Pandangan-Dunia Post-Positivisme. (Foto: Annisa Asy Syam. A-Profesi).

PROFESI-UNM.COM – Asumsi-asumsi post-positivis merepresentasikan bentuk tradisional penelitian, yang kebenarannya lebih sering disematkan untuk penelitian kuantitatif ketimbang penelitian kualitatif. Pandangan-dunia ini terkadang disebut sebagai metode ilmiah atau penelitian sains. Ada pula yang menyebutnya sebagai penelitian positivis/post-positivis, sains empiris, dan post-positivisme. Istilah terakhir disebut post-positivisme karena ia merepresentasikan pemikiran post-positivisme, yang menentang gagasan gagasan tradisional tentang kebenaran absolut ilmu pengetahuan (Phillips & Burbules, 2000), dan mengakui bahwa kita tidak bisa terus menjadi “orang yang yakin/positif” pada klaim-klaim kita tentang pengetahuan ketika kita mengkaji perilaku dan tindakan manusia. Dalam perkembangan historisnya, tradisi post-positivis ini lahir dari penulis-penulis abad ke-19, seperti Comte, Mill, Durkheim, Newton, dan Locke (Smith, 1983), dan belakangan dikembangkan lebih lanjut oleh penulis-penulis seperti Phillips dan Burbules (2000).

Kaum post-positivis (postpositivist) mempertahankan filsafat deterministik yang bahwa sebab-sebab (faktor-faktor kausatif) sangat mungkin mnentukan akibat atau hasil akhir. Untuk itulah, problem-problem yang dikaji kaum post-positivis mencerminkan adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab yang memengaruhi hasil akhir, sebagaimana yang banyak kita jumpai dalam penelitian eksperimen kuantitatif. Filsafat kaum post-positivis juga cenderung reduksionistis yang orientasinya adalah mereduksi gagasan-gagasan besar menjadi gagasan-gagasan terpisah yang lebih kecil untuk diuji lebih lanjut, seperti halnya variabel-variabel yang umumnya terdiri dari sejumlah rumusan masalah dan hipotesis penelitian.

Pengetahuan yang berkembang melalui kacamata kaum post-positivis selalu didasarkan pada observasi dan pengujian yang sangat cermat terhadap realitas objektif yang muncul di dunia “luar sana”. Untuk itulah, melakukan observasi dan meneliti perilaku individu-individu dengan berlandaskan pada ukuran angka-angka dianggapsebagai aktivitas yang sangat penting bagi post-positivis. Akibatnya, muncul hukum-hukum atau teori-teori yang mengatur dunia, yang menuntut adanya pengujian dan verifikasi atas kebenaran teori-teori tersebut agar dunia ini dapat dipahami oleh manusia. Untuk itulah, dalam metode ilmiah, salah satu pendekatan penelitian “yang telah disepakati” oleh kaum post-positivis, seorang peneliti harus mengawali penelitiannya dengan menguji teori tertentu, lalu mengumpulkan data baik yang mendukung maupun yang membantah teori tersebut, baru kemudian membuat perbaikan -perbaikan lanjutan sebelum dilakukan pengujian ulang.

Membaca buku Phillips dan Burbules (2000), kita akan menemukan sejumlah asumsi dasar yang menjadi inti dalam paradigma penelitian post-po-sitivis, antara lain:

  1. Pengetahuan bersifat konjektural/terkaan (dan antifondasional/tidak berlandasan apa pun) -bahwa kita tidak akan pernah mendapatkan kebenaran absolut. Untuk itulah, bukti yang dibangun dalam penelitian sering kali lemah dan tidak sempurna. Oleh karena alasan ini pula, berdasarkan peneliti yang berujar bahwa mereka tidak dapat membuktikan hipotesisnya; bahkan, tidak jarang mereka juga gagal untuk menyangkal hipotesisnya.
  2. Penelitian merupakan proses membuat klaim-klaim, kemudian menyaring sebagai klaim tersebut menjadi “klaim-klaim lain” yang kebenarannya jauh lebih kuat. Sebagian besar penelitian, misalnya, selalu diawali dengan pengujian atas suatu teori.
  3. Pengetahuan dibentuk oleh data, bukti, dan pertimbangan-pertimbangan logis. Dalam praktiknya, peneliti mengumpulkan informasi dengan menggunakan instrumen-instrumen pengukuran yang diisi oleh para partisipan atau dengan melakukan observasi mendalam di lokasi penelitian.
  4. Penelitian harus mampu mengembangkan statemen-statemen yang relevan dan benar, statemen-statemen yang dapat menjelaskan situasi yang sebenarnya atau dapat mendeskripsikan relasi kausalitas dari suatu persoalan. Dalam kuantitatif, peneliti membuat relasi antvariabel dan mengemukakannya dalam penelitian bentuk pertanyaan dan hipotesis.
  5. Aspek yang terpenting dalam penelitian adalah sikap objektif; para peneliti harus menguji kembali metode-metode dan kesimpulan-kesimpulan yang sekiranya mengandung bias. Untuk, penelitian kuantitatif, validitas standar dan reliabilitas menjadi dua aspek penting yang wajib dipertimbangkan oleh peneliti.

Informasi terkait: https://profesi-unm.com/2021/04/02/tiga-komponen-penting-dalam-rancangan-penelitian/

Tulisan ini dikutip dari buku “Research Design. Perbedaan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran” oleh John W. Creswell, yang diterjemahkan oleh Achmad Fawaid dan Rianayati Kusmini Pancasari dan diterbitkan pada 2019 oleh Penerbit Pustaka Belajar. (*)

*Reporter: Annisa Asy Syam. A