Bayu Ramadhan dan M. Yunasri Ridhoh pemateri bedah buku menjelaskan isi novel 'Laut Bercerita'. Foto: Mustika Fitri

PROFESI-UNM.COM – Laut Bercerita merupakan novel yang dibahas dalam kegiatan bedah buku oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Makassar (UNM). Kegiatan bedah buku digelar di Aula Gedung Flamboyan BE 105 FIS UNM, Senin (29/3).

Bedah buku “Laut Bercerita” ini menghadirkan dua pamateri yaitu M. Yunasri Ridhoh Ketua Maperwa FIS UNM 2015-2016 dan Bayu Ramadhan Ketua Maperwa FIS UNM 2016-2017. Dalam kesempatan itu, Yunasri memberikan gambaran isi novel tersebut yang isinya menyinggung peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa orde baru yaitu masalah Hak Asasi Manusia (HAM).

“Karena sebetulnya semangat utama dari novel ini adalah ingin menyampaikan dua hal, satu tentang melawan lupa atau merawat ingatan bahwa kita pernah ada masa dimana negara kita itu betul-betul kelam dimana hukum itu tidak ada nilainya, kekuasaan itu bergerak secara arogan, dan kesewenang-wenangan terjadi. Yang kedua ini sekaligus peringatan bahwa tidak menutup kemungkinan peristiwa kelam di masa orde baru itu kembali terulang” ujarnya.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa dengan menerima hak asasi kita sudah menjembatani dua arus yaitu arus sosialis dan arus liberalisme karena dalam HAM ada paham kebebasan dan ada paham kesetaraan, paham kesejahteraan, dan paham kemakmuran yang merupakan cita-cita semua ideologi.

“HAM itukan terbagi menjadi beberapa generasi, generasi pertama itu mewakilkan sipil politik, kebebasan untuk menyampaikan pikiran, kebebasan untuk memilih agama dan keyakinan, berkumpul seperti ini. Generasi kedua itu adalah legality, kesetaraan dimana generasi kedua lebih bicara hak atas perumahan, hak atas pekerjaan, hak atas pendidikan, hak atas kesehatan yang murah dan terjangkau,” jelasnya.

Ketua Maperwa FIS UNM tahun 2015-2016 itu juga mengatakan bahwa dalam novel memuat paham kesetaraan, paham kebebasan dan paham kesejahteraan oleh karena itu peristiwa yang terjadi seperti perbudakan, penyiksaan sebetulnya telah dijamin oleh HAM yang diharap kedepannya hal itu tidak terjadi kembali.

“Penulis ingin menyampaikan bahwa kedepan kita tidak menginginkan lagi ada peristiwa yang sama, itulah mengapa pentingnya novel ini ditulis dan saya kira jaminan konstitusional sudah ada pasal 28 itu dijelaskan secara detail berikut dengan undang-undang turunannya,”

Terakhir, Yunasri menyampaikan pesan yang dapat dipetik dari novel Laut Bercerita yaitu Indonesia yang damai, adil dan sejahtera dapat terwujud dengan terealisasinya Hak Asasi Manusia yang sebenarnya di kalangan masyarakat.

“Pesan paling penting menurut saya, Indonesia yang kira-kira damai, Indonesia yang adil, Indonesia yang sejahtera itu adalah inti dari ide Hak Asasi Manusia,” pesannya.

*Reporter: Mustika Fitri/ Editor: Annisa Puteri Iriani