Ketua Dewan Pers RI memberikan penjelasan peram Guru pada Webinar Nasional yang digelar LPM Profesi UNM. Foto-Mustika-Profesi

PROFESI-UNM.COM – Ketua Dewan Pers Republik Indonesia, M. Nuh menjadi pembicara dalam Webinar Spesial Hari Guru Nasional yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi Universitas Negeri Makassar (UNM), Sabtu (28/11).

Webinar kali ini, M. Nuh membawakan materi tentang ‘Imaji Media Dalam Pembangunan Manusia’. Dalam materinya, Ketua Dewan Pers ini menjelaskan arti peran dari seorang Guru yang sebenarnya.

Salah satunya yakni menyinggung perspektif Guru yang berasal dari bBahasa Jawa yaitu ‘digugu lan ditiru’ yang memiliki arti yang berbeda dari segi etimologi yakni bahasa jawa dan bahasa sansekerta yang bermakna sosok yang berkompetensi untuk membelah dari ketidaktahuan menjadi pengetahuan dan dari kegelapan menjadi pencerahan.

“Dari segi etimologi, siapa sih guru itu sebenarnya, kalau dalam Bahasa Jawa sering Guru itu diterjemahkan ‘digugu lan ditiru’ tapi saya coba cari Guru itu berasal dari bahasa sansekerta yaitu gu yang artinya darkness atau ketidaktahuan atau kegelapan, dan ru itu artinya light atau suatu cahaya yang mampu membelah. Maka dari itu Guru itu tidak lain adalah orang yang memiliki kompetensi untuk membelah dari ketidaktahuan menjadi pengetahuan dan dari kegelapan menjadi pencerahan,” jelasnya.

Pria kelahiran Kota Surabaya ini juga menuturkan bahwa selain peran Guru sebagai pencerah atau pemberi ilmu Guru juga memiliki peran esensinya sebagai guru bukan hanya disekolah tapi juga Guru dalam kehidupan.

“Sekali lagi saya katakan peran guru ya mencerahkan itu, peran esensinya. Guru ini tentu tidak hanya guru di sekolah tapi guru dikehidupan, guru di universitas kehidupan. Guru itu penting untuk mengajarkan keutuhan,” tuturnya.

Lanjut, M. Nuh menjelaskan peran Guru yang sangat penting untuk mengajarkan tentang keutuhan yang mencangkup sikap, keterampilan dan pengetahuan. Ketiga aspek ini merupakan kepentingan yang menjadi satu bagian utuh yaitu manusia.

“Untuk menyatukan keutuhan itu bukan hanya dalam ranah kompotensinya tapi juga dari domainnya, baik itu domain sikap, keterampilan dan juga pengetahuan. Ketiga-tiganya ini penting menjadi satu bagian utuh dari yang namanya manusia,” tutup Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut. (*)

*Reporter: Mustika Fitri/Editor: Annisa Puteri Iriani