Ilustrasi mahasiswa/i sedang dilema saat lockdown kampus di tengah pademi Covid-19. (Foto: Int)

PROFESI-UNM.COM – Penyebaran wabah Corona Virus Disease (Covid-19) terus meningkat di Indonesia. Salah satunya yakni sejak dikeluarkan surat edaran lockdown kampus yang terus diperpanjang, salah satunya ialah di Universitas Negeri Makassar (UNM).

Hal tersebut juga mengacu pada surat edaran Gubernur Sulawesi Selatan Nomor: 420/0014/Disdik tentang kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19 di lingkungan pendidikan Sulawesi Selatan yang belum memungkinkannya pembelajaran tatap muka di lingkungan pendidikan tinggi, pendidikan dasar hingga menengah.

Namun, banyak mahasiswa UNM yang mengeluhkan kebijakan lockdown kampus yang terus diperpanjang hingga saat ini.

Salah satu mahasiswi UNM, Nur Hikma Lestari menuturkan bahwa beberapa rencana yang telah ia buat, termasuk kegiatan di lapangan harus tertunda meskipun beberapa telah terlaksana dengan baik dan tentunya tetap menerapkan aturan protokol kesehatan.

“Keluhan saya pribadi adalah terhambatnya semua planning yang telah saya susun sebelumnya dan terkait surat edaran semakin menambah masalah bagi kami yang sering melakukan kegiatan di lapangan,” tuturnya.

Ia pun mengatakan, sebagaimana awal tahun dapat menjalankan produktivitas seperti biasanya, baik dalam melakukan kegiatan di lingkup kampus maupun di luar kampus.

“Apa lagi di awal tahun seperti ini yang biasanya kami produktif dalam berkegiatan harus dihambat dan tertunda dikarenakan adanya lockdown di kampus, terutama di Fakultas Teknik,” sambung Nur Hikma.

Lanjut, Ia berharap bahwa para birokrasi kampus dapat memberikan ruang kebijakan untuk tetap melakukan aktifitas yang mendorong produktivitas mahasiswa karena menurutnya, lockdown bukanlah jaminan untuk terus berekspresi.

“Semoga ada kebijakan dari petinggi-petinggi yang ada di kampus maupun di pemerintahan untuk sedikit memberikan ruang untuk kami mahasiswa tetap berekspresi. Karena jika lockdown terus tidak akan ada perubahan yg bisa menjamin. Belum lagi banyak masalah baru seperti UKT yang saat ini ramai di perbincangkan,” harapnya.

Di sisi lain, Udkhuli Silmi turut mengungkapkan kendala yang dirasakan selama lockdown kampus. Ia merasa kebingungan pada saat akan mengurus peninjauan ulang untuk penurunan UKT mahasiswa yang terdampak selama pandemi Covid-19.

“Kalau sekarang sih biasa aja selama lockdown, soalnya kan masih masa libur semester. Cuma ribetnya ini nanti kan ada pengurusan buat penurunan UKT, nah berkasnya itu harus dikumpulkan di Himpunan Mahasiswa di jurusan sedangkan kampus lockdown,” tutur mahasiswi angkatan 2019 tersebut.

Di samping itu, Ia pun mengaku sampai saat ini belum pulang ke kampung halaman menikmati libur semester. Hal tersebut dikarenakan semakin ketatnya kebijakan untuk keluar daerah dan harus mengurus beberapa kelengkapan, seperti swab test yang berbayar.

“Karena pandemi gini, aku harus naik pesawat itu diharuskan stay di bandara 3 jam sebelum keberangkatan cuma buat cek kelengkapan surat dan tes kesehatan lagi, meski rapid test gratis bagi mahasiswa dan ibu hamil, tapi kalau swab berbayar,” imbuhnya.

Terakhir, Ia menaruh harapan agar adanya subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi seluruh mahasiswa jikalau pembelajaran tetap harus berlangsung secara daring di semester genap ini. Sebagai anak rantau dan menetap di kost, Ia merasa bosan tidak menikmati keseharian dan fasilitas yang ada di kampus.

“Saya harap, kalau memang harus sampai full online lagi di semester ini, UKT juga harus disubsidi karena kan kita tidak pakai fasilitas di kampus, padahal membayarnya full terus kita gabut parah di kost, bosan gak ada dikerja, mau keluar bingung kemana,” harapnya. (*)

*Reporter: Nur Azisa/Editor: Annisa Puteri Iriani