tugas kelompok alex, lukman dan anggota lainnya - Foto.Int
tugas kelompok alex, lukman dan anggota lainnya - Foto.Int

PROFESI-UNM.COM – Pandemi Covid-19 yang terjadi di berbagai negara menyebabkan pemerintah membuat kebijkan baru terutama di bidang pendididikan. Pembelajaran yang dulu dilakukan secara tatap muka kini beralih menjadi belajar dari rumah. Kebijakan belajar dari rumah bukan hanya dilakukan di Indonesia saja bahkan di berbagai belahan dunia.


Aktivitas belajar dari rumah sangat mengandalkan teknologi dan telekomunikasi, beberapa di antaranya adalah gawai (hand phone), laptop dan yang paling penting adalah jaringan internet.
Berbagai metode belajar kini mulai diperkenalkan kepada public beberapa di antaranya adalah: Zoom, Google Form, Google Meet, Google Classroom dan TV. Semua itu digunakan untuk menjalin komunikasi antara guru dan murid dan sebagi upaya agar transfer pengetahuan tetap berlangsung.


Di situasi tidak nyaman seperti ini, bukan berarti proses pembelajaran jadi terbatas. Justru kita sebagai siswa dituntut mandiri dan lebih kreatif. Belajar tidak harus selalu bergantung pada guru bagaimanapun guru juga harus ada untuk mendampingi siswa sebagai fasilitator.


Beberapa yang beranggapan bahwa sekolah daring itu menyenangkan akan tetapi setelah berjalan muncullah beberapa kendala seperti ruang penyimpanan data tidak cukup, kuota internet yang cepat habis dan yang sangat penting yang harus menjadi perhatian adalah koneksi internet terutama yang tinggal di daerah pedesaan. Bahkan beberapa siswa tidak mengumpul tugas dan bahkan tidak mengikuti proses pembelajaran.


Bukan hanya itu pendidik juga harus kreatif dalam penyampaian pembelajaran melalui pembelaran daring. Pendidik juga perlu menyesuaikan jenjang pendidikan dalam penyampaian materi pembelajaran yang tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi seorang pendidik. Pola pikir yang positif diharapkan dapat membantu menerapkan media pembelajaran daring, sehingga menghasilkan capaian pembelajaran yang berkualiatas. Belajar dari rumah menggunakan media daring juga mengharapkan orang tua mengambil peran pada proses belajar anak.


Orang tua juga harus mengambil andil dalam proses pembelajaran daring ini, terutama bagi siswa SD, berhubung dengan penggunaan gawai yang tidak tepat dapat mempengaruhi pertumbuhan anak. Dalam proses pembelajaran daring, orang tua (entah ayah atau ibu) sebisa mungkin untuk dapat mendampingi sang anak, dikarenakan pembelajaran jarak jauh melalui daring butuh pendampingan bagi anak.


Pentingnya pendampingan orang tua dalam pembelajaran melalui daring yaitu untuk dapat meningkatkan semangat belajar anak ketika sedang melakukan pembelajaran melalui daring dan dapat meningkatkan keharmonisan antara anak dan orang tua.
Selain itu peran pendampingan orang tua juga sebagai guru pendamping apabila ada materi yang guru jelaskan, namun anak masih belum memahami. Sehingga dengan pendampingan orang tua, proses belajar pun akan semakin positif.


Pandemi Covid-19 ini bisa dikatakan sebagai sebuah batu loncatan dalam dunia pendidikan, baik pemanfaatan teknologi seiring dengan industri 4.0, maupun orang tua sebagai mentor. Harapannya, pasca pandemi Covid-19, kita menjadi terbiasa dengan sistem saat ini sebagai budaya pembelajaran dalam pendidikan. (*)

*Reporter: Kristiani Tandi Rani