Andi Juliandrie Abham, Mahasiswa Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial, Angkatan 2017 Universitas Negeri Makassar.

PROFESI-UNM.COM – Laki-Laki berambut gondrong, ketika mendengar kalimat itu yang terbesit di benak seseorang ialah seorang laki-laki yang nakal, pembangkang, tidak disiplin dan yang paling fenomenal adalah dicap sebagai laki- laki yang tidak rapi. Yah, hal itu tidak bisa dipungkiri lagi, begitulah paradigma di masyarakat tentang orang yang berambut gondrong, baik di lingkungan umum maupun di lingkungan pendidikan.

Gondrong sering sekali diartikan seperti itu oleh sebagian masyarakat yang terobsesi akan film- film, yang dimana mayoritas pemeran antagonis dalam film tersebut berambut gondrong. Karena adanya film itu juga semakin memperkuat paradigma di masyarakat bahwa laki-laki yang berambut gondrong adalah orang yang jahat padahal gondrong itu bukan kriminal.

Berbeda dengan apa yang ditulis Aria Wiratma Yudhistira dalam buku “Dilarang Gondrong!” : Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970anʼ, dalam buku tersebut menceritakan bahwa saat itu pemerintah orde baru melakukan represi terhadap anak muda yang berambut gondrong. Seperti tindakan diskriminatif baik di sekolah maupun kuliah. Pada awal berdirinya Orde Baru, musuh besar penguasa ternyata bukan hanya komunisme, melainkan juga rambut gondrong.

Hal sepele seperti ini menjadi urusan besar bagi penguasa saat itu, hingga petinggi militer mengeluarkan radiogram pelarangan berambut gondrong bahkan instansi publik saat itu menolak melayani orang-orang yang berambut gondrong. Pelajar, mahasiswa, artis dan pesepak bola dilarang berambut gondrong. Razia dan denda digelar di jalan- jalan, melibatkan anggota pasukan teritorial bersenjatakan gunting bahkan pernah dibentuk Bakorperagon ( Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong).

Hal yang disampaikan penulis dalam buku tersebut sangat jelas menceritakan sikap paranoid rezim terhadap orang-orang berambut gondrong, seperti melihat pemberontak yang akan menggoyahkan kekuasaannya atau dianggap sebagai ancaman besar pada saat itu. Ketika penguasa menjadikan rakyatnya sendiri seperti ancaman baginya, maka dengan sikap seperti itu juga penguasa menggambarkan rezimnya sangatlah otoriter.

Pada masa orde baru yang berlandaskan militer dan ABRI, dikenal dengan rezim yang ketat menerapkan aturan dan ketertiban, maka kita bisa pahami pada saat itu rakyat tidak memiliki kemerdekaan di dalam dirinya dalam hal berpenampilan. Untuk di dunia pendidikan sendiri, sikap paranoid di masa lampau itu menjadi aturan yang berlaku saat ini terlebih di Universitas Negeri Makassar yang berdasarkan kebijakan birokrasi yang melarang mahasiswanya untuk tidak berambut gondrong.

Kebijakan tersebut dikeluarkan sejak lama dengan alasan yang paling mayoritas ialah tidak rapi. Lagi-lagi kerapian mahasiswa diukur dari gaya rambut mereka, sangat disayangkan hal tersebut terjadi di era yang seperti ini. Jika pemerintah pada zaman orba melarang berambut gondrong dikarenakan adanya sikap paranoid yang menimbulkan efek ketakutan yang berlebihan, maka di zaman sekarang dalam ruang lingkup pendidikan, pihak birokrasi membuat aturan dilarang berambut gondrong dikarenakan tidak terlihat rapi.

Padahal, kerapian seseorang tidak dapat dinilai dari panjang tidaknya rambut orang tersebut, karena kerapian tergantung dari perspektif diri masing – masing. Seringkali para manusia yang menjelma sebagai polisi moral menyangkut-pautkan moralitas dengan kerapian, jika moralitas seseorang diukur dari penampilan, maka bisa dipastikan para koruptor adalah manusia yang berakhlak baik. Perspektif pihak birokrasi mengenai seseorang bisa dikatakan rapi ketika rambutnya tidak gondrong adalah sebuah bukti bahwa kecelakaan berfikir ternyata memang benar adanya.

Terkait perspektif kerapian dalam berjalan lancarnya proses belajar – mengajar di lingkup pendidikan membuat saya membandingkannya dengan bidang olahraga cabang sepak bola, banyak pemain sepak bola yang berambut gondrong salah satunya pemain sepak bola asal Swedia, Zlatan Ibrahimovic.

Lihatlah dia, meski memiliki rambut yang gondrong tetapi tetap bisa bermain bola dengan baik bahkan menjadi salah satu striker tajam di dunia, jika ingin berfikir sejenak, ia adalah pemain sepak bola yang dimana identik dengan berlari, nah yang seharusnya dilarang berambut gondrong itu yah pemain sepak bola karena jika berlari, gondrongnya akan menutupi sebagian wajah sehingga penglihatannya akan terganggu, tetapi organisasi- organisasi yang menaungi olahraga cabang sepak bola itu tidak menutup akal akan hal itu, ia meyakini banyak cara yang bisa dilakukan agar rambut gondrong bukan penghalang dalam sepak bola.

Nah, dibandingkan dengan aturan yang berlaku di Universitas Negeri Makassar, pihak birokrasi sendiri seakan menutup akal terhadap sesuatu yang tidak semestinya dipenjarakan, sejatinya mahasiswa yang menimbah ilmu di kampus diwajibkan sehat jasmani dan rohani agar dapat memahami materi yang disampaikan dosen dalam ruang kelas, karena orang berfikir dengan otak bukan dengan rambut. Dengan otak pula orang bisa memahami mana yang baik mana yang buruk untuk dirinya.

Sangat lucu rasanya ketika pihak A yang seharusnya membuat aturan dilarang gondrong dikarenakan memang mengganggu pada saat berlari tetapi memberikan kebebasan terhadap orang-orang dengan caranya masing- masing, sedangkan pihak B yang dimana rambut gondrong sangat-sangat tidak mengganggu pemahaman seseorang dalam proses belajar- mengajar, malah membuat aturan dilarang berambut gondrong.

Selain alasan itu, kita kadang mendengar bahwa rambut depannya (poni) kadang jatuh saat proses belajar dalam kelas berlangsung akan membuat tidak konsentrasi sehingga apa yang disampaikan tidak bisa dipahami secara menyeluruh, maka solusinya ialah diikat menggunakan karet agar tidak jatuh-jatuh lagi. Sangat mudah jika ingin berfikir sejenak apa yang salah dengan rambut gondrong?

Mahasiswa datang untuk menimbah ilmu bukan untuk casting film. Dengan adanya aturan itu, kebebasan berpenampilan mahasiswa seperti dibatasi, bahkan mahasiswa berambut gondrong tak jarang mendapat intimidasi dari pihak birokrasi seperti KRS yang tidak ditanda tangani dan dilarangnya masuk ke dalam kelas untuk mengikuti proses belajar- mengajar jika rambut gondrongnya tidak dicukur. Berharap suatu saat nanti aturan itu dihapuskan agar tidak ada lagi aturan yang menyimpang.

Segala sesuatu yang lahir dan tumbuh pada diri kita adalah hak kepemilikan yang diberi oleh Tuhan, salah satu sesuatu tersebut adalah rambut, ketika hak kepemilikan rambut gondrong kita tidak dapatkan dikarenakan ada  konstitusi yang mengatur mekanisme proses belajar, maka sebagai sosok yang mempunyai andil dalam kepemilikan tersebut harus meminta alasan yang rasional apa dan kenapa itu dilarang, jika hanya karena perspektif kerapian, itu sangat – sangat tidak relevan dengan apa yang menjadi hak kepemilikan manusia.

Sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, baiknya tidak usah saling mengatur tentang apa yang lahir dan tumbuh pada diri masing – masing, cukup apa yang dikenakan yang diatur, yang lahir dan tumbuh tidak usah ikut campur. Ibarat amal, banyak sedikitnya amal seseorang, manusia lain tidak usah ikut campur, toh itu urusan pribadi dengan Sang Maha Pencipta. Paradigma orba serta penggiringan opini dari TV adalah salah dua pokok permasalahan yang membuat laki-laki yang berambut gondrong adalah sosok manusia pembangkang dan tidak rapi, paradigma yang telah tertanam lama di mayoritas otak-otak manusia sekarang sangat tidak memberi kebebasan pada dirinya sendiri.

Ketika ada aturan yang mengatur ini dan itu, seharusnya tidak langsung diterima begitu saja, kita diberi akal yang sehat untuk berfikir dan memahami sesuatu bukan hanya sekedar pelengkap otonomi tubuh. Dengan alasan perspektif kerapian juga membuktikan bahwa masih banyak insan manusia yang terjebak dalam imajinasi yang digiring oleh pelaku polisi moral pada umumnya.

Fashion gondrong sendiri sudah ada sejak dahulu kala, bahkan di zaman Nabi sekalipun, dari ilustrasi-ilustrasi yang beredar di dunia maya, Para Nabi memiliki rambut sebahu, ini membuktikan bahwa rambut gondrong tidak ada kaitannya dengan moralitas ataupun sebagai salah satu ciri sosok manusia pembangkang.

Terlepas dari persoalan agama, mari kita menelisik kebelakang sebelum Indonesia merdeka, tidak sedikit pahlawan kemerdekaan memiliki rambut yang gondrong, terkhusus di provinsi Sulawesi Selatan yang dimana salah dua diantara para pahlawan yang paling terkenal ialah Sultan Hasanuddin dan Aru Palakka. Kedua pahlawan tersebut sudah sangat jelas menggambarkan rambut nusantara itu seperti bagaimana di zaman dahulu. Nah, sudah tidak sepatutnya lagi laki-laki berambut gondrong diidentikkan dengan sosok manusia pembangkang, karena jika masih seperti itu, maka wajar saja ketika umat yang non muslim menilai agama islam sebagai agama teroris.

SAY NO TO JUDGE BY COVER!

#gondrongbukankriminal #gondrongtidakmenggangguprosesbelajar

#hidupmuaturanmubukanaturannya #stopberfikiranorba #openyourmind #andiandrie.home.blog

*Penulis adalah Andi Juliandrie Abham, Mahasiswa Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Makassar