Buku Konseling Singkat Berfokus Solusi, Sabtu(3/4) - Foto(Nisa-Profesi).
Buku Konseling Singkat Berfokus Solusi, Sabtu(3/4) - Foto(Nisa-Profesi).

PROFESI-UNM.COM – Dalam pendekatan SFBC, ada beberapa konsep utama yang menjadi tujuan terapeutik (Berg & Miller, 1992, Walter & Peller, 1992: Proschaska & Norcross, 2007). Adapun kriteria tersebut sebagai berikut:

  1. Bersifat positif

Ungkapan tujuan terapeutik tidak berpusat pada penyataan-pernyataan diri yang sifatnya negatif, namun mengandung pernyataan “maka, sebagai gantinya (instead)”. Sebagai contoh: ungkapan tujuan: “Saya akan meninggalkan kebiasaan minum-minuman keras” atau “Saya akan keluar dari perasaan depresi dan cemas”. Pernyataan-pernyataan tersebut belum cukup mewujudkan suasana positif.

Suasana positif akan terwujud jelas ketika pernyataan tersebut memberikan muatan tindakan positif (berbarengan) yang akan dilakukan oleh konseli. Dalam proses terapeutik, pernyataannya dapat diwujudkan dengan “Apa yang akan Anda lakukan sebagai ganti meninggalkan kebiasaan minum-minuman keras”. Atau dapat juga konseli menyatakan bahwa “Sebagai ganti kebiasaan minum-minuman keras, saya berolahraga secara teratur tiga kali dalam seminggu”, “Sebagai ganti rasa depresi dan cemas, saya mengikuti perkumpulan pengajian setiap hari Jumat dan Minggu malam”.

  1. Mengandung proses

Kata kunci yang mewakili proses adalah bagaimana. Pertanyaan berorientasi pada bagaimana mengisyaratkan dan mengandung Suatu proses suatu peristiwa yang dialami oleh konseli.

Bentuk Pertanyaan itu misalnya “Bagaimana Anda akan melaksanakan alternatif yang lebih sehat dan membuahkan kenyamanan serta kebahagiaan?”.

Pertanyaan ini juga sebagai jawaban sebagai tujuan terapeutik yang ingin dicapai oleh konseli.

  1. Merangkum gagasan tentang kurun waktu kini

Perubahan terjadi kini, bukan kemarin, bukan pula esok. Pertanyaan sederhana yang bisa membantu adalah “Setelah Anda meninggalkan hal yang lama hari ini dan kemudian Anda tetap berada pada jalur yang tepat, hal apa yang akan Anda lakukan dengan cara yang berbeda atau hal berbeda apa yang akan Anda katakan pada diri sendiri di hari ini?”.

  1. Bersifat praktis

Sifat praktis itu terwakili oleh jawaban yang memadai atau pertanyaan “Sejauh mana tujuan Anda bisa dicapai?” Kata kunci di sini adalah dapat dicapai (attainable) atau dapat dilaksanakan.

Para konseli yang hanya menginginkan pasangan, karyawan, orangtua, atau guru mereka berubah, tidak memiliki solusi yang dapat dilaksanakan, dan mereka hanya akan berada dalam kehidupan yang dimuati lebih banyak problem.

  1. Berusaha untuk merumuskan tujuan serinci mungkin

Hal tersebut terwakili oleh jawaban yang memadai atas pertanyaan “Serinci apa Anda akan melakukan pekerjaan?”. Tujuan yang bersifat global, abstrak, atau ambigu (mendua) semisal yang terwakili oleh pernyataan “Menggunakan waktu lebih banyak bersama keluargaku”, tidak seefektif tujuan spesifik, seperti yang terwakili oleh pernyataan “Secara spesifik, aku akan menggunakan waktu 15 menit untuk berjalan-jalan dengan istriku setiap sore” atau “Aku akan secara sukarela melatih regu sepakbola anakku’ atau “Aku akan bermain golf dengan anakku pada hari Sabtu”.

  1. Adanya kendali di tangan Konseli

Hal tersebut terwakili oleh jawaban atas pertanyaan “Apa yang akan Anda lakukan ketika alternatif baru terwujud?”. Kata kunci di sini adalah Anda, konseli, karena Anda memiliki kompetensi, tanggung jawab, dan kendali (kontrol) untuk mewujudkdkan hal-hal yang lebih baik.

  1. Menggunakan bahasa Konseli

Gunakan kata-kata konseli untuk membentuk tujuan, bukan bahasa teoretis konselor atau konseli. “Aku akan bercakap-cakap sebagai sesama orang dewasa dengan ayahku lewat telepon seminggu sekali” (bahasa konseli), ini lebih efektif daripada mengatakan “Aku akan menyelesaikan konflik oedipal dengan ayahku (bahasa teoretis konselor/konseli).

Pentingnya peran perumusan tujuan terapeutik dalam SFBC mencerminkan pandangan bahwa konseling atau psikoterapi berlangsung pada masa sekarang (saat ini) dengan dipandu tujuan utama berurusan dengan problem dan masa lampau.

Tulisan ini dikutip dari buku berjudul SFBC (Solution Focus Brief Counseling) halaman 50-53 yang terbit oleh Kencana paa tahun 2019. Buku ini ditulis oleh Mulawarman, Ph.D. yang merupakan dosen Universitas Negeri Semarang (UNNES).(*)

*Reporter: Annisa Puteri Iriani