Muhammad Resky, mahasiswa dari Fakultas Teknik, Jurusan Pendidikan Teknik Mesin angkatan 2018, Rabu (8/7). Foto-Ist.

PROFESI-UNM.COM – Sejauh mata memandang, di sana lah batas penglihatan. Sebuah peristiwa tengah berlangsung, bahkan saat kita hanya memejamkan mata. Hingga hal yang tak disangka pun sering kali terjadi, seperti halnya Dokter Kesehatan, Terawan yang menjabat sebagai Menteri itu menyatakan akan mundur dari jabatannya. Sebab, Ia merasa gagal membendung kenaikan angka positif Covid-19 di negeri sendiri.

Siapa yang mampu menduga itu? Jabatan yang selama ini menjadi impian banyak orang, dilepas begitu. Seperti orang yang menolak berpacaran, dengan alasan yang luhur, “Aku tak pantas buatmu.” Tapi tentu saja, dan memang itu semua bisa terjadi ketika lagi tidur. Kenyataannya tidak seindah itu. Kini waktunya bangun woi.

Tulisan ini sebenarnya adalah pengembangan dari beragam tulisan cakar ayam, yang nggak kebagian tempat di blog. Mulanya hanya demi memenuhi tugas dari senior. Tapi, memang inspirasi suka datang semaunya saja, dan…terjadilah. Tulisan ini juga mestinya ditujukan bagi yang hobi nyari jawaban di google, mengenai apa peran sebenarnya jurnalis maupun media pers itu? Menurut jawaban sederhana saya, ia membangunkan orang dari mimpi. Bahkan memaksa melihat kenyataan meskipun sepahit melihat doi nikah.

Salah satu contohnya begini, baru-baru ini telah ditemukan sebuah obat yang mampu mengatasi masalah terbesar yang dihadapi era ini, yaitu kalung antivirus Corona. Ia dibuat dan akan diproduksi massal dibawah naungan Kementerian Pertanian, Syahrul Yasin Limpo.

Kalung berbasis Eucalyptus yang dikembangkan oleh Badan Peneliti Dan Pengembangan Pertanian tersebut diklaim mampu mengatasi penyebaran virus covid-19 yang masih melanda dunia saat ini. Baik, sebenarnya Eucalyptus itu cuma minyak kayu putih yang berganti nama saja, sama halnya arang yang nama lainnya Charcoal, juga kata pecat yang diganti dengan Reshuffle, biar kedengerannya keren gitu. Tapi, pergantian nama juga sebenarnya mampu membawa dampak besar, seperti penggunaaan kata nasi goreng, terkait soal harga, itu sebenarnya mampu melambung tinggi bila berganti jadi kata Fried Rice.

Mestinya para peneliti di negara maju akan merasa minder bila mendengar kabar itu.
Bisa anda bayangkan bagaimana Amerika, China, Arab, Jepang dan negara maju lainnya yang sudah susah-susah nyari obat covid-19. Bahkan mereka udah pakai teknologi canggih, tapi masih kalah jauh dari Indonesia.

Minyak kayu putih memang sudah lama ditemukan, bahkan sebelum pandemi melanda dunia. Kendari demikian, mengapa pemerintah tidak sedari dulu menyosialisasikan saja khasiat minyak kayu putih, bila itu memang ampuh menangkal covid-19? Dan, mengapa mesti membuang-buang anggaran demi minyak kayu putih yang dilabeli dan diberi bentuk baru saja ?

Sayangnya, itu semua masih dalam proses menuju kenyataan, yakni itu masih bertengker di alam mimpi. Minyak kayu putih yang harganya tak seberapa itu pada kenyataannya belum mampu mengatasi covid-19.

Menurut Guru Besar Fakuktas Farmasi UGM, Suwijoyo Pramono mengatakan bahwa eucalyptus memang diketahui mampu membunuh virus influenza dan corona. Tapi, ia menegaskan kembali bahwa virus corona yang dimaksud bukanlah SARS-COV-2 alias Covid-19.

Yaps, menurut kalian mengapa dari awal di temukannya gejala covid-19 yakni dari tahun 2019, WHO tidak pernah memberitahukan kalau minyak kayu putih sebenarnya ampuh menangkal virus tersebut? Apa kalian pikir para peneliti WHO itu sebenarnya orang-orang purba, hingga tak menyadari mujarabnya Eucalyptus itu? Memangnya untuk apa usaha mereka selama ini bila pada akhirnya, virus corona mampu ditaklukkan oleh yang namanya minyak kayu putih itu.

Jika semujarab yang dikatakannya, Australia yang notabennya Eucalyptus ditemukan di negara itu pun masih tetap menerapkan lockdown selama 6 pekan. Tapi, ya sudahlah mungkin saja peneliti dari negara kita memang yang paling unggul, persoalan riset-meriset Eucalyptus alias minyak kayu putih tersebut.

Ini hanya satu dari sekian banyak contoh, sebenarnya disinilah peran penting seorang jurnalis maupun media pers, ia mesti membangunkan kembali orang-orang dari mimpi, menyadarkannya bahwa sebenarnya itu hanyalah tipu daya yang meninabobokkan. (*)

*Penulis adalah Muhammad Resky, mahasiswa dari Fakultas Teknik, Jurusn Pendidikan Teknik Mesin angkatan 2018.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0