Tabloid LPM Profesi UNM Edisi 246. (Foto: Dokumen Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Menanggapi komentar tentang Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang minim kompetensi pada pemberitaan tabloid edisi 246 yang diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi Universitas Negeri Makassar (UNM). Salah satu DPL membantah hal tersebut.

Taufik, salah satu DPL mengungkapkan tuduhan tersebut tidak berdasar. Ia menjelaskan tidak ada syarat mutlak untuk dosen DPL berdasarkan pengalaman dan jabatannya di kampus.

“Tidak ada persyaratan kalau yang menjadi DPL itu harus lektor, atau asisten ahli intinya punya NIDN dan tidak dilihat dari pengalamannya dalam mengajar,” jelasnya.

Dosen Fakultas Teknik (FT) UNM ini juga mengatakan, sebelum melakukan proses di lapangan ada pembekalan lebih awal ke dosen DPL.

“Kan begini sistemnya sebelum dosen DPL turun ke lapangan, ada pembekalan dulu, setiap minggu kita rutin mengadakan pertemuan online karena pandemi juga,” tuturnya.

Salah satu mahasiswa yang menjadi dampingan dosen DPL, Sri Kumalasari juga memberi komentar, kedua dosen yang membimbingannya rutin mengadakan pertemuan setiap pekan secara virtual. Tidak hanya itu, setiap hari mereka melakukan evaluasi.

“Setiap minggu kan kita adakan pertemuan secara virtual, setiap hari itu ada evaluasi tentang yang kita buat dilapangan, menurut saya hal ini baik. DPL juga bertanggungjawab dalam melakukan tugasnya,” katanya.

Selain Taufik, Hasim juga menjelaskan perannya sebagai DPL ia lakukan sesuai pedoman kementrian. Bahkan, hingga pelaksanaan KMP selesai, dosen Fakultas Teknik (FT) ini masih memantau mahasiswa bimbingannya.

“Kita tidak hanya memantau mahasiswa itu pada saat pelaksanaan KMP saja tapi kita arahkan mereka bagaimana caranya apa yang mereka dapat di KMP itu bisa dimasukkan ke Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), ya insyaallah ada 2 yang lolos,” tambahnya. (*)

*Reporter: Kristiani Tandi Rani