Screenshoot Webinar Nasional via Zoom. Foto-Imam Profesi

PROFESI-UNM.COM – Program Studi (Prodi) Ilmu Hukum Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar webinar nasional dengan tema ‘Perspektif Hukum, Politik dan Lingkungan terhadap Pro dan Kontra Jurassic Park Pulau Komodo’ melalui aplikasi Zoom, Sabtu, (7/11).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh beberapa narasumber dengan latar belakang akademisi, praktisi, dan aktivis lingkungan. Di antaranya, Maskun, selaku Ahli hukum lingkungan Internasional dari Universitas Hasanuddin (Unhas) , Umbu Wulang selaku Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nusa Tenggara Timur (NTT), Irsyad Dhahri selaku ahli Hukum Lingkungan Internasional dari UNM dan kegiatan ini disambut oleh Dekan FIS UNM, Jumadi.

Direktur Walhi NTT, Umbu Wulang, menunjukkan sikap kontra terhadap investasi Jurassic Park Pulau Komodo dengan memaparkan dari perspektif lingkungan dan sosiokultural masyarakat yang akan terancam dengan adanya Jurassic Park ini.

“Selain masalah lingkungan dan terancamnya satwa di kawasan tersebut, ada juga permasalahan budaya dimasyarakat sekitar yang menganggap komodo sebagai nenek moyang atau bagian dari mereka, itu perlu kita pertimbangkan,” paparnya.

Dari perspektif hukum, Maskun, ahli Hukum Lingkungan Internasional Unhas menunjukkan juga sikap kontra. Ia mengatakan dengan disahkannya Undang-Undang (UU) Cipta Kerja berdampak pada investasi di Pulau Komodo.

“Dengan disahkannya UU tersebut, maka semakin memudahkan investor untuk melanjutkan proyek di sana,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Irsyad Dhahari yang merupakan ahli Hukum UNM juga memaparkan pandangannya dari perspektif parawisata. Menurutnya, aspek wisata dan turis harus dipertimbangan oleh Pemerintah.

“Harus kita pertimbangkan apakah wisata akan merubah masyarakat diwilayah tersebut atau merugikan mereka atau justru menguntungkan, kita tidak tahu, perlu lagi kita gali lebih dalam perspektif ini,” ujarnya.

Di akhir kegiatan, ketiganya menyetujui perlunya pendalaman masalah dari berbagai perspektif untuk menyelesaikan kerumitan masalah di Pulau Komodo.

“Permasalahan ini bukan hanya dilihat dari satu perspektif, banyak perspektif yang perlu kita kaji secara mendalam,” tambahnya. (*)

*Reporter: Imam Fikhran Ahsan TH / Editor: Anita Nur Fadhilah

Share and Enjoy !

0Shares
0 0