Sampul Filsafat Administrasi Pendidikan, Sabtu(3/4). Foto (Annisa-Profesi)
Sampul Filsafat Administrasi Pendidikan, Sabtu(3/4). Foto (Annisa-Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Jika ilmu pendidikan digambarkan sebagai sebuah pohon, maka pada bagian mana posisi administrasi pendidikan itu? Atas posisinya itu, fungsi apa yang seharusnya didukung oleh bidang administrasi pendidikan? Secara alami, sebuah pohon tumbuh berkembang dari “biji” di atas lahan, dan kemudian berbuah. Agar bisa berbuah lebat, maka mutlak diperlukan bibit unggul (input), pengelolaan kesuburan lahan, pemeliharaan (process), hingga berbuah produktif (output) dan efisiensi dalam pemanfaatan buah hasilnya (outcome).

Begitu pula halnya pohon pendidikan juga tumbuh dari benih, selanjutnya ditanam di atas lahan, tumbuh berkembang, berbuah dan kemudian dapat dimanfaatkan. Adapun benih pendidikan itu, terlahir dari bakat atau potensi kecerdasan di dalam diri manusia. Potensi kecerdasan itu, ditanam di atas lahan pembelajaran yang dikelola secara efektif dan tumbuh berkembang yang kemudian membuahkan kecerdasan spiritual, intelektual dan moral.

Manusia, selalu terlahir dari dinamika kehidupan sosial. Sedangkan dinamika sosial itu berakar dari sistem tatanan adat kebudayaan yang membentuk perilaku sosial di dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh sebab itu, perilaku sosial berbasis kecerdasan spiritual, intelektual dan moral dapat katakan sebagai buah pohon pendidikan. Perilaku sosial demikian itu, diyakini dapat memberikan nilai manfaat bagi kelangsungan dan perkembangan hidup.

Berdasarkan pada sistem efektivitas manajemen pembelajaran tersebut, maka menjadi jelaslah bahwa posisi dan fungsi administrasi pendidikan sebagai penyubur lahan pendidikan yang sarat “nutrisi”. Adapun nutrisi itu berasal dan kualitas sosial kehidupan masyarakat yang padat nilai-
niat kemanusiaan. Secara sederhana, kualitas sosial itu mencakup tiga aspek yatu stayis antropologis dan sosiologis. Aspek psikologis, terkait persoalan dinamika penyadaran perilaku (behavior) ke arah pengembangan kehidupan bemasyarakat sebagai kewajiban kodrat manusia.

Sedangkan aspek antropologis terkait dengan persoalan dinamika budaya perilaku kemanusiaan ke arah terbentuknya kehidupan masyarakat yang berkeadilan sosial. Adapun aspek sosiologis, terkait persoalan dinamika rekonstruksi perilaku sosial ke arah penataan sistem kehidupan bermasyarakat menurut hakikat nilai-nilai peradaban (civilization) yang tumbuh di dalam suatu kehidupan masyarakat itu. Tiga serangkai hakikat perilaku itu, penting dan perlu untuk difungsikan sebagai pedoman dasar dalam menentukan kebijakan administratif kependidikan nasional.

Jika demikian halnya, maka diyakini dapat tercipta jalan lurus menuju pencapaian tujuan pendidikan nasional, mencerdaskan kehidupan bangsa. Selanjutnya, seperti telah diajukan suatu penilaian pada bagian sebelumnya bahwa krisis pendidikan sedang terjadi di negri kita ini. Penilaian itu ditarik dari suatu dugaan yang kuat bahwa sedang terjadi mismanagement di dalam kelangsungan pendidikan nasional.

Hal itu bisa terjadi karena efektivitas pemberdayaan administrasi pendidikan di lembaga pendidikan sekolah tidak optimal. Secara filosofis keilmuan, administrasi pendidikan perlu dipahami sebagai suatu bidang studi ilmu pendidikan. Sebagai ilmu, tujuan atau sasarannya sudah pasti “nilai kebenaran pendidikan”. Oleh karena itu,
diperlukan metoda, sistem dan teori-teori tertentu yang relevan dan dapat difungsikan untuk mencapai tujuan kebenaran pendidikan. Pada titik itulah administrasi pendidikan terlihat jelas fungsinya sebagai metoda, sistem, dan teon pencapaian tujuan kebenaran pendidikan. Jadi, administrasi pendidikan adalah suatu bidang studi berfungsi metodologis bagi ilmu pendidikan.

Tulisan ini dikutip dari buku dengan judul “Filsafat Administrasi Pendidikan” Oleh Prof. Suparlan Suhartono, M. Ed., Ph. D. Penerbit: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar tahun 2015. (*)

*Reporter: Annisaalifa Annisyul