[Opini] Dilarang Berambut Gondrong II (?)

0
71

Sekarang saya sedikit membahas tentang stigma kedua, stigma ini masih berkesinambungan dengan stigma pertama. Biasanya, sosok polisi moral jika merasa argumennya mulai goyang, Ia akan segera mengeluarkan argumen keduanya. Yah, mengatasnamakan aturan yang sudah lama berlaku. Namanya aturan, dilanggar atau dipatuhi, tergantung lagi dengan aturannya, apakah tidak menyimpang layaknya RUU Ciptaker dan OmnibusLaw?  Atau aturan pelarangan menggunakan kata anjay ? Atau aturan syarat agar dapat melakukan live streaming di media sosial?

Beberapa aturan itu perlunya dibahas secara bersama dan terbuka ke publik, tapi jika mengatasnamakan aturan lama, bagaimana? Sebelum berbicara jauh, mari kita merawat ingatan definisi demokrasi. Bukankah sepenggal pengertian demokrasi adalah setiap warga negara berhak berpartisipasi baik secara langsung atau melalui perwakilan dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum. Berbicara aturan, maka segala aturan mengikat mahasiswa perlu melibatkan mahasiswa, jika dengan dalil aturan itu sudah ada sebelum kalian ada, maka perlu diingatkan.

Undang-Undang yang mengatur segala aspek kenegaraan sekalipun masih bisa direvisi apalagi aturan berskala kampus. Jika dihadapkan pada analogi, kita memasuki dan menyewa sebuah kamar kost dan area kost tersebut memiliki salah satu aturan dilarang ribut, sebagai manusia yang merdeka tentunya kita memiliki hak atas menjalani hidup, contoh singkatnya kita berada dalam kamar kost dan ingin memutar lagu favorit dengan speaker kita, secara kemerdekaan satu sisi, kita memiliki hak untuk memutar lagu dengan volume suara rendah atau tinggi tanpa harus memikirkan tetangga kamar kita, tetapi secara kemerdekaan dua sisi, kemerdekaan yang kita gaungkan juga terselip kemerdekaan orang lain, jika kita tetap ngotot untuk memutar lagu dengan volume tinggi secara tidak langsung kita merenggut kemerdekaan orang lain, yah kemerdekaan mereka yang ingin tidur nyenyak tanpa kebisingan, itulah yang dinamakan freedom not free, atau dengan terjemahannya menurut saya adalah kebebasan yang tidak bebas.

Tentunya aturan tersebut sudah sepatutnya kita patuhi tanpa harus terlibat dalam perumusannya, karena sudah jelas kita merugikan orang lain, berbeda dengan aturan rapi dengan konteks tidak berambut panjang, aturan itu sangat menyimpang, membahas perihal kemerdekaan hak asasi manusia juga tidak merugikan siapapun, membahas perihal mengganggu dalam proses belajar pun tidak juga, lantas apa yang membuat aturan itu wajib dipatuhi? Aturannya juga tidak ada yang tertulis untuk dilarang berambut panjang, yang ada hanya berpenampilan rapi. Bukankah kerapian itu dari apa yang dikenakan, Bung? Bukan apa yang lahir dan tumbuh pada badan.

Stigma ketiga, yah polisi moral itu acapkali menjelma sebagai peramal atau anak Tuhan, seketika mereka yang mengatur dan menetapkan takdir kita, mengatasnamakan kamu adalah calon pekerja nantinya. Sangat naif terdengar di telinga, jika benar saya adalah calon pekerja, apakah ada jaminan ketika saya lulus langsung menjadi pekerja? Itu pasti adanya atau masih abu – abu? Jika masih abu – abu maka perlunya stop menggunakan kalimat yang basi itu, kita hidup saat ini, bukan di masa depan, naif menjadi manusia jika telah memastikan hidup di masa depan dan sombong juga sebagai manusia jika tidak memiliki persiapan. Menyiapkan segala aspek sesuai dengan porsinya saja, perihal memenuhi kriteria panjang pendeknya rambut pekerja itu urusan dikemudian hari bukan saat ini. Toh, sekarang adalah mahasiswa, bukan pekerja ataupun budak.

Dari ketiga stigma diatas, lagi dan lagi saya teringat pada dua argumen yang pernah terucap di hadapan saya dan seringkali terucap dari mulut yang berbeda, “kamu gondrong untuk apa? Gondrongmu gondrong reformasi atau sekedar mengikuti trend saja?” Dan “pangkas saja rambutmu, kamu kelihatan agak tua seperti itu.” Bung, sini duduk, ngopi dulu biar tenang, barangkali otak Anda sedang mengalami kecelakaan bahkan bukan kecelakaan tunggal tetapi kecelakaan beruntung, ya beruntung karena dicekokin stigma Orde Baru, lalu dihantamkan opini media dan akhirnya dipoles oleh polisi moral.

Itu namanya beruntung tapi konteks untungnya ke arah yang disayangkan, saya memanjangkan rambut tidak memiliki tujuan utama, hanya sekedar memanjangkan saja dengan asas hak asasi manusia saya, mengubah stigma seseorang terkait lelaki rambut gondrong pun bukan tujuan saya, mau kamu sebut gondrong reformasi ataupun gondrong gaya – gayaan itu adalah hak kamu, mau menilai bahwa saya kelihatan tua atau seperti preman itu juga adalah hak kamu,  tapi jangan sampai hak berpendapatmu membuat orang dirugikan, itu sudah melanggar konsep kemerdekaan. Memanjangkan ataupun menulis artikel ini tidak bermaksud untuk mengubah mindsetmu, hanya saja sekedar menyampaikan, kali saja bisa sepaham. Salam kemanusiaan, Bung!!! (*)

*Penulis adalah Andi Juliandrie Abham, Mahasiswa Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Makassar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini