Once Luliboli, Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra, Angkatan 2015

PROFESI-UNM.COM Seseorang di kampus pernah mengatakan kepada saya bahwa dunia adalah panggung dan kita semua adalah aktor. Tentu saja ini merupakan sebuah adagium klise, dan tentu saja, seseorang yang itu dan saya sendiri, dibuat memiliki pandangan yang cukup ekstrem tentang bagaimana dunia kampus ini bekerja. Katakanlah, kampus doyan bekerja lewat surat-surat keputusan darurat yang terpimpong di grup-grup WhatsApp.

Surat-surat keputusan yang saya maksud dalam hal ini adalah surat keputusan dari pemimpin tertinggi kampus alias Rektor. Saban hari, marak beredar Surat Keputusan Rektor di berbagai Perguruan Tinggi Negeri yang berisi setidaknya prosedur keringanan UKT ditengah pemberlakuan kuliah online. Demikianlah di Universitas Negeri Makassar. Pada periodesasi 2020 hingga awal 2021 ini, kita (mahasiswa) nyaris dibikin muak dengan rentetan surat-surat tersebut.

Mari kita kembali ke surat keputusan rektor, terkhusus di kampus Universitas Negeri Makassar. Dalam beberapa point isi surat keputusan tersebut, ditemukanlah ihwal yang mengharuskan mahasiswa untuk mengumpulkan “seperangkat berkas” dengan kriteria tertentu. Selanjutnya, berkas-berkas tersebut kemudian mengalami proses verifikasi melalui kabel-kabel telepon. Mohon maaf, jika saya harus terpaksa menganggap ini semacam “sayembara”. Yah, hampir semua mahasiswa kembali berlomba-lomba mengikuti sayembara penurunan harga UKT tersebut.

Di lain sisi, perjuangan sekumpulan mahasiswa di jalan, dalam hal generalisasi subsidi UKT masih terus dikerahkan. Mereka (aktivis mahasiswa), yang serba orange, ber-masker, berkaca-mata hitam, ada yang ber-helm, ber-shal, dengan pelantang di tangan yang nyaris low battery, dan berbagai pernak-pernik antah-berantah yang menggelantung di badannya, seperti tak kenal lelah, kuat menerjang dan meski diguyur hujan. Sayangnya, bak melempar pancing tiada umpan. Tuntutan generalisasi subsidi UKT hingga kini kian redup dengan adanya surat-surat keputusan rektor.

Adakah salah seorang dari aktivis mahasiswa yang betul-betul melakukan boikot terhadap surat-surat keputusan tersebut? Atau adakah yang hingga kini masih kokoh menunda bayar UKT? Saya rasa tidak. Bahkan mungkin saja satu diantara puluhan mahasiswa aktivis yang pernah menyuarakan generalisasi penurunan UKT, tengah mendapat UKT O (nol), bukan?
Kekonyolan yang harus saya sampaikan disini adalah, bagaimana mungkin sekumpulan mahasiswa akut memperjuangkan generalisasi UKT sedang mereka juga tengah menjadi peserta sayembara yang saya sebut di awal? dengan kata lain, perjuangan yang dilakukan adalah lelucon bagi birokrasi kampus, ditambah lagi, pola demonstrasi yang masih kaku dan monoton. Apalah daya, perjuangan sudah di ujung tanduk. Yang tersisa adalah foto-foto demonstran yang menghiasi WhatsApp Story mereka dengan bumbu umur panjang perjuangan!

Sampai pada penghujung Januari 2021, tepatnya Jumat 29 Januari 2021, keluarlah surat keputusan Rektor Universitas Negeri Makassar dalam hal perpanjangan waktu pembayaran UKT hingga 08 Februari 2021. Sayangnya, banyak mahasiswa dan saya sendiri, baru mengetahui surat keputusan ini pada Minggu 31 Januari 2021 lalu, melalui laporan LPM Profesi UNM. Cukup menarik, sekian oknum mahasiswa yang terdesak akan batas akhir yang harusnya jatuh pada Jumat 29 Januari 2021 ini dengan terpaksa membayar nominal UKT di Bank maupun via transfer di ATM-ATM terdekat. Yah, trik klasik birokrasi untuk mahasiswa yang amatir!

Tetapi mari kita (mahasiswa) mengambil sisi peluang dari adanya surat keputusan terbaru ini. Barangkali ketika tulisan ini Anda baca, hanya tersisa beberapa hari menuju tanggal 08 Februari─Batas akhir pembayaran UKT. Tentu kesempatan perpanjangan waktu ini betul-betul harus dimanfaatkan oleh gerakan mahasiswa untuk mengambil sikap logis dalam menggaungkan kembali generalisasi subsidi UKT. Saya prihatin. Pasalnya ketika sedang asyik-asyiknya membuat tulisan di awal februari ini, saya belum mencium aroma pergerakan mahasiswa menyikapi tuntutan awal mereka. Barangkali, pikirku, slogan Tunda Bayar UKT” masih menjadi nyawa dari gerakan itu.

Saya takut ini akan menjadi kebiasaan buruk ditengah perkembangan arah pergerakan yang dipengaruhi banyak oleh modernisasi. Gerakan menjadi lembek. Maka percayalah, nasib buruk-nasib buruk akan bercecer dimana-dimana. Katakanlah, tuntutan generalisasi subsidi UKT berakhir tragis seperti ini, maka betapa kita telah mempermainkan perjuangan-perjuangan pendahulu kita. Saya berharap, ketika Anda menerima salah satu nasib buruk ini, tolong, jangan lagi menuntut subsidi kuota internet, kelak. Percayalah, kampus sudah mempersiapkan nasib buruk-nasib buruk dalam surat keputusan darurat selanjutnya.

Terakhir, sebagai mahasiswa semester tua, saya hanya ingin menyampaikan keresahan saya. Kadang, saya benar-benar merasa takut dan berani dalam satu situasi. Tetapi dunia kampus adalah panggung, dan saya mungkin masih bisa menjadi figuran di dalamnya. Sebentar lagi saya akan meninggalkan kampus ini, membawa nasib buruk lalu mencintai dan membencinya semampuku.

Ihwal nasib buruk kemahasiswaan ini, nampaknya benar-benar diridhoi. DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA demikianlah doa Rektor kita di lembar awal surat-surat keputusannya.

*Penulis adalah Once Luliboli, Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra, Angkatan 2015