BEM FBS UNM saat aksi - Foto.Ist
BEM FBS UNM saat aksi - Foto.Ist

PROFESI-UNM.COM – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) yang tergabung dalam Aliansi Front Perjuangan Rakyat (FPR) menggelar aksi ‘Cabut UU (UU) Cipta Kerja (Ciptaker) dan Bebaskan Ijul dan Korban Salah Tangkap Lainnya’ yang berlangsung di depan kantor Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Makassar, Jalan Ahmad Yani. Senin, (2/11).

Aksi ini menuntut mengenai dua isu yaitu cabut UU Ciptaker dan lepaskan serta memberikan penangguhan terhadap Ijul. Dalam aksi ini BEM FBS UNM bergabung dengan beberapa aliansi, yakni Front Mahasiswa Nasional (FMN) cabang Makassar, Aliansi Gerakan Reformasi Agraria (AGRA) Makassar, Serikat Perempuan Indonesia (SERUNI) Makassar, Pemuda Baru (PEMBARU) Indonesia, Lembaga Badan Hukum (LBH) Makassar, dan beberapa aliansi lainnya.

Koordinator Lapangan (Korlap), Adrian Hidayat mengatakan bahwa mereka yang ditangkap ini merupakan korban salah tangkap yang tidak terlibat dalam aksi dan juga pembakaran tersebut.

“Kalo orang yang ditangkap itu masih ambigu karena pihak kepolisian melakukan pencidukan satu-persatu kepada mahasiswa, yang saya dengar ada 23 orang sekarang yang ditangkap, salah satunya ini yang paling signifikan penangkapannya yaitu kawan Ijul yang jelas-jelas tidak ikut dengan rombongan massa aksi dan dia juga tidak jelas-jelas ada pada saat aksi dan juga pembakaran tersebut,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa harapan aksi ini adalah Ijul bisa dibawa pulang, karena terjadi kesalahpahaman pada kasus tersebut.

“Capaiannya membawa pulang Ijul sesuai dengan surat penangguhan yang telah dikirim pada 28 Oktober kemarin, cuma terjadi kesalahpahaman dari koordinasi kepolisian yang mengatakan masuk suratnya, itu suatu kefatalan yang terjadi pada administrasi instansi tersebut,” jelasnya. (*)

*Dilansir dari : Estetika Pers

*Reporter: Kristiani Tandi Rani