PROFESI-UNM.COM – Argyris memandang ketegangan antara individu dan organisasi lebih disebabkan keperluan organisasi untuk rasionalitas dan spesialisasi daripada praktik-praktik manajemen otoriternya yang biasa. Dalam hal ini, Argyris lebih sebagai seorang teoretisi organisasi ketimbang McGregor, yang lebih cocok dipandang sebagai teoretisi manajemen.

Argyris menganggap logika organisasi sudah diketahui sebelumnya. Perbedaan yang sangat bagus ini mengundang perhatian kepada minat Argyris pada imperatif-imperatif yang tersirat dalam struktur logis dan keperluan fungsional organisasi formal. Hal ini menghasilkan pandangan mengenai efektivitas organisasional dalam hal-hal tertentu bukan tak mirip dengan pandangan para teoretisi sistem arus utama.

Akan tetapi tidak seperti mereka, Argvris menunjukkan degan jelas perhatian yang jauh lebih besar, dan benar-benar menggunakannya sebagai titik tolak analisis kepada karakteristik kematangan individu dan proses-proses yang terkandung dalam perkembangan mereka menuju kedewasaan, Dalam karya awalnya yang paling penting di bidang perilaku organisasional, Personality and Organization, Argyris mengidentifikasi empat imperatif untuk perkembangan individu yang sehat bila dilihat dalam hubungannya dengan organisasi formal:

  1. Mengurangi perasaan ketergantungan, ketundukan, subordinasi, dan kepasifannya kepada manajemen.
  2. Mengurangi kemungkinan bahwa dia menjadi subjek tindakan unilateral sewenang-wenang oleh orang-orang yang berkuasa, dengan demikian meningkatkan kemungkinan bahwa dia dapat menemukan kesempatan untuk menjadi bertanggung jawabpada diri sendiri.
  3. Mengungkapkan perasaan terpendam mulai dari agresi dan permusuhan langsung hingga internalisasi pasif ketegangan yang disebabkan oleh organisasi formal, kepemimpinan yang bersifat mengarahkan, pengendalian manajemen, dan program-program relasi manusia yang pura-pura.
  4. Menciptakan dunia informalnya sendiri dengan kebudayaan dan nilai-nilainya sendiri di mana ia dapat menemukan naungan psikologis dan jangkar yang kokoh untuk memelihara stabilitas sementara dalam proses penyetelan dan penyesuaian terusmenerus kepada organisasi formal (dan kepemimpinan yang bersifat mengarahkan). Dengan menciptakan dunia informal itu dia juga dapat mengambil peran aktif dalam memengaruhi organisasi formal.

Agak mengingatkan kepada Weber, Argyris mengutip beberapa karakteristik organisasi formal yang tidak cocok secara logis dengan persyaratan individu yang matang. Misalnya, spesialisasi menghendaki seseorang menggunakan sedikit saja kemampuannya, dan semakin terspesialisasi tugasnya semakin sederhana kemampuan dipergunakan. Hal ini bertentangan secara langsung dengan kecenderungan manusia yang menginginkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih kompleks, lebih menarik ketika dia berkembang.

Sama halnya, otoritas hierarkis menghambat kebutuhan otonomi dan pengarahan-diri yang khas pada individu dewasa. Organisasi informal, kendati rapuh terhadap patologinya sendiri, berlaku sebagai tempat perlindungan bagi kesehatan, di sinilah para anggota individual dapat berjuang memenuhi kebutuhan-kebutuhan perkembangan mereka. Tidak seperti Weber, Argyris melihat organisasi formal diikat tak terpisahkan oleh teori manajemen yang telah memunculkannya.

Oleh karena itu, meskipun dia melihat “kurangnya keserasian antara kebutuhan individu yang sehat dan tuntutan organisasi formal,” manajemen secara sadar dapat mengubah tuntutan itu untuk membuatnya lebih serasi dengan kebutuhan individu yang sehat. Sesungguhnya, ini adalah tugas utama manajemen dan dapat berbentuk pemekaran kerja, partisipasi karyawan yang lebih besar dalam membuat keputusan-keputusan organisasional, dan praktik-praktik lain yang biasanya dikaitkan dengan, misalnya, karya McGregor.

Oleh karena itu, melalui usaha yang tercerahkan, kebutuhan-kebutuhan individu dan organisasi dapat dipadukan. Hanyalah teori yang secara khas memandu organisasi formal, bukan fakta organisasi formal itu, yang menghalangi perkembangan individu yang sehat. Sebagai Ciptaaan manusia, teori dapat diubah secara sengaja, jika kita memiliki kecerdasan untuk melakukannya.

Dalam hal ini, Argyris memberikan Suatu gambaran yang lebih optimistik mengenai kemungkinan organisasi menjadi apa daripada yang diberikan, misalnya, William Scott yang melihat individu agak banyak dihukum oleh “imperatif Organisasional”, atau para teoretisi kritis, yang beranggapan bahwa organisasi pada dasarnya bersifat menindas, Dengan demikian Argyris mengambil posisi pertengahan antara kadang pesimisme muram para penulis ini dan kadang citra ramah kehidupan organisasional yang  dimunculkan oleh Barnard dan para teoretisi sistem yang mengikuti alurnya.

Tulisan ini dikutip dari buku yang berjudul “Teori Administrasi untuk Administrasi Publik” oleh Michael M. Harmon dan Richard T. Mayer yang diterbitkan oleh Kreasi Wacana. (*)

*Reporter: Mustika Fitriw