Sidang lanjutan perkara penangkapan Ijul dan korban salah tangkap lainnya menghadirkan enam orang penyidik, Selasa (26/1). (Foto: Nur Azisa)

PROFESI-UNM.COM – Kasus penangkapan Ijul dan korban salah tangkap lainnya kembali menjalani sidang lanjutan yang dikawal bersama Front Perjuangan Rakyat (FPR) di Pengadilan Negeri Makassar, Jl. R.A Kartini, Kota Makassar, Selasa (26/1) kemarin.

Pada sidang tersebut, dihadirkan enam orang penyidik dan terdakwa kasus penangkapan Supianto atau kerap disapa ljul serta dua mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) yang merupakan kawan Ijul.

Salah satu penyidik Polrestabes Makassar dari kasus tersebut menyatakan bahwa dalam melakukan penangkapan memiliki dasar yang termaktub dalam pasal 184 KUHAP 56.

“Kami sebagai penyidik dalam hal ini menetapkan tersangka tidak sembarang. Tentu kami berdasarkan pada pasal 184 KUHAP 56 sehingga ditetapkan sebagai tersangka dan tentunya melalui mekanisme dua perkara,” jelasnya.

Di sisi lain, sidang menghadirkan para saksi terdakwa saat kasus tersebut bermula. Tiga di antaranya saksi terdakwa mengaku tidak melakukan aksi pelemparan maupun pembakaran di sekitar Gedung Partai Nasional Demokrat (Nasdem).

“Kami tidak melakukan aksi pelemparan di Gedung tersebut, kami juga tidak melakukan aksi pembakaran apapun. Pada saat di tempat kejadian, kami hanya berniat untuk pergi menonton yang mulia,” tutur mereka.

Di samping itu, Ijul menyatakan mendapatkan tindak kekerasan bersama kawan-kawannya terhadap aparat penyidik dan sampai saat ini perkara belum menemui titik terang. “Iya yang mulia, saya disuruh tampar teman saya,” akunya. (*)

*Reporter: Nur Azisa/Editor: Annisa Puteri Iriani