Akbar, Mahasiswa Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNM

PROFESI-UNM.COM Bagi warga Makassar atau paling tidak yang memiliki aktivitas di sekitar Makassar, tidak sedikit sering menjumpai sungai buatan yang membelah lorong-lorong jalan, penulis menyebutnya sebagai Kanal. Pembangunan Kanal merupakan konsepsi tata ruang kota yang tujuan utamanya sebagai pencegah banjir, distribusi air, irigasi tanaman serta dapat menjadi icon pariwisata. Lalu bagaimana kondisi Kanal yang tersebar di Kota Makassar?

Kota Makassar Bukan Kota Dunia

Secara geografis kanal di sepanjang Kota Makassar melalui beberapa Kelurahan yakni, Maccini Sombala, Bonto Rannu, Tamarunang, Sambung Jawa, Malangbaru, Jongaya, Banta-Bantaeng, Pabaeng-Baeng, Rappocini, Maricaya Selatan, Bararaiiya Selatan, Maricayya Baru, Barabaraya, Maradekaya Utara, Maradekaya, Barabaraiya Utara, Macini Gusung, Baranna, Tompobalalang, Malimongan Baru, Barayya, Timongan Lompoa, Bunga Ejaya, Bungaejaberu, Lembo, Kalangkuang, Layang, Totaka, Gusung, dan Patingaloang. Selain itu, Makassar juga diapit oleh sungai besar yaitu sungai jene berang dan sungai Tallo.

Di Makassar terdapat tiga aliran kanal utama yang berfungsi mengatur sistem drainase untuk pembuangan. Diantaranya Kanal Panampu, Kanal Jongaya, dan Kanal Sinrijala dengan panjang Kanal masing-masing 4 km.

Seorang Wali Kota Makassar pernah dengan gencar mengaungkan konsep atau harapan, bagaimana Makassar menjadi Kota Dunia? Salah satu kriteria Makassar Kota Dunia adalah pembangunan infrastruktur yang memiliki standar dunia baik dari pelayan publik, kebersihan biroksasi dan pemberdayaan masyarakat.

Namun konsep atau gagasan tersebut nampak tidak diseriusi oleh Pemerintah Kota Makassar. Ketidakseriusan itu tercermin dari tidak konsistennya pemerintah dalam pengambilan kebijakan. Pemerintah Kota Makassar juga selalu terkesan lempar tangan dengan sesama pejabat pemerintah. Misalnya saja dalam hal normalisasi atau pembersihan dan perawatan kanal-kanal yang ada di beberapa Kecamatan di Kota Makassar.

Konsep Kota Dunia bagi Wali Kota Makassar dengan gagasan Smart City dianggap mampu menekan kesenjangan sosial dan ekonomi masyarakat. Namun membaca realitas sosial yang ada. Di beberapa tempat, kanal-kanal yang sejatinya diharapkan menjadi nilai plus untuk lingkungan dan kebutuhan masyarakat justru menjadi kanal yang memantik masalah sosial lainnya. Masalah itu tidak sedikit disebabkan oleh mentalitas masyarakat yang cendrung menjadikan Kanal sebagai TPA (Tempat Pembuangan Akhir) baru. Mirisnya mentalitas masyarakat yang buruk diperparah oleh kesan acuh dan lempar tangan tanggung jawab oleh kalangan pejabat pemerintah Kota Makassar. Lalu dimana gagasan Makassar sebagai Kota Dunia dan Makassar sebagai Smart City jikalau persoalan Kanal saja tidak dapat diatasi. Malah Kota Makassar menyandang predikat Kanal terkotor dunia.

Kanal Bukan Kebutuhan Warga Kota Makassar?

Dengan berbagai masalah tidak terurusnya kanal-kanal kota Makassar, memberikan suatu makna sosial. Makna sosial yang dimaksud penulis adalah simbol ketidakpatuhan (Disobedient) warga terhadap pemimpinnya. Hal ini dapat secara jelas kita amati dengan bagaimana masyarakat memperlakukan dan bertindak atas Kanal.

Ketidakpatuhan dalam konteks sosial merupakan bentuk ketidakpercayaan masyarakat terhadap aktor pengambil kebijakan. Menurut Nivendalam wacana pada eksperimen yang dilakukan oleh Milgram ada empat faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan yakni, pemahaman masyarakat tentang instruksi, kualiras interaksi, dukungan sosial dan keluarga, dan keyakinan sikap serta kepribadian.

Lebih khusus pada faktor kualitas interaksi, ketidakpatuhan masyarakat terhadap imbauan Pemerintah Kota Makassar terhadap kebersihan Kanal merupakan petanda bahwa pemerintah memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan masyarakatnya. Bagi penulis, hubungan emosial antara pengambil kebijakan dengan warga amat penting dihadirkan agar imbauan atau kebijakan yang dikeluarkan tidak hanya sebatas teks semata. Sehingga hemat penulis hal demikian sekaligus menjadi indikasi bahwa pembangunan Kanal bukan menjadi kebutuhan masyarakat.

Membandingkan Kanal Kota Venesia dan Kanal Kota Makassar

Salah satu rujukan daerah pemanfaatan Kanal terbaik di dunia adalah Kota Venesia, Italia. Konsep Kanal di Venesia menghubungkan antara Kanal sebagai mitigasi bencana banjir dan aspek ekonomi periwisata. Kanal ini menjadi salah satu koridor lalu lintas utama di Venesia. Layanan transformasi umumnya menggunakan bus air dan sebuah perahu dengan ukuran beragam yang banyak digunakan wisatawan, perahu ini disebut dengan Gondola. Di Venesia juga banyak bangunan yang ditengahi oleh lorong-lorong dan jembatan sebagai fasilitas penyebrangan. Hampir seluruh aktivitas keluar masuk transformasi dilakukan di atas perahu yang berlabu di sepanjang Kanal. Olehnya itu Kanal menjadi sumber utama penghasilan ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah Kota Venesia.

Kondisi Kota Venesia bisa dibilang hampir mirip dengan Kota Makassar. Di Kota Makassar juga terdapat puluhan Kanal yang menghubungkan beberapa kelurahan dan jalan-jalan. Di Makassar juga ramai dengan lorong-lorongnya lengkap dengan aktivitas paguyuban masyarakatnya. Jika Kanal dan lorong-lorong menjadi persamaan antara Kota Venesia dan Kota Makassar, maka yang menjadi pembeda adalah tingkat kepedulian kita terhadap Kanal.

Kanal di Makassar tak ibahnya sebagai ruang publik yang buat lalu dikotori dengan sengaja. Padahal jika pemerintah mampu mengambil tindakan yang tepat dengan melakukan sosialisasi dan program yang intinya mengajak masyarakat berpartsipasi dalam normalisasi dan perawatan Kanal, bukan tidak mungkin Kanal dapat disulap menjadi Ikon Wisata Baru yang menjanjikan nilai ekonomi tambahan. Misalnya saja, dengan normalisasi Kanal dengan pembersihan secara rutin dan pengawasan serta kontrol yang tepat. Kanal dapat menjadi ruang publik yang edukasi dan memberdayakan. Selain itu, Kanal juga dapat menjadi alternatif solusi konkret dalam menekan angka kemacetan jika difungsikan sebagai tempat wisata air dan Kanal dijadikan jalur transformasi publik yang ekonomis dan ramah lingkungan.

Penulis yakin, Wali Kota Makassar yang baru saja dilantik mampu menjawab masalah ini dengan gelar arsitek yang disandangnya, yang bisa mewujudkan Makassar sebagai Kota Dunia tidak cukup dengan imbauan dan membangun beton-beton besi, tetapi upaya pendampingan mental, edukasi dan menjalin hubungan emosial menjadi bagian fungsional yang amat penting untuk diterapkan dengan konsistensi yang baik.

Pada akhirnya penulis menutup tulisan ini dengan dua pertanyaan, apakah “Makassar 2 X + Rantasa” akan tetap berlanjut? Lalu akankah Kanal-kanal yang dibangun hanya bersifat monumental serta minim akan manfaat? Menarik untuk dinanti.

*Penulis adalah Akbar, Mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Makassar (UNM)