Buku Filsafat Administrasi Pendidikan oleh Prof. Suparlan Suhartoni, M. Ed., Ph.D yang diterbitkan oleh Badan Penerbit UNM. (Foto: Agatoni Buttang-Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Di dalam bidang filsafat, ada cabang filsafat aksiologi (axiology) yang mempersoalkan tentang tiga nilai yaitu keindahan (esthetic), kebenaran (epistemology) dan kebaikan (ethic). Berakar dari bahasa Yunani “ethikos”, etika berarti adat kebiasaan yang terkait kegiatan praktis dalam bentuk perilaku. Jadi, etika adalah bidang filsafat nilai yang mempersoalkan perilaku sejauh mengandung nilai kebaikan.

Menurut bentuk dan sifatnya, ada dua jenis nilai kebaikan objektif dan subyektif, yang berkembang menjadi paham objektivisme dan subyektivisme etika. Objektivisme etika, menjelaskan tentang nilai kebaikan suatu perilaku berdasarkan kesesuaiannya dengan nilai kebenaran objektif yang terkandung di dalam sasaran perilaku itu. Misalnya, memberi pertolongan kepada orang lain adalah perilaku yang bernilai baik karena secara faktual orang tersebut memang dalam keadaan serba kekurangan. Sedangkan subyektivisme etika, menjelaskan bahwa nilai kebaikan suatu perilaku diukur menurut “kepentingan pribadi” subyek terhadap sasaran perilaku. Misalnya, atas suatu kepentingan perebutan kekuasaan di dalam suatu pemilihan umum, sementara calon bermain politik dengan cara memberi uang (money politics) kepada para pemilih.

Secara filosofis, perilaku yang mengandung nilai kebaikan pasti beralasan mengapa dikerjakan. Di dalam alasan terkandung hak dan kewajiban. Atas dasar hak, suatu perilaku adalah kewajiban. Begitu sebaliknya, setelah melakukan kewajiban bisa diperoleh hak. Jadi, di dalam alasan terdapat hubungan sebab-akibat (causality) mengapa sesuatu dilakukan. Perilaku bernilai kebaikan dapat diformulasikan “sebagai suatu kewajiban kodrat bagi seseorang untuk memberikan barang sesuatu kepada pihak lain, sejauh memiliki hak kodrat untuk menerima pemberian itu. Jadi, pada akhirnya dapat dipahami bahwa etika adalah bidang filsafat perilaku adil.

Terkait dengan administrasi pendidikan, persoalan pokok etika ada pada seberapa efektif perencanaan (aspek ontologis) pendidikan dan managerial pelaksanaannya (aspek epistemologis) berfungsi sebagai dasar pertanggung-jawaban pencapaian tujuan pendidikan dan pembelajaran di sekolah.

Oleh karena itu, etika administrasi pendidikan adalah persoalan tanggungjawab manajerial pembelajaran efektif di sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Akan tetapi, karena keberadaan sekolah adalah atas kehendak masyarakat, maka manajemen pembelajaran efektif itu bukan semata-mata tanggungjawab sekolah. Untuk itu, diperlukan dukungan masyarakat luas dan pemerintah. Sementara itu, pihak sekolah perlu terus berupaya meningkatkan manajemen internal kelembagaannya, pihak masyarakat perlu meningkatkan dukungan partisipasinya, dan kemudian pihak pemerintah perlu lebih realistis dalam menentukan kebijakan nasional kependidikan.

Secara akumulatif, pihak internal sekolah memerlukan gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan budaya berpikir, bersikap dan berperilaku etis manajerial. Setidaknya ada tiga sasaran manajerial kepemimpinan sekolah, yaitu: a) kompetensi dalam menyusun kurikulum berbasis pembinaan kecakapan dan ketrampilan hidup, b) kompetensi dalam upaya meningkatkan pembinaan kualitas profesionalisme guru secara berkelanjutan, dan c) kompetensi dalam meningkatkan pembinaan peran siswa sebagai subyek didik.

Sekolah dituntut untuk meningkatkan kompetensi manajerial supervisi kepemimpinan kepala sekolah untuk menanam dan menumbuhkan spirit budaya belajar ke dalam diri siswa. Diharapkan, jika peserta didik berkarakter budaya belajar, kelak bisa menjadi individu yang mampu berperan sebagai inovator sosial. Sekali lagi mereka berindikasi sebagai:

  1. Individu berwawasan. Maksudnya, berpandangan bahwa eksistensi kehidupan pasti berasal-mula dan bertujuan. Dalam menjalani kehidupan ia berpedoman pada nilai-nilai hakiki asal-mula, sehingga gerakan hidupnya bergerak lurus menuju tujuan. Karena, pada hakikatnya tujuan dan asal-mula adalah satu substansi:
  2. Individu kreatif. Berbasis wawasan hidup, seseorang bersikap penuh percaya diri untuk selalu mencipta jalan keluar dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup:
  3. Individu berperilaku adil. Berdasarkan kreativitas hidup, seseorang terdorong untuk selalu berperilaku produktif berkeadilan. Setiap perilaku harus diukur dengan daya produktivitasnya, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan yang lebih bermartabat dan berbudaya.

Substansi etika administrasi pendidikan adalah persoalan manajemen pembinaan siswa berkarakter budaya belajar sebagai landasan dasar pengembangan sistem tata kelola kegiatan belajar di sekolah. Keberhasilan penanaman karakter budaya belajar, diharapkan berbuah individu berjiwa pembelajar sejati (real learner), individu yang memfungsikan kegiatan belajar sebagai jiwa daripada seluruh kegiatan hidupnya.

Tulisan ini dikutip dari buku yang berjudul “Filsafat Administrasi Pendidikan” oleh Prof. Suparlan Suhartoni, M. Ed., Ph.D yang diterbitkan oleh Badan Penerbit UNM. (*)

*Reporter: Agatoni Buttang