dan lain sebagainya.

Selain hal di atas, RBV ini termasuk pandangan yang dominan bila kita membicarakan bagaimana seharusnya menganalisis keunggulan bersaing yang berkelanjutan dari sebuah organisasi. RBV mengasumsikan bahwa masing-masing organisasi selalu punya sumber daya yang unik. Inilah yang membedakan dua perusahaan dengan ukuran tidak terlalu berbeda, ada di satu industri yang sama, bisa berbeda kinerja dan keberhasilannya.

Para peneliti dan pakar manajemen strategik punya kriteria sendiri-sendiri untuk membuat penggolongan. Penggolongan yang lazimnya dapat diterima adalah sumber daya dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu sumber daya berwujud (tangible) dan sumber daya nirwujud (intangible).

  • Sumber daya berwujud (tangible) dan yang nirwujud (intangible). Sumber daya berwujud adalah segala sesuatu yang tersedia di perusahaan yang secara fisik dapat diamati (disentuh), seperti bangunan, mesin, material, tanah, dan uang. Sumber daya nyata dapat kita katakan sebagai “perangkat keras” dari organisasi. Sementara itu, yang disebut sumber daya nirwujud adalah “perangkat lunak” dari organisasi. Sumber daya nirwujud tidak dapat disentuh, tapi sebagian besar dikerjakan oleh karyawan di organisasi. Secara umum, sumber daya berwujud perlu diadakan atau dibeli sementara sumber daya nirwujud perlu dikembangkan. Karena itulah, sumber daya berwujud lebih sering bisa ditransfer, lebih mudah untuk dihargai, dan biasanya jelas ada nilai neraca keuangan organisasi.
  • Sumber daya Relasional dan Kompetensi. Dalam kategori sumber daya intangible kita dapat menggolongkan dua jenis sumber daya lagi, yakni yang disebut sumber daya relasional dan kompetensi. Yang disebut dengan sumber daya relasional adalah segala sumber daya yang tersedia di organisasi yang muncul akibat interaksi organisasi dengan lingkungannya. Misalnya, hubungan organisasi dengan pelanggannya, pemasok, pesaing, atau instansi pemerintah. Hubungan ini bisa memuluskan upaya organisasi mencapai tujuannya. Selain soal hubungan ini, reputasi organisasi pun saat berhubungan dengan berbagai pihak tadi dapat dianggap menjadi sumber daya yang penting bagi organisasi. Misalnya dengan reputasi, hubungan dengan pemerintah menjadi lebih lancar misalnya. Para pemasok, yang kadang-kadang harus menyerahkan dulu pasokannya sebelum menerima pembayaran penuh, menjadi percaya. Apalagi kalau berbicara tentang konsumen kita, karena keberlangsungan sebuah organisasi bisnis sangat tergantung pada konsumennya.

Rumusan para pakar tentang kompetensi juga bermacam-macam. Meskipun demikian, penggolongan yang dibuat oleh Durand (1996) termasuk yang diterima luas. Durand mengatakan bahwa kompetensi seharusnya dibagi menjadi pengetahuan, kapabilitas, dan sikap. Penjelasan dari masing-masing komponen ini adalah sebagai berikut.

  1. Pengetahuan

Ini merupakan segala bentuk pengetahuan praktis (know-how), pengetahuan tentang sesuatu (know-what) yang dapat diperoleh dari informasi. Jadi, pengetahuan mengalir dan memengaruhi pemahaman kita tentang informasi. Bagaimana pemikir strategis melakukan analisis eksternal seperti yang kita lihat dalam Bab 2, Bab 4, mendapatkan pengetahuan ini. Misalnya, kita perlu pengetahuan tentang pasar yang akan kita jadikan sasaran, hasil-hasil dari inteligensi persaingan, kepakaran teknologi, dan pemahaman atas situasi politik.

  1. Kapabilitas

Kapabilitas, seperti yang dapat kita lihat diawal bab ini, dapat diartikan sebagai potensi organisasi untuk menjalankan aktivitas tertentu atau serangkaian aktivitas. Kadang-kadang istilah “kecakapan” digunakan untuk merujuk pada kemampuan kita menjalankan aktivitas fungsional, sementara “kapabilitas” dianggap bagaimana mengombinasikan berbagai kecakapan.

Organisasi bisa dikatakan memiliki kapasitas tertentu dalam bidang riset pasar, periklanan, atau produksi. Semua ini, bila dikombinasikan akan menjadi sebuah kapabilitas tertentu, misalnya pengembangan produk.

  1. Sikap

Sikap merujuk pada kerangka berpikir yang secara umum ada di dalam sebuah organisasi. Kadag-kadang istilah ini diartikan sebagai bagaimana organisasi melihat apa yang terjadi di sekitarnya. Ada semacam sikap mental yang melandasi para karyawan untuk bertindak.

Misalnya, perusahaan bisa dikarakterkan sebagai perusahaan yang bersikap mengutamakan mutu, yang sangat berorientasi internasional, mendorong terjadinya inovasi, atau sangat agresif dalam bersaing.

Tulisan ini dikutip dari buku dengan judul “Manajemen Strategik konsep dan aplikasi” karya M. Taufiq Amir pada halaman 85.

*Reporter: Ema Humaera

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini