Andi Juliandrie Abham, Mahasiswa Ilmu Administrasi Bisnis,Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Makassar (UNM), Rabu (9/9). Foto-Ist.

PROFESI-UNM.COM – Tiga kata yang selalu diperjuangkan, “Hidup rakyat Indonesia” dan dua kata yang selalu saja membuat kaki para penguasa bergetar, “hidup mahasiswa” serta satu kata yang selalu dan akan terus dikumandangkan jika ketidakadilan hadir di sekeliling kita,”Lawan.” Yah itulah deretan penyemangat dalam menjaga ritme sebuah gerakan di bawah panji perjuangan, gerakan atau bahasa yang dikenal banyak orang ialah demonstrasi merupakan sebuah gerakan secara nurani menuntut keadilan tanpa pamrih, bak pahlawan tanpa jasa, dimana sekumpulan orang yang masih memiliki nalar dan sumsum yang sensitif terhadap ketidakadilan di tengah masyarakat yang mayoritas memilih apatis. Posisi itu sangatlah menyebalkan bagi mereka yang menuntut keadilan dengan asas hasrat narsisme ataupun membutuhkan pamrih dari apa yang diperjuangankan, berbeda dengan mereka yang turun ke jalan memperjuangkan keadilan dengan asas kemanusiaan.

Dalam sebuah gerakan menuntut keadilan, tidak ada yang namanya tokoh-menokohkan karena di bawah panji perjuangan kita semua sama dalam tuntutan, tidak perlu mengistimewakan ataupun diistimewakan. Bahkan massa aksi tidak membutuhkan identitas atau embel-embel ormas, karena melawan rezim yang menindas kita semua sama rata dalam satu tuntutan, saling mengorganisir diri satu dengan yang lain, saling jaga agar tidak terprovokasi dan tidak dimonopoli oleh oligarki bajingan. Identitas dan sejenisnya hanya representasi dari tongkat estafet oligarki penguasa, sudah sangat banyak fakta menarik di negara ini, banyak  pemimpin ormas yang menggaungkan segala bentuk ketidakadilan demi sebuah penghidupan yang lebih layak lagi keesokan harinya.

Perjuangan bukan tentang siapa, bukan juga tentang kapan, perjuangan tidak mengenal masa, segala bentuk ketidakadilan wajib dilawan. Sloganisme dari Originalfought seakan tengah pudar dan telah berganti dengan nyanyian katak di musim penghujan, bak hujan di sore hari saat senja tengah menyapa dan mempertontonkan estetikanya, di saat itu juga kegelapan datang menutupi segalanya dan memaksakan menghabiskan malam di sebuah warung kopi di tengah kesunyian. Terkait dengan originalfought, telinga dan otak ini menolak lupa akan statement yang pernah terucap dan terdengar di telinga ini hingga membekas dalam ingatan, “duluanmi dinda, lewatmi masaku, kita tosseng.” (“duluan dinda, sudah lewat giliran saya, sekarang kita lagi.’) Yah, kalimat itu biasa tercipta di sekitaran massa aksi yang sedang berkumpul untuk melakukan sebuah demonstrasi, sebuah kalimat yang menurut saya adalah penggalan dari lirik nyanyian katak di musim penghujan. Apa perjuangan mengenal masa? Ketidakadilan dilawan karena benar-benar ingin menegakkan keadilan atau hanya sekedar menjalankan misi dari representasi jabatan di sebuah organisasi? Sangat konyol ketika alibinya memperjuangkan keadilan tapi nyatanya hanya sekedar menjalankan kewajiban dari tongkat estafet sebelumnya.

Menelisik tentang demonstrasi, acapkali ditunggangi oleh ormas rusuh atau sekolompok orang yang sedang berada di fase memantaskan diri untuk hari esok, dinamika tersebut bukan hal yang asing lagi tapi sudah sering terjadi ketika demonstrasi ada, biasanya ketika demonstrasi telah mencapai klimaks maka mereka hadir dengan dalil memperjuangkan tapi nyatanya sedang mempertontonkan kepiawaiannya sebagai oligarki sejati ke pantat-pantat penguasa. Alibi sebagai oposisi bagi penguasa tapi nyatanya mereka menjadi petahana bagi demonstran, bahkan sesuatu yang tidak asing lagi mereka mampu mengontrol demonstrasi tanpa memegang megaphone. Sebut saja sebagai orator tanpa megaphone, mereka sedemikian perkasanya mampu mengatur dan meracik segala strategi untuk satu tujuan, ibarat kalimat seorang chef yang ingin membuat nasi goreng dan ia  mampu menggabungkan bumbu nasi goreng dengan beberapa bumbu lainnya untuk membuat citarasa  penggorengan nasi menjadi lebih elegan dan berestetika.

Hal yang mendasar demonstrasi ditunggangi biasanya disebabkan kelalaian para demonstran dalam memperhatikan situasi dan kondisi di lapangan hingga penumpang gelap atau provokator rusuh berhasil masuk ke dalam barisan, hal yang lain juga dikarenakan beberapa demonstran menyadari hal tersebut tapi tidak bisa berbuat apa-apa disebabkan beking-bekingan mereka jelas dan terstruktur layaknya sebuah organisasi, organisasi yang bukan sembarang organisasi, tapi organisasi yang menganut paham fascist dan sistem feodalism. Meskipun begitu, tidak semua demonstrasi berhasil ditunggangi, ada yang hampir ditunggangi tapi para demonstran yang menyadari hal tersebut sesegeranya mengambil inisiatif merapatkan barisan, mengorganisir satu sama lain, mengatur strategi dan memukul mundur manusia – manusia setengah boneka tersebut.

Setiap perjuangan pasti memiliki visi dan misi yang beragam, biasanya terkonsolidasikan hingga membentuk sebuah gerakan yang masif. Dalam perjuangan, ketika visi telah terimplementasikan maka syukur dan berbanggalah mereka yang ikut serta dalam pergerakan, tetapi jika visi ditolak maka segera mungkin merapatkan barisan, mengevaluasi misi dan kembali melakukan pergerakan hingga visi terimplementasi sesuai dengan harapan, bukan tidak mungkin atau sesuatu yang mustahil, kemenangan itu akan diraih juga.

Kemenangan sendiri dalam pergerakan tidak hanya tentang tercapainya tuntutan, salah satu kemenangan kecil ialah dengan melawan sebagaiman statement bapak Pramoedya Ananta Toer “dengan melawan kita takkan sepenuh kalah.” Saat bendera perlawanan telah dikibarkan di medan perang maka satu langkah mundur adalah sebuah bentuk penghianatan, kalimat itu perlunya ditanamkan kepada benak seluruh manusia yang menyuarakan keadilan, jangan sampai mereka mundur di tengah peperangan atau menghilang tanpa jejak layaknya para aktivis 98 yang dihilangkan tanpa pelaku.

Analoginya seperti mengikuti sebuah kejuaraan  renang, sebelum bertanding tentunya telah dipersiapkan segala aspek untuk dapat memenangkan kejuaraan,  jika tidak dapat memenangkan kejuaraan setidaknya mampu menggapai garis finish, jangan karena lawan sudah jauh di depan, malah memilih berenang ke belakang atau menepi, tuntaskan pertandingan lalu kembali berlatih mempersiapkan diri untuk kejuaran selanjutnya. Konyol rasanya jika berhenti di tengah kejuaraan atau tenggelam tanpa jejak, it’s about resistance not crucifixion!!!. (*)

#antitokohmenokohkan #riporiginalfought #fuckoligarchy

#fascistban #fasisyangbaikadalahfasisyangmati #birokrashittt

*Penulis adalah Andi Juliandrie Abham, Mahasiswa Ilmu Administrasi Bisnis,Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Makassar (UNM)

Share and Enjoy !

0Shares
0 0