Festival Rakyat menolak UU Cipta Kerja dan Omnibus Law, Jumat (16/10) - Foto.Elfira-Profesi
Festival Rakyat menolak UU Cipta Kerja dan Omnibus Law, Jumat (16/10) - Foto.Elfira-Profesi

PROFESI-UNM.COM– Festival rakyat aksi unjuk rasa yang dilakukan untuk menolak Omnibus Law dan Undang-Undang Cipta Kerja di Pertigaan Jalan Andi Pangeran Pettarani dan Alauddin, Jumat (16/10).

Serangkaian aksi jalan tidak hanya sekedar meluapkan amarah dan kekesalan. Politik jalanan sebagai ruang bersama untuk bertukar dan menyebar pengetahuan.

Rizki Angriana mengatakan, aksi penolakan Omnibus Law menyengsarakan buruh.

” Yang kita tuntut pembatalan secara keseluruhan karena Omnibus Law mengancam semua elemen kehidupan, semua kluster tenaga kerja, buruh, petani dan semua kluster-kluster itu saling berkaitan,” ujarnya.

Rizki menambahkan Undang-Undang Cipta Kerja tidak menciptakan lapangan kerja dan tambah memperparah kondisi rakyat Indonesia.


” Kita bisa membayangkan 79 Undang-Undang digabung tujuannya mengatasnamakan investasi nama saja menciptakan lapangan kerja yang sesungguhnya tidak menciptakan apapun,” katanya. (*)

*Reporter: Elfira

Share and Enjoy !

0Shares
0 0