Ojek online - Foto.Int
Ojek online - Foto.Int

PROFESI-UNM.COM – Terlahir dari keluarga petani, membuat Muhammad Fatur Rahman terbiasa berjuang lebih keras. Enggan membebani orang tuanya, Fatur menjadi lelaki mandiri di perantauan. Pantang mengeluh, Fatur membiayai sendiri kuliahnya di Kampus Oranye.

Disela kesibukannya sebagai mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK), Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Fatur harus nyambi menjadi tukang ojek online (ojol).

Pekerjaan itu dilakukan Fatur, demi bisa melanjutkan perkuliahan di Universitas Negeri Makassar (UNM). Fatur tidak malu, Ia mengaku bangga sebagai ojol.

Tak banyak waktu luang bisa dinikmatinya. Wajar, kuliah sambil bekerja membuatnya tak bisa berleha-leha. Semua demi masa depannya, meraih gelar sarjana pendidikan.

Fatur memegang prinsip mandiri dan merasa malu jika harus membebani orang tua. “Cukup sampai SMA, malu rasanya jika minta-minta terus,”

katanya kepada penulis, saat ditemui di kontrakannya beberapa waktu lalu.
Sulit bagi Fatur bisa nongkrong seperti kebanyakan temannya sehabis pulang kuliah. Jika pemberitahuan orderan sudah masuk di gawainya, Fatur langsung bergegas mengambil jaketnya dan menjemput penumpang. Meski lelah, sudah mulai menempel di setiap inci raga Fatur.

Selama pandemi, penghasilan Fatur dari ojol tentu untung-untungan, tak menentu. Sebelum pandemi, pemuda 20 tahun ini bisa mengantongi Rp300 ribu sehari. Namun, setelah Virus Corona mewabah, pendapatan Fatur menurun drastis, tak lebih Rp100 ribu saja. Bagi lelaki kelahiran Jeneponto,sekecil apapun pendapatan, tetap harus disyukuri. Terpenting adalah hasil keringatnya sendiri, dan bisa sedikit membantu meringankan beban orangtuanya di kampung. “Waktu pandemi seperti sekarang menurun sih,” akunya.

Uang Kuliah Tunggal (UKT) Rp4,5 juta harus dibayar Fatur setiap semesternya. Ini membuat harus memutar otak. Belum lagi, orangtuanya masih harus menanggung biaya beberapa adiknya yang masih duduk di bangku sekolah. Menjadi ojol tak cukup, Fatur juga membantu temannya berjualan daring. Itu semua demi mencukupi biaya kuliahnya.

“UKT mahal, Rp4,5 juta per semester. Jadi selain jadi ojol saya juga membantu teman jualan di online. Hasilnya buat menutupi biaya kuliah,” tuturnya.

Kata mandiri kian lekat pada diri Fatur. Tak ada waktu bersantai bagi Fatur. Libur semester pun dimanfaatkannya untuk mencari rupiah di kampung halamannya. Dari pada berleha-leha di rumah, Fatur lebih memilih menghabiskan waktu berkeliling menjajakan ayam potong. Hasil jualannya, Ia simpan sebagai bekalnya saat kembali ke Makassar melanjutkan pendidikan.

Bagi Fatur hidup mandiri bukan berarti membatasi pergaulan dan enggan ikut andil di organisasi kampus. Ia merasa keterlibatannya dalam kegiatan organisasi mahasiswa akan sangat membantu dirinya. Menurutnya, turut hadir di tengah riak aktivitas kelembagaan, akan banyak mendapat relasi untuk berwirausaha.

“Organisasi membantu saya dalam mencari penghasilan, karena di dalam organisasi saya punya banyak kenalan,” jelasnya. Walau begitu menjadi mahasiswa seperti Fatur haruslah cerdas mengatur waktu. (*)

*Berita ini telah terbit di tabloid edisi 244 LPM Profesi UNM