Wartanto menjadi narasumber dalam Webinar Nasional Himaplus FIP UNM, Rabu (3/3). (Foto: Nur Azisa-Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Webinar nasional dengan tema “Mampukah Pendidikan Indonesia Mempersiapkan Generasi Emas (2045)” yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah (Himaplus) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar. Webinar ini menghadirkan beberapa narasumber yang mumpuni dibidangnya, salah satunya Wartanto.

Dalam Webinar ini, Wartanto yang merupakan Direktur Kursus dan Pelatihan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia (RI) membahas mengenai Kompetensi di abad 21.

Dalam paparannya, Ia menjelaskan akademik dan vokasi memiliki tujuan masing-masing dalam mempersiapkan lulusannya menghadapi dunia kerja terutama industri. Pendidikan Vokasi memiliki bobot maksimum 40% dalam mempelajari teori dan praktik dengan bobot minimum 60% serta begitu pula sebaliknya pada pembelajaran akademik.

“Kalau akademik, anak akan diuji tentang apa yang sudah dipelajari dengan berbagai cara seperti multiple choice, uraian singkat dan lain-lain. Nah, yang benar kemudian dapat nilai entah itu 6,7,8,9,” papar Wartanto.

Lebih lanjut, Ia mengatakan, dalam kehidupan sehari-hari terutama dunia kerja penting untuk menyelaraskan antara intelijensia dan karakter. Karakter perlu ditunjukkan bahwa Ia orang-orang yang kompeten dan memiliki nilai tambah atau personal branding.

“Bukan sekedar pintar dan terampil, namun karakter juga perlu ditunjukkan bahwa Ia orang-orang yang kompeten. Tidak ada artinya nilai bagus tapi karakter jelek”, tuturnya.

Di samping itu, Ia mengatakan bahwa mengapa keberadaan Pendidikan Vokasi itu penting. Hal tersebut dilandasi dengan tujuan untuk menjembatani kebutuhan dunia kerja maupun industri yang dipenuhi oleh lulusan dunia pendidikan.

Kemudian, output dari lulusan itu sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, meliputi kemampuan dalam memberikan pemecahan masalah, kreativitas tinggi dapat menghadapi setiap fenomena dengan kemampuan berkomunikasi, menguasai bahasa serta dapat berkolaborasi.

“Di dunia ini butuh orang-orang yang pinter menganalisis dan akademik luar biasa, tapi dunia ini juga butuh orang yang kompeten. Ini sebagai gambaran bagi adik-adik, bahwa dibutuhkan orang yang bisa memecahkan masalah yang kompleks”, sambung Wartanto.

Webinar ini dihadiri sebanyak 422 partisipan, merupakan pelajar SMA/sederajat maupun mahasiswa/i tingkat universitas di Indonesia melalui platform Zoom Cloud Meeting.

*Reporter: Nur Azisa/Editor: Annisa Puteri Iriani