Buku Teori-Teori Kepribadian. Foto-Ist
Buku Teori-Teori Kepribadian. Foto-Ist

PROFESI-UNM.COM – Terdapat tiga aliran besar yang memiliki asumsi berbeda dalam melihat faktor-faktor yang membentuk kepribadian. Tiga aliran tersebut adalah nativisme, empirisme, dan konvergensi.

  1. Aliran Nativisme

Aliran nativisme bertolak dari leibnitzian tradition yang menekankan kemampuan dalam diri setiap pribadi sehingga faktor lingkungan, termasuk faktor pendidikan, kurang berpengaruh terhadap kepribadian.

Aliran nativisme berpandangan bahwa segala sesuatunya ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak
lahir. Jadi, perkembangan individu itu semata-mata dimungkinkan dan ditentukan oleh dasar turunan. Misalnya, jika orangtuanya berkepribadian muslim, kemungkinan besar anaknya juga berkepribadian muslim. Aliran nativisme memandang hereditas (heredity) sebagai penentu kepribadian. Hereditas adalah totalitas sifat-sifat karakteristik yang dibawa atau dipindahkan dari orang tua ke anak keturunannya.

Asumsi yang mendasari aliran nativisme ini, adalah bahwa pada kepribadian anak dan orang tua terdapat banyak kesamaan, baik dalam aspek fisik maupun psikis. Setiap manusia memiliki gen, dan gen orangtua ini yang berpindah kepada anak.

Dengan demikian, para penganut aliran nativisme berpandangan bahwa bayi itu lahir sudah dengan pembawaar baik dan pembawaan buruk berdasarkan gen orangtuanya.

Kepribadian ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Berdasarkan pandangan ini, baik dan buruknya kepribadian seseorang ditentukan oleh pembawaan. Bagi aliran nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam memengaruhi kepribadiari seseorang. Kepribadian buruk dan baik tidak dapat diubah oleh kekuatan lingkungan.

Ajaran aliran nativisme ini bersifat passimisme karena para penganutnya menunjukkan sifat pesimistis terhadap kemampuan manusia dalam mengembangkan kepribadiannya yang dibawa sejak lahir. Dengan kata lain, kepribadian anak seluruhnya ditentukan oleh hukum-hukum pewarisan.

Adapun tokoh utama (pelopor) aliran nativisme adalah Arthur Schopenhaur (Jerman 1788-1860). Tokoh yang lain seperti J.J. Rousseau seorang ahli filsafat dan pendidikan dari Prancis. Kedua tokoh ini berpendapat betapa pentingnya “inti” privasi atau jati” di kepribadian manusia.

Dengan begitu aliran ini hampir mirip dengan keyakinan agama budaya yang menyatakan bahwa arwah serta pembawaan nenek moyang dapat kembali pada garis keturunannya (reinkarnasi). Arwah yang baik mereinkarnasi pada keturunannya untuk memberikan petunjuk kepada manusia yang hidup. Berdasarkan uraian di atas, aliran nativisme pada dasarnya terlepas dari konsep fitrah karena melepaskan diri dari ikatan agama yang transedental. Menurut aliran ini, manusia seakan-akan menuhankan orangtua dan
nenek moyang karena dialah sumber utama pewarisan kepribadian.

  1. Empirisme

Aliran empirisme bertentangan dengan paham aliran nativisme. Empirisme (empiris, artinya pengalaman) dan disebut juga aliran environmentalisme, yaitu aliran yang menitikberatkan pandangan-nya pada peranan lingkungan sebagai penyebab timbulnya kepribadian. Aliran ini tidak mengakui adanya pembawaan atau potensi kepribadian yang dibawa manusia sejak kelahirannya. Aliran ini berpandangan bahwa kepribadian seseorang besar pengaruhnya pada faktor lingkungan.

Asumsi psikologis yang mendasari aliran empirisme ini bahwa manusia lahir dalam keadaan netral, tidak memiliki pembawaan kepribadian.

Inti ajaran aliran ini adalah menganggap kepribadian menjadi berbeda apabila dirangsang oleh usaha-usaha sekuat tenaga. Kepribadian manusia bukan sebuah robot yang diprogram secara deterministik, apalagi menyerah pada pembawaan nasibnya.

Dengan demikian, aliran empirisme telah menyumbangkan pemikiran tentang cara manusia agar membentuk kepribadiannya yang ideal. Tokoh perintis aliran empirisme adalah John Locke (1704-1932) yang mengembangkan teori “Tabula Rasa, yakni anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih.

Pengalaman empirik yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan kepribadian manusia.

  1. Aliran Konvergensi

Aliran ini berpandangan bahwa corak kepribadian ditentukan oleh dasar (bakat, keturunan) dan lingkungan, kedua-duanya memainkan peranan penting. Aliran ini menekankan adanya hubungan antara faktor pembawaan sejak lahir dan faktor pengalaman yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya.

Aliran konvergensi mempertemukan teori nativisme dan empirisme.

Perintis aliran konvergensi adalah William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia disertai pembawaan baik atau buruk.”

Kepribadian baik yang dibawa anak sejak kelahirannya tidak berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan kepribadian. Dengan demikian, inti ajaran aliran konvergensi bahwa kepribadian seseorang tidak hanya ditentukan oleh faktor warisan, dan tidak juga ditentukan oleh faktor lingkungan. Kepribadian seseorang akan ditentukan oleh hasil perpaduan antara kedua faktor tersebut, hasil kerja sama antara faktor-faktor yang ada pada diri seseorang, dan faktor-faktor di luarnya akan bermuara suatu pribadi yang ideal.

Tulisan ini dikutip dari Buku Karya Drs. Ujam Jaenuddin, M.Si. berjudul “Teori-teori Kepribadian” terbitan Pustaka Setia Bandung pada tahun 2015. Drs. Ujam Jaenuddin, M.Si. merupakan dosen Fakultas Psikologi UIN Bandung. (*)

*Reporter: Annisa Puteri Iriani