Khaerun Nisa'a Tayibu, saat membawakan materi Ekofeminisme dalam kegiatan Talkshow Lingkungan, Teh Gubuk (Temu Hangat Menunggu Buka) oleh Madipala FIP UNM. (Foto: Tito-Profesi)
Khaerun Nisa'a Tayibu, saat membawakan materi Ekofeminisme dalam kegiatan Talkshow Lingkungan, Teh Gubuk (Temu Hangat Menunggu Buka) oleh Madipala FIP UNM. (Foto: Tito-Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Mahasiswa Pendidikan Pecinta Alam dan Lingkungan (Madipala) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan Talkshow Lingkungan Hidup Teh Gubuk (Temu Hangat Menunggu Buka) yang digelar di Convention Hall FIP UNM, Rabu (21/4).

Kegiatan Talkshow ini mengusung tema “Pendidikan, Perempuan dan Lingkungan”. Dalam kegiatan ini, menghadirkan tiga narasumber yaitu Wakil Dekan III FIP UNM, Ansar, Khaerun Nisa’a Tayibu, dan Nur Herliati Hidayah Herman.

Salah satu pemateri, Khaerun Nisa’a Tayibu membahas mengenai Ekofeminisme. Ica sapaannya menerangkan bahwa sebenarnya asal usul Ekofeminisme sudah terbentuk di zaman purba, dimana manusia pada saat itu masih berpindah-pindah.

“Landasan itu saya lihat dari beberapa penelitian dan yang paling menarik adalah perempuan bernama Auraponda yang menulis sebuah penelitian tentang asal usul Ekofeminisme,” terangnya.

Ica bercerita, hal yang melatarbelakangi munculnya Ekofeminisme berawal dari inisiatif perempuan yang menganggap bahwa perempuan tidak bisa hanya terus tinggal dan menunggu hasil yang didapat oleh seorang laki-laki. Hasil pemikiran itulah yang membuat para perempuan saat itu menemukan istilah bercocok tanam.

“Pada saat laki-laki pergi berburu sedangkan para perempuan dirumah menjaga dan mengurus anaknya, dari situ muncul yang namanya Survive,” ceritanya.

Ia juga mengatakan, pendidikan dan pola asuh keluarga yang menanamkan fikirkan derajat perempuan tidak sama dengan laki-laki membuat batasan bagi para wanita untuk dapat melakukan hal-hal yang mereka inginkan.

“Saya menyimpulkan bahwa saya di didik atau mungkin sebagian banyak wanita di didik oleh orang tua dengan banyak ketakutan, contohnya saja perempuan dilarang keluar malam, ataupun laki-laki yang punya banyak tuntutan untuk tidak menangis atau semacamnya karena dia laki-laki,” jelasnya.

Terakhir, wanita alumni PGSD UNM ini memberikan pesan sekaligus harapan untuk para wanita agar dapat kembali menjadi agen yang membawa perubahan untuk dunia.

“Semoga perempuan yang memulai bercocok tanam dan dapat survive, bisa kembali terjadi dizaman sekarang,” harapnya. (*)

*Reporter: Mustika Fitri