Andi Juliandrie Abham, Mahasiswa Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial, Angkatan 2017 Universitas Negeri Makassar.

PROFESI-UNM.COM – Setelah lama terfikirkan hingga menghabiskan beberapa gelas kopi, akhirnya saya menemukan dinamika pertama untuk merangkai opini di awal tahun baru ini, “segala aktivitas di Kampus Orange ditutup sementara!!!” Yah, itulah dinamika pertama yang akan saya ceritakan pada kawan-kawan pembaca, kebijakan tersebut dikeluarkan oleh birokrasi sebenarnya memiliki tujuan yang sangat mulia, yang dimana untuk menjaga peradaban dari serangan si makhluk kecil, corona virus. Sisi buruk dari tujuan yang mulia itu adalah adanya kearifan lokal di Indonesia ini sejatinya sedari dulu telah mengalami pergeseran makna, yang dimana banyak kebijakan yang diterapkan hingga ditegaskan setegas-tegasnya kepada kaum rakyat kecil dan untuk rakyat kelas atas bisa saja kebal terhadap kebijakan itu, tergantung harta, tahta dan orang dalamnya.

Kampus Orange sendiri, menerapkan lockdown untuk segala aktivitas perkuliahan yang beralokasi di daerah kampus, tapi “Syarat dan Ketentuan Berlaku”. Di saat mahasiswa mengikuti kebijakan tersebut, seketika para petinggi kampus yang biasanya disebut dengan sebutan birokrasi melakukan sebuah acara di dalam kampus, acara yang sama sekali tidak memiliki konektivitas dengan aktivitas kampus pada umumnya. Lima hari yang lalu tepatnya pada tanggal 7 Januari 2021, mereka dengan gagahnya menggelar acara resepsi pernikahan di gedung amanagappa yang dimana lokasi gedung tersebut berada dalam area kampus, ada apa? Bukankah kampus baru saja mengeluarkan kebijakan tentang lockdown? Atau kebijakan itu hanya sebuah strategi guna meredam suara sumbang mahasiswa yang meneriakkan subsidi secara general? Ohiya lupa, kan ada acara otomatis juga ada cuan dong, semoga cuanya dapat menekan biaya kuliah mahasiswa karena secara struktural gedung tersebut masuk dalam kategori BUMK (Badan Usaha Milik Kampus), Semoga Ya.

Menuliskan dinamika tentang Kampus Orange di awal tahun ini, sepertinya tidak akan pernah menemui titik akhir, dinamika ditutupi dengan dinamika baru, yah tidak beda jauh dengan negara salah satu kawan saya. Oke, kita lanjut lagi membahas Kampus Orange, menuliskan satu dinamika diawal paragraf ini, seketika juga saya memutuskan untuk melanjutkannya dengan dinamika yang saat ini masih hangat di lingkup kampus, “Subsidi UKT Secara General.” Sebelas hari lagi menuju akhir pembayaran UKT untuk semester genap yang akan datang tetapi mahasiswa belum saja menerima subsidi dari birokrasi, yang sangat diharapkan adalah subsidi secara general tanpa memandang strata ekonomi dan tanpa memandang semester berapa mahasiswa itu.

Bukan tanpa alasan menuntut subsidi secara general, sudah dua semester dilalui dengan penerapannya hampir seluruhnya secara online, tentunya alokasi pembayaran UKT yang kita ketahui bersama tergabung dalam 14 komponen BKT, itu tidak terlaksana secara menyeluruh. Mulai dari biaya penyambutan mahasiswa baru hingga fasilitas dalam melakukan aktivitas perkuliahan tidak sama sekali digunakan, tentunya dengan jumlah mahasiswa yang tiap tahun bertambah maka bertambah pula pendapatan kampus, itu dapat menekan biaya kuliah mahasiswa terlebih status negara sekarang masih dalam kondisi pandemi.

Kini mahasiswa yang menuntut dihadapkan pada dua benteng kekuasaan, dua permainan doktrinisasi, “Lockdown dan Peninjauan Ulang UKT.” Tertarik dengan benteng terakhir kekuasaan, peninjauan ulang UKT, sejatinya adalah hak setiap mahasiswa tanpa adanya kasus pandemi. Subsidi secara general bukan tentang adanya pandemi tapi tentang tidak terlaksananya beberapa komponen BKT yang menjadi dasar alokasi pembayar UKT setiap mahasiswa.

Sebagai yang katanya wadah seharusnya tanpa dituntut, wajib sadar atas asas kemanusiaan, tetapi apa yang didapatkan mahasiswa dalam menuntut itu? Yah, tepat sekali, mahasiswa hanya mendapatkan manusia yang sumsunnya telah rusak, mata yang buta hingga telinga yang tuli. Semoga senantiasa dihampiri hal-hal yang baik.

Berangkat dari dinamika di paragraf kedua, saya tertarik menyampaikan sebuah celotehan di paragraf ketiga ini dan mungkin menjadi paragraf terakhir dari opini yang saya buat untuk kampus tercinta, Universitas Ngeri Mahal. UNENG begitu sapaan akrabku, adalah sebuah tempat berinvestasi paling keren menurut saya saat ini, dimana strategi pemasarannya berkedok “gudang ilmu” atau dalam kalimat yang panjang, “sebuah wadah untuk manusia yang ingin melanjutkan pendidikan setelah tamat di bangku sekolah menengah atas dengan fasilitas yang sangat – sangat memadai.” Yah, saat kita ingin berinvestasi disini, kita akan disuguhkan dengan segala bentuk kebajikan, kebajikan yang tidak hanya megalihkan pandangan tetapi juga membuat hati merasa ingin berivestasi jangka panjang, melihat bangunan super megahnya, label negerinya hingga trackrecordnya membuat kita merasa tidak salah tempat investasi.

Yakin dan percayalah, disini lebih baik daripada tempat investasi lain, disini kita dituntut mandiri, bahkan meski kita sedang mengalami musibah dalam perekonomian, kita tetap dituntut untuk membayar nominal investasi kita secara normal. Di tempat lain pada umumnya? Yah paling kita diberi keringanan,bukan? Olehnya itu, kapan lagi kawan – kawan berinvestasi sambil diajarkan makna mandiri yag sesungguhnya?

Ayo, mari berinvestasi di Universitas Ngeri Mahal, jangan lupa tanggal 22 Januari 2021 bayar tagihan investasi anda. Sebagai penutup, ku ingin berbagi sebuah coretan yang tak bermakna lebih dari sebuah kata kepada kawan – kawan, harapku dibaca dengan memutar sebuah lagu favorit anda dan tidak lupa segelas kopi di tangan kanan dan sebatang kretek di tangan kiri. Panjang Umur Untuk Niat Baik:)

Kampus dilockdown oleh birokrasi
Saat notifikasi pembayaran UKT telah berbunyi
Mahasiswa yang menuntut subsidi secara general di tengah pandemi
Dibalas dengan mata yang buta dan telinga yang tuli

Kini mahasiswa tengah didoktrinisasi
Untuk mempercayai sebuah vaksin yang diciptakan birokrasi
Vaksin yang disebut sebagai solusi tunggal
Dari sebuah virus yang bernama subsidi secara general

Tolak vaksinasi
Peninjauan ulang UKT bukanlah sebuah subsidi
Tunda pembayaran UKT di semester genap ini
Sampai subsidi secara general diberikan oleh birokrasi

#insanbersuara #unengstore #kampusrasabank (*)

*Penulis adalah Andi Juliandrie Abham, Mahasiswa Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar